Di
bawah lampu temaram hampir tengah malam,
ia masih terjaga. Seluruh tubuhnya menolak untuk diajak beristirahat sejenak.
Tentu saja otak yang mengambil alih keheningan malam itu.
Pernah
ia baca postingan di salah satu media social, seseorang memiliki tiga wajah.
Satu ditunjukkan kepada public, satu ditunjukkan kepada orang terdekat, dan
satu hanya untuk ia sendiri.
Dua
tiga detik hanya diam menatap langit-langit kamar tidurnya. Benaknya kosong.
Detik keempat ia menyesal telah minum kopi instan tadi. Detik kelima ia
menyesal telah tidur siang. Detik keenam ia menyesal telah menghabiskan baterai
handphonenya.
Tinggallah
ia bersama keheningan yang tak tahu kapan berakhir.
Wajah
pertama atau sikap pertama, selalu terkontrol oleh sesuatu yang disebut
hubungan social. Melakukan hal ini karena orang-orang melakukannya, tidak
melakukan hal itu Karena itu akan membuat kita dibenci, tidak melakukan hal ini
karena itu tidak pernah dilakukan orang sebelumnya, melakukan hal itu agar
orang-orang menyukai kita. Semua tergantung persepsi ‘orang-orang’.
Wajah
kedua atau sikap ke dua tidak terlalu terkontrol, lebih sesuai kehendak hati,
namun masih mempertimbangkan reaksi dari objek. Yaitu orang-orang terdekat. Melakukan
hal ini karena aku menyukainya, tidak melakukan hal itu karena dia membencinya,
melakukan hal itu karena dia menyukainya, tidak melakukan hal ini karena aku
membencinya.
Wajah
ketiga, tak seorangpun yang mengetahui kecuali kita sendiri. Melakukannya
sesuka kehendak hati. Di sinilah rahasia yang ada di dalam hati setiap manusia.
Langit-langit
tidak bergerak, bola matanya yang bergerak kian kemari. Lalu ia membanyangkan
semua perilaku selama ini.
Lalu ia
berpikir untuk menerbitkan Buku Panduan Menjadi Manusia. itu yang terlintas di
benaknya saat ini. tapi ia yakin ia tak akan pernah bisa. Karena panduan hanya
bisa dibuat oleh yang menciptakan. Yang paling mengerti kelebihan dan kelemahan
ciptaannya.
Entah
buku itu ada kaitannya dengan wajah-wajah tadi atau tidak, ada pertanyaan yang
menggelitik. Apakah manusia diatur oleh otak, atau adakah yang mengatur otak
manusia untuk berpikir? Kadang kita tidak tahu apa yang tiba-tiba akan
terlintas dua tiga detik setelah detik ini. kemudian dia tersenyum. Menyadari
bahwa sebenarnya kita tidak bisa membaca pikiran kita bahkan satu detik yang
akan datang.
Memasuki
jam-jam kritis memang menyebalkan. Ia menyesal lagi telah meminta kopi sisa
kakaknya karena tidak puas dengan segelas kopinya. Berpikir tentang hal-hal
bodoh yang tidak penting untuk dipikirkan.
Sampai
detik ini, belum ada tanda-tanda perintah dari otaknya untuk mengistirahatkan
tubuh. Kemudian ia berpikir lagi. banyak hal-hal dari tubuh kita yang bahkan belum
teruraikan. Seperti, kapan kita bisa tertidur, maksudnya kita tidak dapat
memprediksi secara akurat berapa detik kita akan tertidur setelah memejamkan
mata. Dan itu tidak penting untuk dipelajari di pelajaran biologi atau fisika.
Ia
menyadari, matanya sudah begitu lelah untuk terbuka. Dan tidak nyaman ketika
ditutup. Hal yang paling menyebalkan ketika amnesia adalah ketika otak membayangkan
ada benda-benda tajam menusuk mata, membuat mata membuka dan memastikan tidak
ada apa-apa. Ia berpikir apakah hanya dia yang merasakan hal itu. (Bahkan
sudah tidak mampu membedakan insomnia
dan amnesia)
Kemudian
dalam benaknya ia bertanya-tanya, benak itu terletak dimana? Apakah di dalam
dada, atau di kepala. Kemudian bertanya-tanya apakah hati benar-benar merasakan
emosi cinta kasih sayang dan lain-lain? Bukankah ia hanya menyaring darah, atau
apalah. Dokumen pelajaran biologi dalam kepalanya sudah usang dan ‘not
responding’.
Kemudian
ia memikirkan hal yang bahkan ia akan berpikir kembali untuk menanyakannya
kepada orang lain. Apakah ini wajah ketiga yang disebutkan media sosial tadi? Berfikir
hal-hal yang hanya ada di dalam kepala sendiri.
Kemudian
ia mulai menutup mata, membayangkan hal-hal indah. Padang rumput, kupu-kupu,
matahari cerah. Nah, sekarang biasanya dia akan tertidur, merangsang otaknya
masuk dalam dunia mimpi.
Gagal.
Ia tetap
tidak bisa tertidur, mungkin dia harus mematikan lampunya. Matanya mulai bisa
tidak berkontraksi, mengistirahatkan diri. Kemudian ia merasa ada sesuatu di
atas lemari. Detik berikutnya ia menyesal tadi menonton film horror. Membuka mata,
terlihat siluet-siluet yang terbentuk dari ketidak jelasan mata memandang dan
memori-memori hal yang mengerikan. Menutup mata, kembali terlihat memori-memori
hal yang mengerikan. Ia menyalakan kembali lampunya. Kini ia mulai putus asa. Lapar
terasa.
Dia terduduk,
dan menghela nafas kecewa. ‘Tuhan, hilangkanlah kesadaranku untuk malam ini,
dan kembalikan esok hari’. Kemarahan dan kekecewaan dalam diri mulai mengendur.
Kini ia berpikir sebaiknya mematikan lampu atau membiarkannya menyala. Ia kembali
menghela nafas. Merepotkan sekali. Ia bangkit berdiri. Mendapatkan ide. Menutup
sebagian lampu agar tidak menyilaukan matanya. Ia mencari isolasi dan selembar
kertas. Tak sulit mendapatkannya. Setelah merealisasikan idenya, ia kembali
berbaring. Berusaha tidak memikirkan apapun. Tapi itu mustahil. Ia menghampiri
handphonenya. Angka di sebelah lambang baterai adalah 64%. Mencabutnya memasang
earphone. Mengatur playlist ‘somewhere’ yang membuatnya membayangkan berada
dalam tempat yang indah. Kembali berbaring. Kembali menghela nafas dan membaca
doa
Insomnia:
berakhir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar