Sabtu, 01 Agustus 2015

Insomnia

                Di bawah lampu  temaram hampir tengah malam, ia masih terjaga. Seluruh tubuhnya menolak untuk diajak beristirahat sejenak. Tentu saja otak yang mengambil alih keheningan malam itu.
                Pernah ia baca postingan di salah satu media social, seseorang memiliki tiga wajah. Satu ditunjukkan kepada public, satu ditunjukkan kepada orang terdekat, dan satu hanya untuk ia sendiri.
                Dua tiga detik hanya diam menatap langit-langit kamar tidurnya. Benaknya kosong. Detik keempat ia menyesal telah minum kopi instan tadi. Detik kelima ia menyesal telah tidur siang. Detik keenam ia menyesal telah menghabiskan baterai handphonenya.
                Tinggallah ia bersama keheningan yang tak tahu kapan berakhir.

                Wajah pertama atau sikap pertama, selalu terkontrol oleh sesuatu yang disebut hubungan social. Melakukan hal ini karena orang-orang melakukannya, tidak melakukan hal itu Karena itu akan membuat kita dibenci, tidak melakukan hal ini karena itu tidak pernah dilakukan orang sebelumnya, melakukan hal itu agar orang-orang menyukai kita. Semua tergantung persepsi ‘orang-orang’.
                Wajah kedua atau sikap ke dua tidak terlalu terkontrol, lebih sesuai kehendak hati, namun masih mempertimbangkan reaksi dari objek. Yaitu orang-orang terdekat. Melakukan hal ini karena aku menyukainya, tidak melakukan hal itu karena dia membencinya, melakukan hal itu karena dia menyukainya, tidak melakukan hal ini karena aku membencinya.
                Wajah ketiga, tak seorangpun yang mengetahui kecuali kita sendiri. Melakukannya sesuka kehendak hati. Di sinilah rahasia yang ada di dalam hati setiap manusia.

                Langit-langit tidak bergerak, bola matanya yang bergerak kian kemari. Lalu ia membanyangkan semua perilaku selama ini.
                Lalu ia berpikir untuk menerbitkan Buku Panduan Menjadi Manusia. itu yang terlintas di benaknya saat ini. tapi ia yakin ia tak akan pernah bisa. Karena panduan hanya bisa dibuat oleh yang menciptakan. Yang paling mengerti kelebihan dan kelemahan ciptaannya.
                Entah buku itu ada kaitannya dengan wajah-wajah tadi atau tidak, ada pertanyaan yang menggelitik. Apakah manusia diatur oleh otak, atau adakah yang mengatur otak manusia untuk berpikir? Kadang kita tidak tahu apa yang tiba-tiba akan terlintas dua tiga detik setelah detik ini. kemudian dia tersenyum. Menyadari bahwa sebenarnya kita tidak bisa membaca pikiran kita bahkan satu detik yang akan datang.
                Memasuki jam-jam kritis memang menyebalkan. Ia menyesal lagi telah meminta kopi sisa kakaknya karena tidak puas dengan segelas kopinya. Berpikir tentang hal-hal bodoh yang tidak penting untuk dipikirkan.
                Sampai detik ini, belum ada tanda-tanda perintah dari otaknya untuk mengistirahatkan tubuh. Kemudian ia berpikir lagi. banyak hal-hal dari tubuh kita yang bahkan belum teruraikan. Seperti, kapan kita bisa tertidur, maksudnya kita tidak dapat memprediksi secara akurat berapa detik kita akan tertidur setelah memejamkan mata. Dan itu tidak penting untuk dipelajari di pelajaran biologi atau fisika.
                Ia menyadari, matanya sudah begitu lelah untuk terbuka. Dan tidak nyaman ketika ditutup. Hal yang paling menyebalkan ketika amnesia adalah ketika otak membayangkan ada benda-benda tajam menusuk mata, membuat mata membuka dan memastikan tidak ada apa-apa. Ia berpikir apakah hanya dia yang merasakan hal itu. (Bahkan sudah tidak mampu membedakan insomnia  dan amnesia)
                Kemudian dalam benaknya ia bertanya-tanya, benak itu terletak dimana? Apakah di dalam dada, atau di kepala. Kemudian bertanya-tanya apakah hati benar-benar merasakan emosi cinta kasih sayang dan lain-lain? Bukankah ia hanya menyaring darah, atau apalah. Dokumen pelajaran biologi dalam kepalanya sudah usang dan ‘not responding’.
                Kemudian ia memikirkan hal yang bahkan ia akan berpikir kembali untuk menanyakannya kepada orang lain. Apakah ini wajah ketiga yang disebutkan media sosial tadi? Berfikir hal-hal yang hanya ada di dalam kepala sendiri.
             Kemudian ia mulai menutup mata, membayangkan hal-hal indah. Padang rumput, kupu-kupu, matahari cerah. Nah, sekarang biasanya dia akan tertidur, merangsang otaknya masuk dalam dunia mimpi.
                Gagal.
                Ia tetap tidak bisa tertidur, mungkin dia harus mematikan lampunya. Matanya mulai bisa tidak berkontraksi, mengistirahatkan diri. Kemudian ia merasa ada sesuatu di atas lemari. Detik berikutnya ia menyesal tadi menonton film horror. Membuka mata, terlihat siluet-siluet yang terbentuk dari ketidak jelasan mata memandang dan memori-memori hal yang mengerikan. Menutup mata, kembali terlihat memori-memori hal yang mengerikan. Ia menyalakan kembali lampunya. Kini ia mulai putus asa. Lapar terasa.
                Dia terduduk, dan menghela nafas kecewa. ‘Tuhan, hilangkanlah kesadaranku untuk malam ini, dan kembalikan esok hari’. Kemarahan dan kekecewaan dalam diri mulai mengendur. Kini ia berpikir sebaiknya mematikan lampu atau membiarkannya menyala. Ia kembali menghela nafas. Merepotkan sekali. Ia bangkit berdiri. Mendapatkan ide. Menutup sebagian lampu agar tidak menyilaukan matanya. Ia mencari isolasi dan selembar kertas. Tak sulit mendapatkannya. Setelah merealisasikan idenya, ia kembali berbaring. Berusaha tidak memikirkan apapun. Tapi itu mustahil. Ia menghampiri handphonenya. Angka di sebelah lambang baterai adalah 64%. Mencabutnya memasang earphone. Mengatur playlist ‘somewhere’ yang membuatnya membayangkan berada dalam tempat yang indah. Kembali berbaring. Kembali menghela nafas dan membaca doa

                Insomnia: berakhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar