Senin, 14 Desember 2015

Muspra

                Hujan deras di luar terdengar sampai tempatku terbaring. Sedikit kupicingkan mata untuk mulai menyadari dimana keberadaanku. Kurasa tempat ini tidak asing, tapi berbeda. Lalu kubuka kembali lebih lebar. Ya, tempat ini tidak asing. Pandanganku melewati pintu kamar yang setengah terbuka. meyakinkanku lagi bahwa tempat ini memang rumahku. Pertanyaannya, sejak kapan aku berada di rumahku?
                Malas berpikir aku langsung turun dari tempat tidur. Melihat sekitar, masih meyakinkan diri. Di ruang tengah, terlihat ibu jongkok dan mengepel lantai yang basah. Aku spontan mendongakkan kepala. Oh, bocor.
                ”Buk, ada apa?” aku langsung bertanya.
                “Wes, ndak usah dipikir, Nang.” Ibu mengerti apa yang ingin aku tahu. Bukan tentang atap bocor tentunya.
                “Tapi aku gak mikir apa-apa, Buk.” Aku sama sekali tidak punya clue tentang teka-teki ini.
                “Bantu bapakmu aja itu lho, lagi angkut-angkut barang.” Ibu langsung mengusir rasa penasaranku.
                Spontan aku menengok. Pandanganku melewati pintu depan yang langsung membatasi ruang luar. Di sana, terlihat bapak sedang mengangkat barang-barang. Sepertinya aku kenal barang-barang itu. Di luar hujan, bapak tetap mengangkat barang-barang itu dari dalam mobil hitam. Entah mobil punya siapa. Aku mendekat. Masih ling-lung.
Ternyata ada mbakku berdiri di sana.
“Mbak, ada apa?” tanpa basa-basi selamat pagi aku langsung bertanya. Mungkin karena kita sering kongkalikong, dia akan bersedia menjelaskan. Tapi dia tidak serta merta menjawab, melirik ke arah ibu. Ibu menggeleng. Aku tahu tandanya. Lalu ia hanya menatapku prihatin sambil menggeleng.
Saat aku menengok lagi keluar, bapak sudah berjalan masuk. Mungkin barang yang diangkat sudah habis. Barang-barang itu bertumpuk di teras rumah. Jauh dari tampias.
“Pak, sudah habis?” aku bertanya menawarkan bantuan. Beliau mengangguk. Wajahnya sama susahnya. Kemejanya basah. Bergegas menuju kamar mandi.
Aduh, kenapa dengan semua orang disini? Muka susah, ditanya tidak menjawab. Aku jadi bingung.
-0-

Aku baru menyadari bahwa tadi itu senja ketika adzan maghrib terdengar. Walau agak aneh ketika wudhu. Tapi setelah itu menjalani rutinitas biasa, sholat berjamaah. Terlihat tatapan orang yang dibuat sewajar mungkin ketika melihatku, tapi sama sekali terlihat tidak wajar. Tadarus alquran hingga isya, sholat isya berjamaah. Jumlah orang lebih sedikit dan tatapan mereka sudah mulai terbiasa.
Makan malam
Sekarang aku yang berusaha bersikap biasa. Makan dengan lahap. Di tengah-tengah acara makan, terdengar suara salam dari pintu depan, lalu seorang lelaki masuk dengan kemeja dan tas jinjing. Mencium pipi mbak dan ikut duduk. Semua oang di meja itu terlihat biasa sebelum mereka melihat raut penasaran, dan tatapan minta penjelasan dariku.
Satu detik, dua detik, tiga detik…
“Hai Fasha, aku Haqi. Suami mbakmu.” Dia yang menyalamiku langsung. Satu kepingan puzzle terpasang. Tetap saja masih belum nampak gambar di puzzle itu.
Ibu mengisyaratkan agar cepat menyelesaikan makan. Butuh tiga puluh detik untuk mencerna kalimat dari lelaki yang mengaku bernama Haqi itu. Hei!! Mbakku sudah menikah. Apakah aku tertidur selama ini dan baru bangun tadi sore? Saat aku berwudhu aku merasakan ada hal aneh, ya! Ada brewok di wajahku. Sejak kapan aku punya brewok? Tubuhku juga sudah tidak sekurus dulu.
Rumah ini memang tidak asing, masih ada di dalam ingatanku, tapi sebenarnya ada perubahan di sana sini. Apa yang terjadi? Itu pertanyaan yang harus secepatnya dijawab.
Tapi ibu sudah melotot memintaku cepat menghabiskan makan.
Setelah semua selesai makan, mbak Faizah mengambil semua piring dan gelas kotor ke dapur. Semua orang –bapak, ibu, Mas Haqi masih tetap duduk di bangku masing-masing.
Mbak Faizah kembali duduk. Aku di ujung meja, jantungku berdebar. Antara siap dan tidak siap menerima penjelasan.
“Umurmu berapa, Nang?” itu pertanyaan yang aneh. 20 tahun, itu usiaku, seharusnya ibu tau itu. tapi forum ini seperti mengintrogasi anak kecil yang mencuri permen. Aku jadi ikut tegang.
“20.” Jawabku singkat.
Sekarang bukan tatapan prihatin yang terlihat di wajah mereka, melainkan senyum penuh perhatian dan kasih sayang. Masih belum tertangkap arah pembicaraan ini.
“Sekarang tahun berapa?” ibu memberi pertanyaan aneh lagi. sebenarnya ibu bisa melihatnya di kalender. Jelas-jelas ini akhir tahun 2015.
“2015.” Aku menjawab polos. Semua kembali tersenyum, mengerti seberapa penasaran yang aku derita.
“sekarang sudah tahun 2026. Coba lihat kalender di HP.” Bapak yang kali ini angkat bicara sambil menyerahkan HP-nya. . Satu puzzle lain terpasang.
Sek, sek. Umurku berarti 31 tahun?”
Semua orang mengangguk. Ibu langsung mengetahui kepanikanku.
“Sebelum bangun tidur tadi sore, Terakhir kali kamu lagi dimana?” ibu bertanya lagi dengan senyumnya.
-0-
Sudah tahun ke dua aku berada di pesantren ini. semua terasa baik-baik saja. Setiap hari belajar agama, mengaji, sholat berjamaah, selain itu juga berangkat kuliah setiap hari selasa hingga jumat. Setahun dua kali pulang kampung untuk melepas rindu dengan keluarga. Semua terasa benar-benar baik-baik saja.
-0-
“Sudah, Cuma itu yang kuingat.”
Semua orang di meja makan itu menghela napas.
“Kau siap mendengar cerita hebat ini?” Bapak bertanya hati-hati. “Sebenarnya dokter melarangnya.”
Dokter? Aku mengangguk. “Daripada aku penasaran seumur hidup dengan sebelas tahunku yang hilang.”
“Oke, kita mulai dari titik terakhir memori yang kau punya.” Ibu memulai penjelasan. “Sebelas tahun yang lalu, saat kamu masih menjadi santri di pesantren sana, semua memang terasa baik-baik saja. Orang rumah menanyakan kabar dua bulan sekali. Hingga di penghujung tahun 2015. Kamu ndak bisa dihubungi. Orang rumah merasa semua baik-baik saja. Mungkin kamu lagi sibuk. Itu salah kami kenapa tidak langsung bergegas menjengukmu di sana.
“Hingga pada tanggal 20 desember 2015, jam 9 malam. Ada yang mengetok pintu rumah ini. Laki-laki seusia denganmu. Faris, kenal?”
Aku mengangguk. Dia teman sekamarku.
“Kabar itu seperti bledeg menyambar di siang bolong. Ibu shock, semua orang di rumah ini juga. Dia bilang kamu sudah menikah. Usiamu baru 20 tahun bahkan.” Ibu mengambil napas sejenak. “Waktu itu ibu ndak tau mau sedih apa seneng. Sedih karena mikir kenapa kamu ndak ngabari. Atau seneng karena kamu sudah menikah.
“Tapi, Faris bilang. Kondisimu mengenaskan. Itulah kenapa dia rela jauh-jauh mencari alamat rumah kita yang plosok ini. Saat itu ibu sangat terimakasih sama anak baik hati itu. Dia bilang kamu jadi sering melamun, dipanggil ndak nyaut, disuruh makan ndak mau.” Ibu sudah terisak sekarang.
“Tanpa lama-lama, bapak langsung minjem mobil pak Haji Makmur. Malam itu juga berangkat ke pesantrenmu.” Sekarang bapak yang meneruskan, membiarkan ibu membersihkan ingus sejenak.
“Disana, kamu sangat kurus, tatapanmu kosong. Bapak ndak tahu kenapa sangat tiba-tiba kejadian itu. istrimu cantik, tapi kelakuannya ndak. Pas keadaanmu ngenes, dia sama sekali ndak ngurusi kamu. Bapak bertanya-tanya, apa benar istri idamanmu kayak gitu? Saat itu bapak sudah ngerasa ada yang ndak beres di sini”
Di luar, gerimis mulai turun lagi. mungkin sisa-sisa dari hujan tadi sore.
“Dia anak kyai, tapi kelakuannya ndak mencerminkan itu” Bapak berapi-api. “Mungkin karena kamu ngganteng, sholeh, berwibawa, dia jadi kepincut. Sudah berbagai cara tebar pesona kamu ndak ngelirik sedikitpun. Akhirnya, dia pakai cara yang tidak terpuji.” Nada suara bapak kini lirih. Ada kebencian menggantung di ujung katnya.
“Kamu dijebak. Anak kyai itu pintar banget bikin skenario. Dia juga tau kamu ndak mungkin mau digoda. Akhirnya dia bilang ke ayahnya, dia sudah dilecehkan. Memang ada bukti dia positif hamil. Ndak tau itu anak siapa.”
Aku masih terdiam. Menghela napas. Sungguh? Kenapa aku tidak berdaya?
“Pak kyai mengancam kamu untuk dilaporkan polisi. konsekuensinya, kamu bakalan drop out dari kuliah dan tentu mencoreng nama keluarga. Tapi seperti yang diinginkan putrinya, kamu ndak bakal dilaporkan kalau mau menikahi putrinya. Kyai tahu kamu masih kuliah. Dia bersedia nanggung hidupmu dan istrimu sampai kamu berpenghasilan. Kamu ndak mau ambil pusing. Bahkan ibu bapakmu ndak diberi kabar. Kalaupun kamu masih bisa mikir, sebenarnya kamu bisa tes DNA. Tapi kamu panik. Kamu langsung milih nikah.”
“Kamu mulai kehilangan akal sehatmu. Terkekang dalam ketidakbahagiaan. Nggantengmu ilang, ndak ada lagi yang bisa dibanggakan istrimu. akhirnya setelah tiga bulan menikah, dia minta cerai. Sakpenake udel!!”
Aku kaget mendengar nada bicara bapak yang meninggi.
“Akhirnya setelah resmi cerai, Kamu dibawa ke RSJ karena memang kondisimu mengenaskan. Kami orang rumah juga ndak sanggup ngurus. Disitu kamu diterapi.” Mbak Faizah kini yang bercerita. “Cukup lama kamu diterapi disitu. Sampai kami ndak punya harapan kamu bakal bisa jalani hidup secara normal.”
“Dokternya bilang, kamu bisa jalani hidup dengan normal, tapi dengan catatan memori sebelum kamu gila bakal kehapus. Dan kamu ngerasa kayak beberapa tahun dari hidupmu hilang.”
Aku diam. Semua ikut diam. Puzzle sudah hampir terselesaikan.
“Fasha,” Ibu memanggil. Aku masih diam
Semua orang di meja makan menjadi tegang. Setelah susah payah memori itu dihilangkan, kini dijelaskan lagi, takut aku kembali gila.
“Fas,” sekarang mas Haqi juga menepuk pundakku.
“Lalu,” akhirnya aku berbicara. Semua orang lega setelah menahan napas beberapa detik “mas Haqi dan mbak Faizah kapan nikahnya?”
“Setahun yang lalu. Kamu masih di RSJ.” Mas Haqi yang menjawab.
“Ooh.”
Sepertinya pertanyaan “Ada apa” ku sudah terjawab. Ada berbagai hal. Sekarang aku masih bisa melanjutkan hidupku. Sangat bersyukur tidak terkekang dalam ketidakbahagiaan. Sekarang, usiaku 31 tahun, masih bisa mencari pekerjaan dan hidup dengan normal. Aku masih berpikir, ternyata orang gila bisa sembuh. Bahkan aku tak tahu apa akhirnya jika akal sehatku tidak kembali lagi.

Kenangan buruk  tidak harus dihilangkan, jangan pernah meminta untuk dihilangkan ingatan masa lalu hanya untuk menghapus kesedihan. Jadikan itu tameng agar lebih kuat menghadapi masa depan.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Bulan Terbenam Seenaknya (1)



                Malam saat aku tulis cerita ini, tidak seperti malam-malam biasanya. Terlalu malas untuk memastikan bulan tetap menggantung di sana. Karena rutinitas melihat bulan sudah kulakukan sejak bahkan aku lupa kapan. Bulan sabit, bulan separo, bulan purnama, bulan berdarah, bahkan gerhana bulan. Dari bulan yang tidak dilihat banyak orang, hingga bulan yang mengundang ritual tertentu. Aku suka bulan apa adanya.
                Luna, seorang gadis kecil (umurnya tua tapi berbadan kecil) adalah temanku sejak pertama kali aku duduk di bangku kuliah. Dia bukan pemeran utama di kisah kali ini. aku yang jadi pemeran utama, sudah lama tidak mengambil jabatan itu. Oh iya, namaku Surya, meski wajahku tak secerah nama, tapi paling tidak doanya supaya aku bisa menyinari dunia. (Hmm)
                Kami bersahabat, menjalani hari demi hari di perkuliahan yang kejam bersama-sama. Yang terkadang mengundang kontroversi. Laki-laki, perempuan, berdua selalu bersama, apalagi kalau bukan pacaran dan berbagai istilah sejenisnya? Dan terkadang kami yang susah menjelaskan. Tapi setelah menelisik lebih dalam, akhirnya mereka sadar sendiri.
                Oke, clue kenapa kita selalu bersama adalah, Luna selalu tergantung kepadaku. Dia selalu minta diajari untuk membuat tugas, diconteki kuis, hingga pinjam uang sebelum saatnya. Yah, begitulah, Dia orang yang ceroboh, masabodo, bebas, dan malas. Tapi dalam lain hal, dia berkarakter, ambisius, bahkan menjadi orang yang sangat teliti.
                Aku, tentu saja aku adalah sahabat yang bisa diandalkan, rajin, taat aturan, suka menabung, dapat memenejemen waktu dengan baik. Tapi hubungan persahabatan kami bukan simbiosis parasitisme. Aku juga berhutang banyak hal padanya. seperti saat jenuh, dia selalu memotivasi “kalo lo males, gue mau bergantung sama siapa?” dan itu cukup membuatku termotivasi. (entahlah itu termasuk hutang atau tidak)
                Kebiasaan yang sering kulakukan adalah telentang di atap kosan, melihat bulan yang timbul tenggelam di balik awan. Sesekali aku ajak Luna jika memang sedang mengerjakan tugas bersama. Dan ini percakapan yang sempat terekam.
                “Lun, arti nama lo apaan sih?”
                “Bodoamat, apalah arti sebuah nama.”
                “Yaelah sama nama sendiri aja gak peduli”
                “Terus, kalo udah tau kenapa? Mau dibandingin sama nama lo yang ‘menyinari dunia’?”
                “Sewot amat sih, lagi pms lo?”
                Dia hanya menghela napas, keheningan mulai merebak, dan pandangan tetap tertuju pada bulan separo yang tetap timbul tenggelam di balik awan. “Lupa dari Bahasa mana, artinya bulan..” dengan volume suara yang menurun, membuatku bingung harus menanggapi apa. “Dan feeling gue gak enak kalo arti nama gue itu bulan.”
                Dia melanjutkan  “Bulan tu gak mandiri, harus dapet cahaya dari matahari cuma buat bersinar. Bulan tu gak punya pendirian, kadang sabit, kadang separo, kadang purnama. Bulan tu labil, terbit dimana, terbenam di mana. Gak kayak matahari yang jelas terbit di timur, terbenam di barat.”
                Semakin aku tidak tahu mau menanggapi apa. Tak pernah aku tahu dia memaknai bulan begitu kejam, tapi memang benar adanya.
                Kami habiskan malam itu dengan keheningan. Takut serba salah jika aku menanggapi. Apakah dia sebegitu iri dengan namaku? Toh itu hanya sebuah nama. Tapi jika disadari, kepribadianku mirip dengan matahari, dan dia mirip bulan dengan deskripsi miliknya. Entah bagaimana akhirnya.
                “Pasti bokap lo gak mikirin segitunya pas milih nama itu. bulan juga punya deskripsi yang positif, menerangi malam. Pusat perhatian di antara bintang-bintang, dan dia punya posisi penting pas musim lebaran (lihat hilal)” aku mulai berbicara setelah kupikir dan kutata rapi-rapi.
                Dia masih tetap hening.
           “Dan bulan gak harus minta cahaya matahari, matahari tetep bakal ngasih. Itu udah kodratnya.” Lanjutku.
                “Lo tau kenapa bulan kadang muncul di siang hari?” dia mulai angkat bicara.
                Aku menggeleng.
                “Karena dia pengen ngintip matahari” dia mengulum senyum kecil di ujung bibirnya.
                Aku masih tidak menangkap kode itu.
               Hening beberapa jenak. Aku tidak ingin ending seperti ini. Belum siap lebih tepatnya. Bulan yang selalu terbenam seenaknya, kini terbenam di hati sang surya.

                

Jumat, 21 Agustus 2015

Sarung Putih

Pernahkah teman-teman merasakan, bahwa sebuah pujian itu dapat membuat kita termotivasi? Itu amat baik jika kita ingin memancing anak kecil untuk berbuat baik. Simaklah terlebih dahulu kisah berikut.

Rama namanya, waktu itu ia duduk di bangku sekolah dasar kelas 6, atau mungkin kelas 5. Rama lupa. Pelajaran agama kali ini adalah latihan sholat. Mungkin sebelum kelas 5 teman-teman Rama sudah bisa sholat, begitu pula ia.Kemarin, Pak guru sudah menyuruh murid-murid untuk membawa sarung dan peci bagi yang putra, dan mukena bagi yang putri.

Rama bukanlah anak yang terpintar di kelas itu. Ia juga bukan anak termalas di kelas itu. Ia hanya anak yang biasa-biasa saja di kelas itu. Pak guru memasuki ruang kelas. Dengan sumringah, ia menyuruh murid-murid untuk segera berangkat ke masjid di dekat sekolah.

Seperti ingin melaksanakan sholat sungguhan, murid-murid secara reflek langsung mengambil air wudhu. Mungkin itu prosedur yang sudah ada di kepala mereka jika berangkat ke masjid.

Murid-murid yang nakal langsung mengambil sof paling belakang, menggambarkan posisi andalan mereka saat sholat jumat. Padahal sof paling belakang untuk putri. Pak Guru menyuruh mereka mengambil barisan depan. dan mereka beranjak dengan malas.

Setelah barisan rapi, Pak Guru menyuruh murid-murid untuk melaksanakan simulasi sholat 1 rakaat dan bacaannya semua dibaca keras bersama-sama. Kemudian murid-murid mulai dari niat. Dilanjutkan hingga salam.

Setelah itu, Pak Guru mengambil alih acara dan duduk di depan murid-murid seperti akan kultum yang dilakukan pada shalat tarawih di bulan ramadan.

Rama tidak ingat apa saja yang dikatakan Pak Guru. Yang ia ingat, Pak guru mendekatinya dan menyuruhnya berdiri, menghadap teman-teman. Kemudian Pak Guru berkata kurang lebih "Nah, lebih baik lagi jika sholatnya menggunakan peci putih, kemeja putih, dan sarung putih."

kemeja semua murid-murid berwarna putih karena hari selasa dan seragam sekolah berwarna putih. satu-satunya sarung di rumahnya yang pas dipakai hanya sarung putih, dan peci yang ia punya, andalan dipakai untuk mengaji juga peci putih itu yang ujung-ujungnya sudah kecoklatan. Rama tersenyum malu karena ketidaksengajaan itu.

Setelah itu, ia rajin sholat berjamaah di mushola dekat rumahnya. Dengan sarung motif jarik hitam dengan warna dasar putih, ia mengukir amal ibadahnya di waktu kecil.

Taukah teman-teman, amal kita sia-sia jika kita hanya ingin dipuji manusia, riya' namanya. Dan yang dapat menilai hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kini Rama sudah dewasa. Jika ia memilih untuk membeli sarung, ia memilih warna putih. Itu sudah menjadi warna favorit baginya. Bukan berarti ia menolak pemberian sarung yang warna-warni, ia tetap menerima. Tapi jika boleh memilih, Rama ingin sarung yang berwarna putih.

Apakah kisah Rama ini sama halnya dengan riya'? Contoh riya' adalah beramal untuk mencari pujian yang belum ia dapat. sedangkan Rama mendapat pujian tanpa perlu sengaja mencarinya. dan ia menjadikan itu sebagai motivasi dirinya untuk beramal.

Jika teman-teman memiliki ilmu lebih, mungkin bisa dibagikan lewat komen di bawah ini. Karena 'sampaikanlah ilmu walau satu ayat'.

Wallahu A'lam

Sabtu, 08 Agustus 2015

Media (Anti) Sosial

                Kita dapat memulai kisah ini dengan bangunnya seseorang dari tidurnya. Dengan alarm yang masih tetap berbunyi. Aku bermalas-malas menutup mukaku dengan bantal. Aku meletakkan HP ku di meja yang tak terjangkau tangan, sehingga aku harus berdiri untuk mematikan alarmnya. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna, aku mulai membenci lagu yang kujadikan alarm.
                Selanjutnya kita skip saja bagian di kamar mandi. Hari ini masih termasuk hari libur akhir tahun ajaran. Oh iya, aku adalah seorang siswa sekolah menengah atas. Tumbuh menjadi remaja, (entah mengapa remaja menjadi kata yang berkesan negatif. Tapi jika menggunakan kata pemuda akan terlalu kaku.) nah aku di antara keduanya. Yang akan aku bahas di kisahku kali ini adalah masalah keterkaitan kita dengan gadget yang membuat kita lebih pasif di dunia nyata.
                Orientasi narasi ini adalah adanya dua dunia yang kita alami. Yak, dunia nyata dan dunia maya. Keduanya sudah tidak asing di telinga bagi kita kan? Buktinya saja kamu membaca cerita ini dalam bentuk digital (yak arena belum ada yang bentuk cetakan). Dunia nyata itu bisa kita sentuh dengan indra kita, namun dunia maya hanya ada di layar-layar HP, leptop, dan lain-lain. Mestinya tidak usah dijelaskan juga kan? (tapi ini untuk memenuhi syarat jumlah kata yang terdapat dalam cerita)
                Mestinya ide cerita ini lebih ekspresif jika ditulis dalam bentuk komik, tapi aku tidak berbakat dalam hal itu. oke kita mulai saja ya.
                Facebook
Kalimat ‘What’s on your mind?’ menghiasi beranda tiap kali kita membukanya. Tentu kita merasakan sesuatu ketika berada pada aplikasi tersebut. Nah yang aku rasakan adalah seperti saat aku membuka jendela dan terlihat teman-teman (yang aku kenal dan sebagian besar tidak) melakukan aktifitasnya. Ada yang sedang gembira bersama teman-teman, sedih ditinggal pacar, otw, dll.
Bahkan kita tak bisa membaca semua postingan hingga menemukan postingan yang kita baca terakhir kemarin. Di kehidupan sosialku, amat jarang menemukan orang yang tidak punya akun facebook. Dulu ketika pertama masuk SMA, aku mendapati dua temanku yang tidak punya akun facebook. Tapi sekarang sudah punya. Jadi alumni SMA-ku 100% punya akun facebook. Entah itu membanggakan atau tidak penting.
Selain kabar-kabar tentang teman, facebook juga dihiasi dengan online shop, tulisan motivasi, persuasi, paragraf analitik, dan orang yang sedang belajar menulis puisi. Jangkauan facebook lebih luas, karena seperti yang sudah dijelaskan tadi, jarang ada orang yang tidak mempunyai akun facebook. Yang lebih penting lagi kita bisa sok akrab apabila ada orang yang kenal kita tapi kita tidak kenal.
Lebih enak buka facebook daripada keluar rumah dan bertemu orang secara langsung. Tapi menurutku facebook itu digunakan oleh orang-orang yang sedang nganggur atau dalam waktu luang. Sangat tidak efektif untuk mengabari hal yang mendesak.
Mereview facebook mungkin tak akan ada habisnya. Ah, teringat masa-masa alay karena memang ini adalah social media yang paling popular di era anak kelahiran 90an remaja. Foto-foto cupu yang tidak kita sadari dan malu ketika melihatnya kembali mungkin masih tersimpan di sana. Sebagian orang mungkin sudah tidak mengurusi akun facebooknya karena mungkin dianggap terlalu kuno dengan maraknya sosmed terbaru. Tapi, sebagian orang malas untuk ‘pindah rumah’ jika harus menghapus akun facebooknya.
Facebook = Halaman Sekolah
Kegiatan rutin setelahnya adalah menyirami tanaman kaktus kesayanganku, sebenarnya aku kurang paham apakah tanaman ini perlu disiram atau tidak. Tanpa tiba-tiba HP-ku berbunyi dan berbagai percakapan tidak penting muncul. Dan dengan bosannya aku tanggapi.

Whatsapp
Notifikasi dari aplikasi ini selalu menghiasi hari-hari kita kan? Berbeda dengan facebook, whatsapp terdiri dari bilik-bilik chat baik empat mata maupun banyak mata. Aplikasi ini menggunakan nomor HP untuk mengaksesnya. Dan nomor HP bersifat lebih privat, sehingga menjadikan whatsapp sebagai sosmed yang bersifat privat pula. Semua yang ada di kontak whatsapp bisa dipastikan kita mengenalnya.
Untuk fitur-fitur di dalamnya dapat dilihat di review-review di internet (bukankah ini juga internet?) oke, cari di artikel bersangkutan. Kisah ini mengisahkan hubungan manusia dengan sosmed, bukan review aplikasi.
Perasaan yang ditimbulkan ketika membuka aplikasi ini adalah seperti sekolah yang tidak memiliki halaman. Semua tanahnya digunakan untuk ruangan. Ada ruangan kelas, ruangan alumni smp, ruangan alumni sd, ada ruangan kelompok piket, ada ruangan kelompok ekstrakulikuler, dan sisanya ruangan untuk ngobrol empat mata.

Whatsapp = Sekolah Tanpa Halaman

Hari menjelang siang dan rasa-rasa bosan mulai menghampiri. Daripada bengong di sofa hanya bernafas dan garuk-garuk, lebih baik aku main Cookierun dan mengalahkan score yang lain.

Line
Hah, mungkin karena gamenya, aplikasi yang satu ini jadi digunakan banyak orang, (beberapa orang hanya ngespam ajakan bermain game). Tapi ini menjadi sosmed orientasi utama di HP-ku. Tiga hal yang mungkin bisa menjelaskan keunggulan Line adalah: Permainan, Stiker, dan.. oke dua saja ya.
Meskipun aku tak terlalu menyukainya karena terlalu ramai dan membuat HP lamban, tak bisa dipungkiri ini adalah sosmed yang paling efektif untuk memberikan informasi penting. Dan hal yang tak bisa dipungkiri lagi adalah, aku pernah menggunakan uang jajanku untuk membeli stiker di aplikasi ini, aku tahu itu tak dapat diterima bagi beberapa kalangan orang, tapi aku juga masih memikirkannya apakah itu wellspend.
Ketika berada dalam aplikasi ini aku merasakan seperti berada dalam satu sekolahan dengan halaman (ruangan adalah ruang chat, dan halamannya adalah timeline). Ramai dan banyak orang-orang yang berkoar-koar menggunakan toa dan mengajak orang lain untuk sepemikiran dengan mereka.
Line = Sekolah dengan Halaman dan Sedang Diadakan Pameran

Matahari sudah tergelincir ke barat, saatnya makan siang kemudian tidur siang.

Kakao Talk
Mirip dengan Line, tapi sepi. Jadi aku menghapus aplikasi ini.

KakaoTalk = Sekolah Sedang Libur

Menjelang sore hari, lebih baik mencoba jalan-jalan dan mencari udara segar, nah, di tengah alun-alun menemukan satu spot yang perfect untuk selfie.

Instagram
Menunggu notifikasi foto kita disukai menimbulkan sensasi tersendiri setelah mengupload foto. Foto selfie, foto pemandangan, foto pacar orang, foto meme, foto apa saja bisa diupload. Semua orang bisa menjadi fotografer, itu slogan yang aku ciptakan.
Menceritakan berbagai kisah hidupnya dengan berbagai foto yang ia alami, atau yang ia temui. Instagram identic dengan foto, tapi bisa juga untuk video. Nah untuk yang video ini aku kurang suka karena mengganggu ke-eksistensi-an aplikasi sebagai pengunggah foto.
Perasaan yang ditimbulkan adalah seperti mengunjungi galeri dengan berbagai foto. Kita bisa melewati saja bagian foto yang tidak  menarik, tapi bisa memberikan apresiasi untuk foto yang menarik dengan menekan ikon <3
Instagram = Galeri Foto

Path
Kurang paham juga dengan aplikasi yang satu ini karena aku belum mengunduhnya. tapi sepertinya lebih mementingkan lokasi pengguna.
Path = Jalan-jalan

Menjelang malam, saatnya istirahat dari semua kepenatan siang hari (yang tidak melakukan apa-apa). Menonton tv, di pojokan layar televisi muncul nama orang yang muncul, dengan awalan karakter @, sudah tidak asing lagi itu akun apa.

Twitter
Nah, yang satu ini adiknya facebook, tapi aku masih belum mahir menggunakannya. Terlalu banyak kata-kata tidak efektif yang membingungkan seperti: RT, favorite, @fulan, #something, dan notifikasi seperti itu tercampur dalam home, membuatku memutuskan untuk menghapus aplikasi itu. banyak yang menggunakan sosmed ini. Semua artis  sepertinya punya akun twitter. jadi intinya twitter lebih official dan jarang ada akun-akun palsu.
Perasaan yang ditimbulkan ketika aku membuka aplikasi ini adalah seperti mambaca koran halaman iklan kecik. Terpaksa membaca apa yang tidak ingin dibaca. Dan lebih banyak link-link yang membuat bingung.
Twitter = Ocehan Burung yang Mengganggu Tidur Siang

Menjelang jam tidur, semakin ramai broadcast di sosmed, dan obrolan dari hal yang penting hingga yang tidak layak dibicarakan.

BBM
Menurutku BBM lebih terkesan luxury. Kehadirannya di android menjadikan aplikasi ini menjadi seperti anak pindahan dari luar negeri. Terdapat ruang chat, dan notifikasi oleh pengguna lain di feed.
Berada di aplikasi ini menimbullkan kesan berada pada apartemen mewah. Terdapat jendela yang memungkinkan untuk melihat tetangga sedang melakukan apa.
BBM = Apartemen Mewah dengan Jendela Terhubung ke Semua Tetangga.

Dan masih banyak social media yang mungkin tidak disebutkan di sini, seperti vine, snapchat, dan lain-lain. Satu hari sekali minimal kita membuka aplikasi-aplikasi tersebut. Ironi memang. Entah sejak kapan kita memulai tradisi ini, tapi itu sudah menjadi kegiatan rutin.
Menjadikan kita lebih berorientasi ke dunia maya daripada dunia nyata. Sudah banyak media seperti video, artikel, atau bahkan komik yang menggambarkan fenomena seperti ini. entah berlebihan atau tidak, kita tidak bisa menilai. Kita hanya bisa menilai diri sendiri apakah jadwal rutin sosmed tersebut membuat kita lebih produktif atau sebaliknya.
Kisah anak SMA ini menggambarkan berbagai kejanggalan yang sudah dianggap lumrah di jaman modern seperti ini. Nah, jika ingin mengujinya, ayo lakukan offline challenge. Hanya dengan menonaktifkan sambungan data dari ponsel kita dan mengerjakan kegiatan seperti belajar, menyapu, mencuci, dan kegiatan kreatif lainnya. Tanpa perlu memposting untuk memulainya, juga tanpa mengupload hasil kerja kita setelah melakukannya.


Bagaimana menurutmu sosmed-sosmed itu bagi kehidupanmu?

Sabtu, 01 Agustus 2015

Insomnia

                Di bawah lampu  temaram hampir tengah malam, ia masih terjaga. Seluruh tubuhnya menolak untuk diajak beristirahat sejenak. Tentu saja otak yang mengambil alih keheningan malam itu.
                Pernah ia baca postingan di salah satu media social, seseorang memiliki tiga wajah. Satu ditunjukkan kepada public, satu ditunjukkan kepada orang terdekat, dan satu hanya untuk ia sendiri.
                Dua tiga detik hanya diam menatap langit-langit kamar tidurnya. Benaknya kosong. Detik keempat ia menyesal telah minum kopi instan tadi. Detik kelima ia menyesal telah tidur siang. Detik keenam ia menyesal telah menghabiskan baterai handphonenya.
                Tinggallah ia bersama keheningan yang tak tahu kapan berakhir.

                Wajah pertama atau sikap pertama, selalu terkontrol oleh sesuatu yang disebut hubungan social. Melakukan hal ini karena orang-orang melakukannya, tidak melakukan hal itu Karena itu akan membuat kita dibenci, tidak melakukan hal ini karena itu tidak pernah dilakukan orang sebelumnya, melakukan hal itu agar orang-orang menyukai kita. Semua tergantung persepsi ‘orang-orang’.
                Wajah kedua atau sikap ke dua tidak terlalu terkontrol, lebih sesuai kehendak hati, namun masih mempertimbangkan reaksi dari objek. Yaitu orang-orang terdekat. Melakukan hal ini karena aku menyukainya, tidak melakukan hal itu karena dia membencinya, melakukan hal itu karena dia menyukainya, tidak melakukan hal ini karena aku membencinya.
                Wajah ketiga, tak seorangpun yang mengetahui kecuali kita sendiri. Melakukannya sesuka kehendak hati. Di sinilah rahasia yang ada di dalam hati setiap manusia.

                Langit-langit tidak bergerak, bola matanya yang bergerak kian kemari. Lalu ia membanyangkan semua perilaku selama ini.
                Lalu ia berpikir untuk menerbitkan Buku Panduan Menjadi Manusia. itu yang terlintas di benaknya saat ini. tapi ia yakin ia tak akan pernah bisa. Karena panduan hanya bisa dibuat oleh yang menciptakan. Yang paling mengerti kelebihan dan kelemahan ciptaannya.
                Entah buku itu ada kaitannya dengan wajah-wajah tadi atau tidak, ada pertanyaan yang menggelitik. Apakah manusia diatur oleh otak, atau adakah yang mengatur otak manusia untuk berpikir? Kadang kita tidak tahu apa yang tiba-tiba akan terlintas dua tiga detik setelah detik ini. kemudian dia tersenyum. Menyadari bahwa sebenarnya kita tidak bisa membaca pikiran kita bahkan satu detik yang akan datang.
                Memasuki jam-jam kritis memang menyebalkan. Ia menyesal lagi telah meminta kopi sisa kakaknya karena tidak puas dengan segelas kopinya. Berpikir tentang hal-hal bodoh yang tidak penting untuk dipikirkan.
                Sampai detik ini, belum ada tanda-tanda perintah dari otaknya untuk mengistirahatkan tubuh. Kemudian ia berpikir lagi. banyak hal-hal dari tubuh kita yang bahkan belum teruraikan. Seperti, kapan kita bisa tertidur, maksudnya kita tidak dapat memprediksi secara akurat berapa detik kita akan tertidur setelah memejamkan mata. Dan itu tidak penting untuk dipelajari di pelajaran biologi atau fisika.
                Ia menyadari, matanya sudah begitu lelah untuk terbuka. Dan tidak nyaman ketika ditutup. Hal yang paling menyebalkan ketika amnesia adalah ketika otak membayangkan ada benda-benda tajam menusuk mata, membuat mata membuka dan memastikan tidak ada apa-apa. Ia berpikir apakah hanya dia yang merasakan hal itu. (Bahkan sudah tidak mampu membedakan insomnia  dan amnesia)
                Kemudian dalam benaknya ia bertanya-tanya, benak itu terletak dimana? Apakah di dalam dada, atau di kepala. Kemudian bertanya-tanya apakah hati benar-benar merasakan emosi cinta kasih sayang dan lain-lain? Bukankah ia hanya menyaring darah, atau apalah. Dokumen pelajaran biologi dalam kepalanya sudah usang dan ‘not responding’.
                Kemudian ia memikirkan hal yang bahkan ia akan berpikir kembali untuk menanyakannya kepada orang lain. Apakah ini wajah ketiga yang disebutkan media sosial tadi? Berfikir hal-hal yang hanya ada di dalam kepala sendiri.
             Kemudian ia mulai menutup mata, membayangkan hal-hal indah. Padang rumput, kupu-kupu, matahari cerah. Nah, sekarang biasanya dia akan tertidur, merangsang otaknya masuk dalam dunia mimpi.
                Gagal.
                Ia tetap tidak bisa tertidur, mungkin dia harus mematikan lampunya. Matanya mulai bisa tidak berkontraksi, mengistirahatkan diri. Kemudian ia merasa ada sesuatu di atas lemari. Detik berikutnya ia menyesal tadi menonton film horror. Membuka mata, terlihat siluet-siluet yang terbentuk dari ketidak jelasan mata memandang dan memori-memori hal yang mengerikan. Menutup mata, kembali terlihat memori-memori hal yang mengerikan. Ia menyalakan kembali lampunya. Kini ia mulai putus asa. Lapar terasa.
                Dia terduduk, dan menghela nafas kecewa. ‘Tuhan, hilangkanlah kesadaranku untuk malam ini, dan kembalikan esok hari’. Kemarahan dan kekecewaan dalam diri mulai mengendur. Kini ia berpikir sebaiknya mematikan lampu atau membiarkannya menyala. Ia kembali menghela nafas. Merepotkan sekali. Ia bangkit berdiri. Mendapatkan ide. Menutup sebagian lampu agar tidak menyilaukan matanya. Ia mencari isolasi dan selembar kertas. Tak sulit mendapatkannya. Setelah merealisasikan idenya, ia kembali berbaring. Berusaha tidak memikirkan apapun. Tapi itu mustahil. Ia menghampiri handphonenya. Angka di sebelah lambang baterai adalah 64%. Mencabutnya memasang earphone. Mengatur playlist ‘somewhere’ yang membuatnya membayangkan berada dalam tempat yang indah. Kembali berbaring. Kembali menghela nafas dan membaca doa

                Insomnia: berakhir

Minggu, 21 Juni 2015

Laa Tahzan

Bismillah

08xx: Assalamualaikum

Waalaikumsalam,

08xx: Kaifa Haaluk?
(Apa kabar)

Khoir, Alhamdulillah. Siapa ya?

08xx: Waduh, temen lama dilupain

Ya maaf, nomernya belum ke-save.

08xx: Umam..


Seperti itu, pertama kali aku dihubungkan kembali dengan kawan lama. Cukup lama ia meunggu balasan chat ku karena sedikit confetti di dalam tubuhku baru saja meletup.

Masya Allah. Apa Kabar Sup?

Umam: Alhamdulillah.

Kembali hening. Terlalu banyak rentetan pertanyaan yang ingin sekali aku lontarkan. Tapi entah mengapa aku menahannya. Synopsis singkat dari temanku yang satu ini, dia penasehat pribadiku. Selalu mengkoreksi kehidupanku. Menjadikan aku lebih baik dari hari ke hari selama aku bersamanya.

Umam: Wah bingung mau ngomong apa

Wahaha, iya sama

Umam: Lagi ngapain? Awkward banget

Lagi puasa..
Ya iya lah bulan puasa ini

Umam: Sibuk ngapain sekarang?

Kuliah aja sih, biasa
Kau sendiri?

Umam: iya biasa lah, di apotek

Hafalan quranmu sampai mana?

Umam: sepertiga alquran Alhamdulillah..

Qulhu?

Umam: -.-

Wahaha.. subhanallah, masih bisa bertahan

Umam: loh, emangnya kau kenapa?


Susah, stuck. Masih aja 2 juz, entah masih atau malah berkurang
Umam: yaah, ayo lanjutkan dong..

Susah cuy. Banyak godaan,

Umam: misalnya?


Misalnya nih, kan banyak kegiatan di kampus,
otomatis kalo mau ngeluangin waktu,
ya harus hafalan di kampus.
Takut dikira riya buka-buka alquran di kampus

Umam: Astaghfirullah, gak gitu juga lah

Entah. Kehidupan sosial kayak mengatur banget

Umam: Innamal A’malu binniyat

Iya Mam, paham. Tapi susah,
dikira sok alim lah. Dll

Umam: be yourself

Speechless

Umam: itu takut dikira riya atau alasan gamau hafalan?


Seperti biasa, dia langsung menembakkan peluru itu. membuatku bungkam seketika.

Mam, kamu liat iklan setan itu gak?

Umam: yang nyuruh posting amalan-amalan di medsos?

Yap. Setelah liat iklan itu aku jadi
kayak mikir dua kali buat beramal

Umam: misal?

Kan ini bulan puasa. Misal mau ngingetin buat tadarus,
Takut orang mikir ‘wah iya, iya, anak alim udah tadarusan’

Umam: jadi kau bisa baca pikiran orang sekarang?

Mam, seriusan ini.. -.-

Umam: pertanyaanku juga serius. Jawab lah~

Ya enggak sih. Dugaan aja.

Umam: kau tuh mengkhawatirkan apa yang tidak perlu dikhawatirkan

Solusi?

Umam: jalani aja. Yang nilai amal kita tuh Allah bukan manusia

Hmm..

Masih ngganjel

Umam: okay. Kau setuju kalo adzan di masjid gak pake pengeras lagi?

Ya enggak lah. Tanda-tanda kiamat itu

Umam: soalnya muadzinnya gamau dikira riya

Ya nggak gitu juga lah Mam.

Umam: Paham?

Iya paham pak ustadz

Double strike


Umam: kau tahu kenapa sholat subuh, maghrib sama isya bacaannya jahr. Kalo dhuhur ashar bacaannya sirr?

Tau, but idk why

Umam: mungkin, mungkin nih ya gatau bener apa engga. Mungkin memang amal itu ada kalanya kelihatan, ada kalanya enggak

masuk akal sih..

Umam: :)


Bulan Ramadan, kita diperintahkan untuk perbanyak amal. Dan barang siapa yang mengingatkan orang lain untuk beramal, maka ia diberi pahala sebesar pahala orang yang melaksanakan tanpa mengurangi pahala sedikitpun dari yang melaksanakan
Sama halnya jika kita memberi makan 1 orang untuk berbuka puasa, maka kita mendapat pahala 1 kali puasa tanpa mengurangi pahala orang itu.

Umam: innamal A`malu binniyat. Sesungguhnya amal itu tergantung
niatnya.
Mam, masih ada yang ngganjel.
Masih ada kaitannya, tapi gatau.
Eh, nggak jadi deh

Umam: wkwk Dasar.

Carilah sahabat yang bisa membuatmu lebih baik.
Jangan cari sahabat yang sempurna, kau tak akan mendapatkanya. Cobalah kau rangkul dan menjadikannya lebih baik.
Hindari perdebatan, meskipun kau berada di pihak yang benar. Jika memang diperlukan, carilah kebenaran, bukan pembenaran.

Mungkin memang realita kehidupan bahwa urusan agama di jaman ini sudah terlalu tabu. Not judging, tapi memang begitu keadaannya. Baca alquran di tempat umum aja malu, ninggalin urusan dunia buat sholat jamaah aja bilangnya nanggung, mengingatkan untuk kebaikan takut dikira riya. Wajar saja kalau pemerintah mulai melarang baca alquran di masjid pakai toa, nyuruh yang puasa hormatin yang gak puasa. Yang membuat ribet urusan ini sebenarnya umat islamnya sendiri. Disitu ada dua hal yang saling bertolak belakang dan membuat bertanya-tanya. Sebenarnya kita mau melunturkan sendiri keislaman kita, tapi tidak mau jika orang lain melunturkannya. Padahal hasilnya sama.
Ini bukan pidato pro pemerintah. Berkaca. Mulai dari diri sendiri. Hidupkan kembali keislamanmu. Dan katakan ‘Isyhaduu bi annaa muslimun’

Umam: malaikat pencatat amal tidak akan pernah dzolim. Allah Maha Mengetahui apa yang ada pada hati manusia.
                So, Laa Tahzan

;) quote of the day

Umam is typing…


Wallahu A`lam

Kamis, 11 Juni 2015

Tujuh Belas



25 Februari 2013
Hari ini, sebulan kurang sebelum usiaku benar-benar tujuh belas tahun. Detik-detik sebelum aku dianggap dewasa. Aku tak memikirkan mengapa tujuhbelas yang menjadi patokan, mengapa tidak enambelas atau duapuluh. Aku memikirkan bahwa masa kanak-kanakku sebentar lagi akan berakhir. Aku, tentu saja tidak mempunyai ide untuk menghabiskan sisa masa ini untuk memuaskan diri menjalani hidup sebagai kanak-kanak.
Tak perlu panjang lebar. Cerita ini tentang sebuah pertanyaan yang muncul di kepala-ku. Pertanyaan yang memaksaku untuk menuliskannya disini: ‘Apa yang sudah kau lakukan untuk negeri ini?’. Jujur, itu pertanyaan yang membuat akhir usia 16-ku tak karuan.
            Mari kita tinjau kehidupanku di masa kanak-kanak.
            “Pasti gagah kalau kamu jadi polisi.” Kata ibu. Usiaku tigabelas. aku hanya diam. Tidak mengiyakan, juga tidak menolak. Aku tahu menjadi polisi memang keren. Hidup mujur dan sejahtera. Tapi, melihat kenyataan pada umumnya bahwa ‘gaji’ polisi tak hanya dari pemerintah membuatku mual jika mendengar profesi yang satu ini.
            “Kayak mas Dika yang sekarang sudah mapan.” Ibu melenjutkan. Aku tahu mas Dika memang sudah mapan sebagai polisi. Dan aku yakin seratus persen dia tak seperti polisi pada umumnya yang gajian di pinggir jalan.
            Entahlah, paradigmaku tentang polisi sudah terdoktrin begitu buruk. Imejnya di mataku sudah terlalu jelek. Aku tak punya gambaran bagaimana kehidupanku selanjutnya jika aku memilih menjadi polisi sejak saat itu. aku masih terlalu labil untuk mengerti hal-hal seperti itu.
            “Kalau kamu sekolah di SMK, kamu akan cepat dapat pekerjaan.” Pakde yang saat itu mengatakan itu padaku. Memang aku ingin sekali masuk SMK, sepertinya masa depanku terlihat lebih cerah. “Kamu nggak perlu jadi dokter.” Pakde sudah tahu bahwa aku sangat anti dengan profesi itu juga. aku masih diam, memainkan bolpoin, membiarkan garis-garis yang aku buat terdiam tak terselesaikan. “Nanti kerjamu cuma mbuat ramuan obat. Kayak mbak Desti.” Sekali lagi saudaraku menjadi sampel.
Aku belum bisa mengambil keputusan. Saat itu usiaku 14 tahun, kelas 3 SMP, saat bingung-bingungnya mencari sekolah tingkat selanjutnya yang cocok.
Entah mengapa saat itu paradigmaku tentang perguruan tinggi juga buruk. Kuliah hanya menghambur-hamburkan uang sementara pekerjaan bukan jaminan. Banyak sarjana-sarjana yang kesana kemari mencari pekerjaan. Dan itu sudah cukup untuk menambah koleksi film hororku.
SMK menjadi  pilihanku saat itu. sepertinya hidupku setelah itu cerah, mendapat pekerjaan dengan mudah tanpa mengeluarkan banyak uang. Tapi ayahku berpendapat lain.
“Kamu harus kuliah.” Itu perkataan beliau. “Kamu anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini. mau jadi apa kalau tidak kuliah, ha?” Nadanya biasa saja, tapi perkataan itu berhasil menusuk. Dan pernyataan yang lebih menusuk adalah bahwa aku tidak boleh masuk SMK. Mungkin beliau takut jika aku masuk SMK dan terlalu asik hingga mendapatkan pekerjaan, aku tidak mau melanjutkan ke perguruan tinggi.
Menjadi pharmacist tidak, masuk SMK tidak.
Waktu kecil, aku senang melihat orang menggambar. Tentu itu membuatku juga otomatis suka menggambar. Tapi cita-cita pertamaku adalah menjadi astronot. Untuk anak usia tujuh-delapan tahun itu menjadi cita-cita yang wajar. Usia sepuluh aku merubah cita-citaku. Saat itu aku tahu, menjadi seorang astronot tak begitu asik. Aku ingin menjadi guru, entah guru apa. Figurku saat itu adalah ayah. Tapi, saat melihat kertas-kertas menumpuk di rumah, dan buku-buku yang begitu banyak. Aku menelan ludah untuk tetap bersikukuh menjadi guru.
Waktu kecil juga, aku senang menulis. Menulis apa saja, puisi, cerita aneh, dan apa saja yang bisa pensilku torehkan di atas kertas dari buku yang sudah jelek. Ibu salah mengambil kesimpulan bahwa aku anak yang kutu buku. Jelas-jelas aku tidak membaca, tapi menulis. Mungkin lebih kece kalau dipanggil rayap buku (?). Tapi aku belum menemukan cita-cita yang cocok denganku.
Masalah semakin rumit saat aku memasuki usia-usia SMA. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan. Sebenarnya aku sudah menyesuaikan dengan minat dan bakatku. Ini dia list cita-citaku saat masuk SMA.
Sejarawan. Tak tahu pasti apa yang dilakukan seorang sejarawan. Aku hanya menyukai sejarah. Menyenangkan menguhubungkan cerita-cerita dari berbagai sumber. Sejarah paling favoritku adalah sejarah kejayaan islam di eropa. Aku masih bertanya-tanya bagaimana bisa peradaban di suatu wilayah yang jaya, kini tak dianggap bahkan dibenci di tempat itu. selain itu, sejarah merupakan guru terbaik. Kita bisa mendapatkan kesuksesan di masa depan jika kita mau meninjau ke belakang dan menemukan letak kesalahan atau mengulangi cara yang bisa membuat sukses. Tul, gak? Itu alasanku mencintai sejarah.
Nominasi kedua, Seniman. Walaupun juga aku tak tahu persis apa yang dilakukan seorang seniman. Aku mencintai seni, baik seni rupa atau seni musik. Tentu saja akan lebih menyenangkan jika kita mempunyai pekerjaan yang kita sukai ketika melakukannya. Aku pernah membaca kata seorang yang terkenal, tapi aku tidak kenal. Beliau menyatakan ‘Jika kau mencintai pekerjaanmu, maka setiap hari adalah hari libur’. siapa yang menolak untuk itu?
Nominasi ketiga adalah arsitek. Sepertinya dari ketiga jenis pekerjaan, yang ini lebih jelas apa yang dilakukan. Aku memilih sebagai arsitek karena tentu saja keren. Tapi bukan itu tujuan utamaku, aku ingin menjadi arsitek karena terlalu banyak bangunan yang tidak layak huni yang pernah aku tempati. Dan aku akan bekerja keras untuk membuat orang yang menempati bangunan itu nyaman dan jauh dari rasa tidak betah. Aku juga ingin membuatkan orang tuaku rumah, ingin sekali.
26 Februari 2013
Berganti ke topik lain. Jika kita melihat negeri ini, sekilas, ataupun lama-lama. Negeri ini sudah terlalu mengerikan untuk dikatakan negeri. Sebenarnya aku tak sekejam itu untuk mengatakan hal sejujurnya. Tapi, memang itu kenyataannya.
Jika kita ditanya apa simbol negara ini, banyak menjawab: bali, monas, bineka tunggal ika. Kukatakan, itu semua memang benar, tapi kurang tepat. Simbol dari negara ini adalah: miskin dan bodoh. Aku juga tak akan tega mengatakan itu jika aku tidak mencintai negeri ini. itu kata dari dalam hatiku karena tentu saja aku sangat mencintai negeri ini.
Aku bahagia saat mengetahui bahwa Indonesia pernah mencapai masa keemasannya, saat-saat semua rakyat hidup makmur dan sejahtera. Tapi, kejayaan itu palsu. Ya! Palsu. Semua tertutupi dengan sistematis dan cerdik. Saat semua rakyat begitu bahagia, ternyata hutang tiap-tiap jiwa tak sebanding dengan semua yang didapat. Dan, siapa yang menanggung semua itu? tentu saja anak-cucu penerus bangsa. Sekali lagi, aku tak akan sepedas itu jika aku tak mencintai negeri ini.
Oh, iya. Simbol lain dari negeri ini adalah sampah. Negara mana yang terkenal dengan tempat sampah terpanjang? Mana lagi kalau bukan Indonesia? Sampah-sampah menghiasi tiap lekuk sungai di berbagai daerah. Aku tak tahu jika memang ini peranku sebagai pemuda (yang saat ini belum resmi, artinya masih dianggap kanak-kanak sampai beberapa hari ke depan) harus bagaimana menanganinya. Paradigma-paradigma rakyat negeri ini sudah begitu kolot. Mereka sudah tahu kalau membuang sampah di sungai atau tempat tidak semestinya akan menyebabkan banjir. Dan walaupun seribu kali banjir bandangpun tidak akan merubah itu. sudah menjadi tradisi dan mendarah daging.
Pernah aku memikirkan bahwa satu-satunya jalan untuk memperbaiki negeri ini adalah dengan memusnahkan seluruh rakyatnya dan menanamkan budi pekerti untuk rakyat yang baru. Itu karena terlalu frustasinya aku. Aku juga tak yakin jika negeri ini masih berpotensi untuk memperbaiki diri.
Aku sangat-sangat iri pada negeri-negeri di luar sana yang jalanannya bersih. Tak ada kulit pisang berserakan, apalagi bungkus permen. Aku juga ingin memiliki negeri seperti itu. Tapi, bagaimana bisa? Aku di Indonesia ini tak sendirian. Lebih banyak orang yang menginginkan hidup seenak udel sendiri.
Aku juga percaya bahwa peran pemuda sangat penting. Tapi, dimana pemuda-pemuda itu? entahlah, tak mungkin juga aku melakukan perubahan ini sendirian.
Ya! Indonesia perlu sebuah perubahan. Sesuatu yang memaksa rakyat Indonesia berubah, mencabut semua kebiasaan lama dari akar-akarnya. Lalu negeri ini akan terhindar dari satu masalah yang dari dulu tak terpecahkan. Jika aku menjadi presiden negeri ini, aku akan membuat kebijakan bahwa orang yang membuang sampah akan dikenakan denda sepuluh kali lipat dari harga benda itu. (hati-hati saja yang suka jajan silverquin).
27 Februari 2013
“Kalo ada yang nawarin, aku juga pengen, tauk!” Anjas merespon pernyataanku terlalu bersemangat. Aku hanya mengatakan bahwa aku ingin pergi ke luar negeri.
“Hey! Biasa aja. Aku ke luar negeri tu mau mempelajari gimana negeri itu bisa indah makmur sejahtera. Terus, aku akan menerapkan itu di negeri ini.” Kataku pada Anjas. Istirahat sekolah, kami berdua mengobrol ringan di pojok kelas.
“Haih, ngarep! Emangnya apa yang bisa kamu harapin sama negara ini? gak ada.” kata-kata putus asa seperti yang Anjas katakan itu terlalu sering aku dengar. Aku hanya bisa menelan ludah saat pemilik negeri ini saja sudah muak dengan negerinya sendiri.
“Aku juga udah tahu. Tapi, kamu mau terus menerus hidup di negeri yang kayak gini? itu juga sebabnya kamu mau ke luar negeri? Iya, kan??” aku balik menyerangnya. Dia hanya nyengir kuda. Percakapan tidak berlanjut sampai bel masuk pasca istirahat berbunyi.
“Taukah anak-anak sekalian dimana daerah luar jawa yang pernah menjadi ibu kota negara?” Pak Syukri bertanya di tengah jam pelajaran. Sejarah. Apa lagi? pelajaran favoritku. Semua siswa yang tengah sibuk menulis gambar, eh, tulisan (tak jelas mana gambar mana tulisan) menoleh ke arah guru itu. tentu saja mereka kaget. Memang pernah ada? Untuk anak jaman sekarang sedikit mustahil mengetahui hal-hal yang terjadi puluhan tahun silam. Anak jaman sekarang terlalu masa bodoh.
“Batavia!” seorang anak menyeletuk sekenanya.
“Ya?” Pak Syukri memastikan. Menoleh ke arah suara, tapi tak menemukan mulut siapa yang mengeluarkan bunyi itu. Sang pemilik suara tadi enggan memperjelas suaranya. Mungkin dia mulai ragu. Sementara aku menahan tawa.
“Pak, Ibukota negara pernah bergantian di lima tempat, kan?” aku mencoba menambah petunjuk.
“Ya?” Guru itu menoleh ke arah suara. Aku mengulangi pertanyaanku. Lalu beliau menjawab “Eh, bukan. Itu istana negara, Majid.” Pak Syukri berhenti sejenak. Namun air mukanya kecewa. “Tapi sebenarnya istana negara ada enam.  Memang banyak orang tidak menyadari bahwa tempat ini pernah menjadi ibu kota. Yaitu di Bidar Alam, Sumatera Barat, dekat Bukit Tinggi.” Ia berhenti sejenak, membiarkan murid-murid menyerap apa yang dia katakan terlebih dahulu. “Saat Belanda menyerang Yogyakarta, Sukarno dan Hatta memilih ditangkap daripada bergerilya bersama Jendral Sudirman.
“Motif Belanda licik sekali. Saat itu tahun 48. Belanda tidak mau mengakui adanya NKRI. Sehingga melancarkan serangan itu. namun Hatta tak semudah itu dibodohi. Dia mengirim telegram kepada Syafrudin di Bukit Tinggi untuk membangun pemerintahan darurat di sana. Namun, telegram itu tak sampai ke Syafrudin. Karena Belanda juga menye-rang Bukit Tinggi. Akhirnya Syafrudin dan teman-temannya, termasuk Jendral Sudirman bergerilya untuk menghindari serangan Belanda.
            “Karena terdesak, mereka atau yang lebih dikenal dengan PDRI mendiami Bidar Alam cukup lama, Syafrudin membangun pemerintahannya di situ. Disana ada istana negara, ada bank sentran indonesia, ada juga radio nasional yang sangat berperan dalam pemberitahuan bahwa NKRI, masih ada sampai sekarang. Radio itu menginformasikan bahkan sampai New Delhi dan New York. Bangunan-bangunan disana masih kokoh berdiri.
            “Karena Sukarno sudah dilepas, maka Syafrudin diminta untuk bergabung bersama kabinet-kabinet republik di Yogyakata. Dan Berakhirlah masa jabatan Bidar Alam sebagai ibu kota republik dalam kurun waktu tiga bulan.”
            Dan, sayang sekali bel sudah berdering sebelum aku sempat mengacungkan tangan untuk bertanya. Terpaksa harus kusimpan sampai minggu depan. Berbagai hal berkelebat dalam benakku usai pelajaran sejarah kali ini.
            Aku membayangkan bahwa aku ada disana, saat Sukarno dan Hatta diculik, saat PDRI bergerilya, aku membayangkannya. Betapa sulit pahlawan-pahlawan nasional memperjuangkan negeri ini, dan apa yang anak cucu mereka perbuat untuk membalas jasa mereka? Aku tak berani melihat jika salah satu diantara pahlawan negara itu mengetahui dan memergoki apa yang Anjas katakan tadi. Nyawa Anjas di ujung tombak.
            Pak Syukri meninggalkan kelas setelah sebelumnya mengucapkan salam.
            28 Februari 2013
            “Nggak usah repot-repot jadi presiden kalo kamu cuma pengen merubah negara ini.” Anggit sok dewasa menasehatiku. Respon atas keputusanku yang aku deklarasikan beberapa menit yang lalu. Kami bertiga duduk di bangku taman, melihat ke kolam datar yang sesekali bergerak permukaannya karena gerakan ikan.
            “Tapi, tetep aja presiden yang paling ngaruh.” Aku tetap bersikukuh.
            “Iya juga sih,” anggit mematahkan argumennya sendiri, kini aku tersenyum bangga. Anggit adalah sepupu Anjas. Meskipun mereka dekat satu sama lain, dan medhok solonya juga sama, mereka berbeda terhadap satu hal. Anggit suka pete, Anjas suka jengkol. Aku tak mau ikut campur mengenai itu.
            “Emang kamu mau ngapain aja kalo jadi presiden?” Anjas kini angkat bicara, terbawa suasana percakapan. Biasanya dia hanya mengatakan hal-hal tidak penting dalam hidupnya, dia sama sekali tidak tertarik terhadap sesuatu yang serius. Dan pertanyaannya di siang bolong ini membuatku melongo kurang lebih tiga detik.
            “Pertama, aku mau mbuat kebijakan: orang yang membuang sampah sembarangan akan dikenakan denda sepuluh kali lipat dari harga benda itu.” aku sudah memikirkannya sejak lama. Aku berfikir, ini sangat-sangat akan membuat jera masyarakat yang membuang sampah sembarangan. “Aku juga akan mempertinggi gaji tukang sampah.” Mungkin itu juga bisa membuat sampah-sampah tidak berkeliaran.
            “Tapi, ntar kalo orang-orang jadi tukang sampah semua gimana?” Anjas bicara. Nah, pertanyaan-pertanyaan dari mulutnya sebetulnya semacam ini.
            “Ya gajinya jangan tinggi-tinggi sampe ngalahin gaji PNS lah. Paling enggak si tukang sampah itu bisa hidup layak.” Aku menjawab.
            “Wah, kalo suruh mbayar sepuluh kali lipat, kasian yang beli silverquin, dong.” Kata Anggit. Dan itu sama dengan apa yang aku bayangkan sejak awal. “Tapi biasanya yang beli silverquin kan kaya-kaya dan terpelajar, mereka nggak mungkin buang sampah sembarangan.” Anggit menjawab sendiri pertanyaannya. “Dan kalopun miskin, bungkusnya pasti disimpen, terus pamer ke temen-temennya kalo dia bisa beli ssilverquin. Haha”
            Kami tertawa beberapa detik.
            “Terus yang kedua apa?” Anggit bertanya saat tawa mulai menghilang di atmosfer.
            “Apanya?” aku bingung.
            “Kebijakanmu kalo jadi presiden.” Dia tak sabaran.
            “Oh,” aku mengangguk-anggukkan kepala. Mencari-cari kata di kepalaku. “aku lupa.” Jawabku santai. Membuat kecewa. “Tapi aki masih ingat yang ketiga.” Wajah-wajah kembali cerah. “Aku mau mindahin ibukota negara.” Selesai bicara, senyumku mengembang. Oang-orang melongo beberapa saat.
            “Tapi ntar ekonomi di jakarta awut-awutan.” Seseorang keberatan.
            “Lama-lama juga pasti bisa nyesuaiin. Nggak ada yang instan di dunia ini.” aku kembali tersenyum, merasa puas dengan jawabanku.
            “Ada kok, mie instan sama kopi instan.” Kata orang yang lain. Dan itu sedikit membuat mentalku jatuh. Mental Breaker.
            “Ya, Em, ma, masa.. masalahnya, kerugian sama keuntungannya lebih banyak keuntungannya. Jakarta nggak banjir lagi, nggak ada pemukiman kumuh, nggak ada juga gelandangan di kolong jembatan.” Aku bicara perlahan, membela diri. Mengumpulkan puing-puing harga diri yang berserakan. “Dan tak ada lagi kebodohan dan kemiskinan. Cemoohan terhadap negeri ini akan enyah! Indonesia akan memulai hidup yang baru!! Menjadi negara yang bisa dibanggakan!!!” tanpa disadari, aku sudah berdiri di bangku taman mengepalkan tangan.
            Orang-orang bertepuk tangan. Tak kusangka juga obrolan kami menarik perhatian banyak orang yang lewat. Suara tangan yang ditepuk membumbung ke atmosfer. Hingga aku salah tingkah. Tersenyum sangat aneh dan menunggu orang-orang itu pergi. Aku nyengir kepada Anjas dan Anggit yang menutupi muka masing-masing dengan telapak tangan.
            Aku tak memikirkan separah apa lagi selanjutnya.
3 Maret 2013
Aku adalah Majid. Pelajar yang sangat mengharapkan perubahan pada negeri ini. walaupun aku tak yakin aku bisa melakukannya. Setidakanya aku mencoba. Setragis apapun endingnya, aku tak akan kecewa. Karena memang terlalu sulit problema yang dihadapi. Berusaha. Banyak usaha yang dilakukan orang-orang di muka bumi ini adalah sia-sia. Dan tak perlu disesali, karena itu adalah suatu proses. Aku memikirkan banyak hal hari ini.
“Pagi yang sejuk.” Ayah berkata tanpa menoleh. Kami sekarang sedang santai bersepeda. Melewati jalan-jalan yang masih sejuk ranpa polusi. Kegiatan yang rutin aku lakukan bersama ayah di hari minggu. Setelah matahari mulai terasa membakar kulit, biasanya kami berhenti di taman kota. Di bawah pohon beringin yang rimbun, aku bercakap-cakap dengan ayah. Tentang banyak hal.
“Hm.” Aku hanya mengangguk. Tentu dengan senyum karena merasakan setiap oksigen yang masuk ke dalam lubang hidungku.
Setelah cukup lama berkeliling, kami duduk-duduk di taman. Bangku diatas permadani rumput ekstra besar. Sepi. Hanya ada tukang sapu. Aku tersenyum, mengingat ideku menaikkan gaji tukang sampah dalam pidato kampanye kemarin. Memang keterlaluan teman-temanku yang berkumpul disitu atau aku yang berlebihan, tak tahu. Tapi setelah kejadian itu, aku sering disindir di kelas. Terlalu sering malah. sudah tiga hari. dan sindiran itu tak kunjung ada pertanda untuk enyah. -3-
“Pak Presiden, kamu udah mikir ambil jurusan apa buat kuliah?” dan apa lagi ini? ayah juga ikut-ikutan memanggilku pak presiden.
Bermula dari Anjas dan Anggit, kedua sepupu itu sering meledekku dengan menirukan kata-kataku waktu insiden itu jika mereka main ke rumahku. Ibu penasaran, mereka dengan senang hati menceritakan semua-muanya. Tanpa diminta, ibu bercerita ke semua anggota keluarga. Dan aku hanya bisa diam di pojokan.
“Em, belum yakin, Yah.” Aku menjawab ringan. Sudah terbiasa dengan panggilan itu. “Tapi,” aku menggantungkan kelimatku. Kini ayah menatapku. Tapi apa?. “Tapi, kayaknya aku minat ke arsitektur.”
“Oh, arsitektur.” Ayah manggut-manggut. “Keren, ntar kamu jadi insinyur.”
Oh, menurutku, gelar adalah efek samping dari apa yang kita pelajari. Bukan sesuatu yang kita tuju. Dan bagi orang yang bergelar tapi tanpa ilmu? Tentu saja dia tetap tidak berguna. Tetap lebih baik orang yang berlimu tanpa gelar. Dan aku tak berminat pada gelar-gelar itu. Bukan munafik. Walaupun memang dunia ini lebih percaya dengan gelar-gelar apalah.
“Lapar?” ayah bertanya kemudian. Matahari sudah mulai meninggi. Tapi kendaraan yang berlalu lalang tak seramai hari senin pada jam yang sama. Minggu pagi yang sejuk sudah berakhir.
Aku mengangguk. Beranjak mengikuti langkah ayah yang sudah siap dengan sepedanya. Sarapan buatan ibu pasti sudah menunggu.
4 Maret 2013
Senin pagi, aku berangkat sekolah. Tak terlalu jauh, tapi aku ingin mencoba berjalan kaki menuju sekolah. Sepertinya menyenangkan menikmati perjalanan. Dan konsekuensinya aku harus berangkat lebih pagi. Mandi, sarapan, menyetrika seragam, mengerjakan peer, semua dilakukan dengan singkat.
Sesampai di perempatan, ada sesuatu fenomena yang membuatku sadar. Kulihat perempatan tak seperti biasa. Terdengar suara peluit dari sana. Jarakku sekarang sekitar tiga puluh meter dari sana. Belum jelas apa yang terjadi. Saat aku mulai dekat, aku sadar lampu rambu lalu lintas mati, dan seseorang berompi hijau mencolok disana sudah mengatasi masalah ini.
Aku jadi sadar, ternyata polisi tak semuanya seperti apa yang aku bayangkan. Dan aku malu sendiri kepada beliau yang di tengah perempatan. Sepagi ini, beliau sudah bertugas. Dan memang kendaraan yang berlalu-lalang sudah sangat ramai. Aku tersenyum kali ini. satu presepsi baru.
Senin pagi. Upacara bendera. Setelah pengibaran bendera, dilanjutkan dengan amanat dari pembina upacara. Kepala sekolah sudah berdiri di tengah lapangan, dengan panggung kecil tanpa podium.  Meski aku akui, untuk mendiamkan seribu kurang sedikit (998) siswa memang cukup sulit. Jadi, karena aku berada di barisan belakang. Hanya sedikit pesan yang tersampaikan.
Tapi yang sedikit itu, aku akan mengingatnya semampu ingatanku. Kurang lebih seperti ini:
“Siswa-siswi dari jurusan agama, ips, bahasa, dan ipa, dan apapun jurusan lainnya  mungkin tidak ada di sekolah ini harus konsisten dengan apa yang telah dipilih. Menjadi apapun kalian kelak, pastikan kalian berguna. Baik bagi orang yang terdekat, keluarga, masyarakat, bahkan bagi negara.”
Itu satu paragraf yang aku akan ingat. Akan kucamkan dalam hati. Dan sepertinya aku mempunyai misi baru. Yaitu menyampaikan kepada teman-teman yang tidak mendengar amanat ini. Tapi ada satu paragraf lagi dari pak pembina upacara yang bisa aku dengar.
“Profesi apapun yang kalian geluti kelak, kalian juga harus konsisten. Tetap menjaga kejujuran. Jujur adalah kata yang hampir hilang di bumi.  Berjanjilah kalian yang akan mempertahankannya.”
Setelah mendengar itu aku seperti menemukan jawaban atas pertanyaanku.


9 Maret 2013
Di jam istirahat.
“Aku tahu, jadi presiden emang gak gampang.” Seperti biasa aku di pojok kelas bersama Anjas dan Anggit.
“Terus?” Anjas tak sabar.
“Sebenarnya kita bisa jadi apa aja buat memperbaiki negeri ini, nggak harus presiden.” aku meneruskan.
“Kok bisa?” Anggit sekarang yang bertanya.
“Kalian tuh banyak tanya.” Respon atas pertanyaan yang sebenarnya mereka sudah tahu bahwa aku akan menjawabnya. “dengan begini: apa aja pekerjaan kita ntar, kita pastiin kita udah ngelakuin hal yang baik.” Sulit sekali menjelaskannya, aku memilih kata dengan hati-hati.
“Cuma itu?” Anjas bertanya lagi. sebelum sempat aku mengambil nafas
“Ya, sifat cuma dua. Baik dan buruk. Kata baik udah mewakili. dan juga berani menjadi pelopor perubahan. Gak perlu nyuruh-nyuruh orang buat ngelakuin itu kok, cuma biarin aja orang meniru” Aku tak mau marah-marah hanya karena Anjas banyak tanya. Baca: kepo. “Dan, kalian tahu? Indonesia jadi kayak apa setelah itu?”
“Berubah dengan sendirinya?” Mereka berdua hampir serentak.
“Exactly! Bisa dimulai dengan kita.”
Dan sekarang kurasakan atmosfer mendadak memanas. Mata dua kerabatku itu berapi-api. Tantangan besar menunggu di depan mata. Banyak yang harus kita lakukan. Seperti kata-kata orang, masa depan negeri ini ada di genggaman kita.
Dan besok usiaku genap tujuhbelas.

☻☻☻
NB: cerita ini hanya fiksi belaka