Rabu, 06 Mei 2015

Ekspedisi Pulau Gunung Api

                 Latar belakang kisah ini adalah di sebuah lereng gunung api di sebuah pulau yang tidak ditinggali seorangpun. Konon katanya ada makhluk lain yang hidup di daerah tersebut. Itu sebabnya tidak ada orang yang tinggal disitu, padahal masih terdapat perumahan warga. Profesor Nata adalah peneliti batuan yang dihasilkan gunung api, ia bersama dengan rekannya profesor Koko. Mereka berdua bersama tim riset ingin meneliti aktivitas gunung tersebut dan ingin membuktikan secara ilmiah bahwa tidak ada makhluk yang disebutkan tadi.
                Dimulai dengan pemberangkatan dari dermaga terdekat. Dengan perahu layar, kru kapal, tim riset dan kedua profesor tersebut berangkat. Diiringi dengan lambaian tangan dari mantan penghuni pulau itu. sebenarnya banyak hasil alam yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk. Namun, karena gangguan dari makhluk yang sudah menelan banyak korban, penduduk memutuskan untuk bermigrasi.
                “Makhluk itu menculik siapapun yang tidak percaya akan keberadaannya.” Seru ibu-ibu waktu Nata bersosiallisasi dan wawancara kepada warga.
                “Bertahun-tahun kami hidup di sana, makhluk ini sudah ada bahkan semenjak nenek moyang kami belum menemukan pulau itu.” celetuk yang lain lagi.
                “Prof, saya pikir anda harus membatalkan rencana riset ini.” kata kepala suku dengan tatapan cemas dan putus asa. “Anda tidak harus membuktikan kepada kami, pulau itu memang tidak layak untuk kami tinggali.
                “Mohon tenang para hadirin.” Koko berusaha memecah kebisingan. “Kami tetap akan melaksanakan riset itu. karena dari pihak warga tidak dapat menyajikan rupa dari makhluk ini.”
                Sebenarnya dari pihak warga memang terpecah menjadi dua bagian. Yaitu bagian yang ingin kembali ke pulau dan mengeksploitasi hasil alam, dan bagian yang tidak ingin termakan banyak korban lagi. lagipula mereka sudah hidup berkecukupan dan diterima di kota ini. tapi bagian yang pertama tetap mengikuti suara kepala suku.
                “Memang kami tidak bisa membuktikan bentuk atau jenis apa makhluk ini, karena memang siapapun yang sudah melihat makhluk ini, pasti tidak akan selamat.” Jelas seorang bapak-bapak dengan menggebu-gebu.
                “Kami sudah dibiayai oleh pemerintah pusat untuk melakukan riset ini” Nata berusaha menjelaskan dengan tenang.
                “Egois sekali, mengorbankan orang cerdas untuk eksploitasi hasil alam.” Gumam seseorang.
                Angin berhembus di atas dek kapal. Suara-suara protes dari warga yang tidak berdaya masih terngiang di kepala Nata. Untuk wanita seumur dia, ia seharusnya sedang di rumah mengurus anaknya. Tapi ia masih lajang dan mengorbankan masa mudanya untuk gelar profesornya. Dan sekarang, setelah gelarnya didapat, ia harus melempar koin kematian dengan berangkatnya ia ke pulau itu.
                Berbeda dengan Nata, Koko tidak terlalu memusingkan perkataan warga             . sebenarnya dia berharap bahwa warga yang hilang dapat ditemukan dengan keadaan hidup. Toh belum ada laporan dari warga bahwa orang yang hilang ditemukan meninggal. Bisa saja mereka muak dengan peraturan desa dan membuat desa lagi di sisi lain pulau. Itu sangat mungkin.
                “Jadi sebenarnya ini bukan pekerjaan kita.” Koko memecah lamunan Nata, angin masih berhembus. “Kenapa pemerintah tidak menyuruh tim penyelamat atau angkatan darat untuk menyelesaikan kasus ini?”
                “Entahlah, sepertinya mereka juga tidak sanggup untuk menangani kasus ini.” jawab Nata. “Lagipula banyak laporan dari warga bahwa sebelum hilangnya seseorang terdapat tanda-tanda alam yang aneh.”
                “Oh, tentang banjir dan asap tebal. Aku pikir itu bencana alam biasa. Hanya warga saja yang mengkaitkan itu dengan hilangnya orang.” Bantah Koko.
                “Hei, lihat! Kau tau apa itu?” Nata menunjuk awan hitam yang bergerak ke arah kapal mereka.
                “Badai, terlalu cepat, kita tidak akan senggup mengangkat semua layar.”
                “SEMUANYA.. BERLINDUNG DI KABIN UTAMAA!!” seru kapten dengan suara seraknya.
Nata dan Koko juga berlari menuju kabin utama. Awan hitam sudah semakin dekat. Angin mulai berhembus dengan kencang. Membuat badan kapal terombang ambing. Koko terpaku melihat gunung ombak yang siap menghantam kapal. Tak ada waktu bagi Nata untuk menarik rekannya tersebut. Semua begitu cepat. Koko sudah sampai depan pintu ketika air datang dari segala arah. Tapi ia gagal mencapai kabin. Badan kapal bergoyang hebat.
“KOOO!!” Nata berteriak sekuat tenaga di kabin kapal. Ia ingin pergi keluar tapi awak kapal menahannya. Terlalu berbahaya. Beberapa detik kemudian kapal kembali tenang. Aneh sekali, badai berlalu begitu cepat. Nata mengintip keluar. Langit kembali biru dan angin berhembus seperti biasa. Ia bergegas keluar kabin. Berharap Koko masih berada di atas kapal.
Tak ada tanda-tanda keberadaan Koko tapi Nata mendengarnya berteriak. Ia segera menuju arah suara di tepi kapal. Terlihat Koko terombang-ambing di atas air dan melambaikan tangan. Kru kapal segera mengirim bantuan. Tapi semua terkaget ketika Nata memekik dengan keras. Ternyata ia melihat makhluk besar di dalam air mendekat ke arah Koko. Membuat kru kapal bergerak semakin cepat. Mereka sudah menarik Koko dengan tali. Butuh lebih banyak tenaga untuk mengangkat Koko sebelum dimangsa makhluk besar itu. Koko akhirnya dapat naik ke atas  kapal. Namun makhluk itu tetap berusaha ikut naik ke kapal. Ia mengobrak-abrik atas kapal. Dengan gigi-gigi tajamnya yang menyeringai, membuat semua awak kapal berteriak. Semua awak kapal bukan seperti kesatria yang ada di dongeng-dongeng. Tapi kenapa ada makhluk seperti di dongeng-dongeng? Dengan mulutnya yang lebar, ia berhasil membawa dua orang. Kemudian ia pergi kembali ke laut dengan damai.
“Kita sudah tiga perempat perjalanan. Dan sudah kehilangan dua orang. Tetap saling menjaga dan ikuti instruksiku!” Kapten berusaha mengendalikan suasana. Semua kru dan tim riset termasuk Nata dan Koko masih shock dengan kejadian tersebut. Tapi tak lama kemudian pulau tak berpenghuni itu sudah terlihat mata. Membuat lega, atau bahkan menambah adrenalin.
Satu jam kemudian dilalui dengan hening. Kini mereka sudah sampai di pesisir, bahkan ada dermaga. Sebuah pulau yang sama sekali tidak mengerikan. Indah, dibalik semua mitos yang beredar. Angin berhembus sepoi-sepoi dengan pohon kelapa yang melambai.
Semua tim riset turun dari kapal dan meninggalkan kapten dan kru kapal untuk menjaga dan memperbaiki kapal untuk kembali, jika mereka bisa kembali. Nata dan Koko memimpin langkah menuju pemukiman warga di lereng gunung. Gunung api itupun terlihat anggun dari pantai. Mereka berjalan dengan damai di atas pulau tersebut.
“Pulau yang indah, coba kita di jaman modern, pasti sudah selfie sana sini.” Celetuk James, memecah keheningan di antara keringat yang menetes.
“Ko, memangnya kita sekarang di jaman apa?” Nata berbisik kepada Koko.
“Pra modern.” Celetuk Koko, tetap fokus dengan jalan yang curam.
“Prof, sebaiknya kita beristirahat dulu disini,” Kata Steven.
“Oke, semuanya. Kita istirahat lima menit. Sebentar lagi gelap maka kita harus bergegas.”
-5 menit kemudian-
“Oke, waktu istirahat sudah habis, ayo kita lanjutkan”
Mereka kembali berjalan di jalan setapak dengan kanan kiri berupa hutan. Jalanan curam menanjak. Langit kini terlihat semakin gelap, sementara perkiraan Koko, malam sekitar tiga jam lagi, tepat perkiraan mereka sampai di pemukiman. Ternyata gelap mendung, lebih gelap dari awan badai di Laut tadi. Instruksi dari Koko untuk memakai jas hujan, dan tidak diperlukan membangun tenda. Beberapa saat kemudian mereka sampai di ujung hutan. Di depan mereka kini ada jurang yang amat lebar dan dalam sampai tak terlihat mata.. Petir mulai menyambar, tapi masih tanpa hujan. Semakin mendekat ke jurang semakin panas yang terasa.
“Sepertinya ada Lahar di dasar jurang ini.” Kita harus hati-hati melewati jembatan yang banyak lubang itu.” Koko masih memimpin pasukan. “Steven, kau duluan”
“Siap!” Steven berhati-hati melewati jembatan tua itu. langkah demi langkah ia susuri dengan hati-hati.  Berikutnya Stacy. Stacy juga sangat hati-hati, tapi ia terpeleset pada satu papan. Sekarang ia bergantungan di jembatan itu. semua orang panic. Steven yang sudah hampir di seberang ingin membantu Stacy. James dan Aldian dengan cepat ingin menyusul dan menyelamatkan Stacy. Namun mereka berdua malah membuat jembatan berayun semakin kencang. Stacy kehilangan satu pegangannya. Aldian berhenti dan membiarkan James menyusul sendiri agar jembatan tidak berayun dengan kencang lagi.  James bersiap meraih tangan Stacy tapi Tali yang menjadi pegangan Stacy tiba-tiba putus. James berhasil meraih Tali itu dengan tangan kanannya. tapi tangannya berkeringat, ia mengggunakan tangan kirinya untuk mempererat pegangan. Namun ia sendiri kehilangan pegangan, akhirnya mereka berdua jatuh bersama ke dalam jurang.
Semua orang berteriak, putus asa. Nata dan Koko melihat tatapan rekan-rekannya yang putus asa. Tapi mereka harus menyelesaikan riset ini. dengan duka dan trauma kedua kalinya, mereka hati-hati menyusuri jembatan itu. mereka menghela nafas panjang saat semua selamat sampai seberang. Lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Mereka sampai di bekas pemukiman warga. Rumahnya unik. beratap seperti kubah dan ada cerobong di atasnya. Sudah berlumut dan banyak tanaman liar yang tumbuh.
 Hujan Turun, tapi airnya aneh. Seperti gel. Menurut mantan warga setempat, itu tanda-tanda awal bahwa ada orang yang akan diculik.
“Semuanya, Berlindung di rumah warga!” Koko berteriak. Semua tim riset berpencar memasuki rumah warga. Menunggu dengan cemas.
“Aaaaaaa!!!” Emely berteriak sekuat tenaga dari salah satu rumah. Semua kru bergegas menuju rumah itu. mencari tahu apa yang terjadi. Di sana, di atas lantai rumah yang kotor dan tidak terawat, tergeletak jasad Stacy.
“Aaaaaaa!!!” Steven berteriak tak kalah dengan suara Emely. Ternyata di rumah yang lain ditemukan jasad James.
Semua mengecek rumah warga satu-persatu. Dan di setiap rumah terdapat jasad. Dua kru kapal yang dimakan makhluk di laut juga ditemukan. Tidak hanya itu, tapi seluruh kru kapal yang mereka tinggalkan di pesisir pantai juga ada. Bahkan jasad kapten pun ada. Pulau ini benar-benar misterius. Semua orang yang masih hidup kini putus asa. Seperti menunggu tiba saatnya.
Nata hanya terpaku melihat semua yang ada di hadapannya, sepertinya ia juga tak akan berhasil keluar dari pulau itu. ia hanya bisa terdiam dan menunggu makhluk itu membunuhnya. Sementara Koko masih berjuang dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
“NATA… KOKO…” Tiba-tiba suara misterius datang. Mereka yakin itu bukan suara makhluk yang melakukan semua ini. warga tidak pernah melapor adanya suara-suara yang memanggil. Dengan suara yang semakin mendekat, makhluk itupun muncul dari balik gunung api. Ia mengaum sekuat tenaga, melemparkan semua warga yang telah ia culik. Warga-warga itu berterbangan. Nata dan Koko menghindari serangan itu. Setelah semua warga terlemparkan, makhluk itu menuju arah datang suara tadi. Masih dengan auman mengerikan.
“NATA, KOKO..”
“Ko, bagaimana ini?” Nata mulai panik. Kini pulau dipenuhi dengan jasad-jasad yang tergeletak.
“Jangan khawatir, aku yakin suara itu akan menolong kita” Jawab Koko penuh keyakinan.
“ASTAGA..” suara misterius itu sudah sampai ke pulau. Membuat makhluk jahat semakin mengaum. “KAMAR DE KOK JADI KAYAK GINI? RAPIKAN, TERUS PERGI MANDI!” seru suara itu lagi. Kini makhluk gunung api sudah berada di tangan Mother Earth.



Cast:
Profesor Nata        : Nata (7)
Profesor Koko       : Koko (8)
Makhluk besar di laut     : Kucing
Makhluk di gunung api  : De (2)
Mother Earth        : Ibu
Warga                   : Sepertiga mainan Nata & Koko
Kru Kapal             : Sepertiga mainan Nata & Koko
Tim riset               : Sepertiga mainan Nata & Koko

Setting
Rumah warga    : Botol kosong tanpa tutup
Kapal                 : Kursi
Laut                   : Lantai ruang tamu
Kota                   : Meja ruang tamu
Pulau                  : Kamar De
Jurang Lahar      : Lantai kamar De
Gunung api        : Gunungan bantal


Sabtu, 02 Mei 2015

Cahaya Fajar

                Malam masih menggantung, karena pagi belum saatnya. Gelap, sebelum fajar datang pasti selalu gelap. Sunyi, sebelum fajar datang pasti selalu sunyi. Tak apa, ia suka. Di saat itulah ia bisa lebih mengerti dunia sekitarnya. Desau angin, aroma pagi, terbebas dari hiruk pikuk hari.
                Ia adalah seorang pemuda yang sedang mencari pasangan hidupnya, bukan mencari, lebih tepatnya menanti. Dia percaya dengan pemikiran ‘jodoh tak lari kemana’. Namun, ia tak mengerti konsep cinta di jaman sekarang ini. Ia juga tak ingin ‘salah pilih’ atau sejenisnya yang menjadi alasan orang putus nyambung dalam sebuah hubungan. Jika ia rasa tepat, ia akan bawa ke jenjang yang lebih serius. Tapi, siapa yang tahu bahwa itu pilihan tepat? Toh ia tidak mengerti konsep cinta yang pasti pudar. Ia terbelenggu dalam kekhawatiran yang berlebihan.
                Hal itu bukan satu-satunya masalah yang ia hadapi. Imajinasinya mati, pikirannya tak seliar dulu. Fatal sekali bagi sarjana DKV atau bisa disebut illustrator. Ia punya kantor sendiri di sebelah apartemen sendiri, belum terlalu besar. Untuk masalah yang ini, teman-temannya sudah sering menganjurkannya untuk rileks dan pergi rekreasi bebearapa saat. Tapi menurutnya itu bukan ide bagus, ia sudah berekreasi di dunia dini harinya.
                “halo?” ia mengangkat ponselnya yang beberapa detik sebelumnya berdering.
                “Halo, Fajar.” suara yang tak asing.
                “kenapa dini hari?” Fajar penasaran namun sedikit terganggu.
                “Sorry ganggu dini hari lo. Nenek sakit.” Nita, kakak kandung Fajar menjawab.
                “Bukannya udah lama?” Fajar masih kebingungan, urgency kakaknya menelpon dini hari.
                “Iya, baru aja nenek minta lo dateng buat ngerawat beliau.”
                “Kan udah ada mbak Leno yang ngerawat nenek” (sedikit bocoran, Mbak Leno adalah sepupu Fajar dan Nita).
                “Entah, tanya nenek sendiri aja kalo penasaran.” Jawab Nita dengan nada datar.
                Hembusan nafas Fajar menjadi penutup obrolan via suara tersebut. Tak menunggu fajar tiba, Fajar bergegas menuju rumah neneknya. Rumah nenek berada di pedesaan, tapi bukan pedalaman. Jarak dari kota tempat Fajar tinggal dengan desa itu sekitar 3 jam. Desau angin, aroma pagi masih terasa. Jalanan lengang, hanya satu dua tiga mobil yang menemaninya beberapa saat. Fisiknya dapat menikmati indahnya pagi, tapi pikirannya bertanya-tanya.
                Garis merah oranye dan ungu tergambar indah dari frame kaca mobilnya. Sudah setengah perjalanan, kini ia melewati perkebunan. Satu dua kali ia berpapasan dengan petani yang berangkat ke kebun. ia sering melewati jalan itu, tapi kali ini berbeda. Pagi memang waktu yang damai, berlaku di semua tempat di dunia.
                Fajar adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Orang tuanya cerai ketika ia SMP. Kepentingan entertainment, Ibunya musisi, dan ayahnya pejabat. Hubungan klasik orang tv. Tidak ada pertengkaran dahsyat, orang ketiga, ataupun  tindak pidana dalam kasus perceraian orang tuanya. Rasa penasarannya tidak besar, ia cukup muak dan memilih terima saja.
 Fajar sama sekali tidak tertarik dengan dunia itu. Lain halnya dengan Nita, ia memiliki kemampuan untuk mengendalikan massa dan berhadapan dengan orang banyak. Figur seorang bintang sudah ada pada dirinya. Ia menjadi penerus ibunya menjadi musisi. Menikah dengan entertainer juga, sudah dikaruniai satu putri.
                Garis merah oranye ungu sudah berubah menjadi garis oranye kuning putih. Fajar menikmati siraman cahaya pagi, tidak terusik dengan silau. Tanda-tanda kehidupan sudah semakin terlihat. Orang berangkat ke pasar, anak-anak berangkat sekolah, suasana desa dengan segala ciri khasnya. Semua baik-baik saja sampai seseorang mulai berteriak dan memancing orang berdatangan. Kini, Fajar sudah berada tepat di belakang kerumunan tersebut. Jalan yang dilalui kecil, tak ada celah untuk lewat.
                Ternyata sebuah kecelakaan, terlihat gadis kecil berdarah-darah. Menyatu dengan rok merah SD nya.  Dengan sebuah motor yang penyok di beberapa sisi. Kerumunan mulai menepi, Fajar dapat melewati jalan tersebut dengan rasa prihatin. Tak tega sebenarnya, tapi neneknya masih menunggu. Entah benar-benar menunggu atau hanya bualan Nita agar Fajar dapat keluar dari jenuhnya kota.
***

                Sekitar pukul tujuh Fajar sampai di depan rumah neneknya. Terlihat nenek sedang membaca buku ditemani the herbal di sampingnya.  Fajar tak kaget, sesakit apapun nenek, ia tak mau hanya tiduran di atas tempat tidur. Fajar tersenyum disambut senyuman nenek. Lalu ia mencium tangan nenek.
                “Aha, cucu nenek sudah datang.” Ucapan nenek dilanjutkan dengan ciuman di kening.
                “Gimana kabar nek, udah baikan?” Fajar mulai percakapan.
                “Halah, jangan ditanya. Lihat kamu kondisi nenek baikan 75%.” Nenek menangkap kebingungan Fajar.
                “Nenek bukan sutradara FTV kan?” pertanyaan aneh dari Fajar.
                “Tontonanmu le..” ia menyeruput tehnya.
                “Ya kali aja nenek mau ngenalin aku gadis desa, terus lari-lari di kebun, terus bahagia hidup selamanya.”
                Nenek terkekeh. “Jangan neko-neko kalo ngomong, nenek Cuma pengen liat kamu.”
                Beberapa detik kemudian mbak Leno datang dengan secangkir teh hangat. “Nih minum dulu, Jar.” Ia menyodorkan teh hangatnya. “Apa kabar gambar-gambarmu? Terakhir aku lihat di websitemu kok ndak nambah-nambah?”
                Fajar hanya tersenyum karena masih ada teh di mulutnya. Mbak Leno ini semacam fans karya-karya desain Fajar. “Lagi gak ada inspirasi, mbak.” Jawabnya setelah menelan teh.
Waktu kecil, ia sering bermain-main di kebun, mengganggu mbak Leno menyirami bunga-bunga kesayangannya. Ia teringat siraman matahari yang sama ia rasakan pagi ini. Kini Fajar sudah berdiri, seolah-olah ia dikendalikan oleh alam bawah sadarnya. Ia turun dari teras menuju jalan, kemudian terus berjalan ke kiri, ke arah kebun bunga. Jarak kebun bunga cukup jauh dari rumah nenek. Fajar terus berjalan melewati jalan setapak yang menanjak. Rasa lelah terlihat dari keringatnya yang mulai menetes, tapi ia tetap berjalan. Hingga sampailah ia di kebun bunga.
Tapi ia tidak berhenti, ia terus berjalan melewati semak-semak dengan bunga warna-warni. Dan akhirnya ia menemukan rerumputan yang tidak ditutupi semak dan bunga. Rasa lelahnya mulai terasa dan dia merebahkan diri di atas rerumputan, masih disirami sinar matahari.

Putih, hanya putih menyilaukan yang dapat ia tangkap. Menunggu matanya beradaptasi, hingga warna putih memudar. Namun, belum  jelas apa yang ada di pandangannya. Ia terbangun dari bangku kursi yang keras, di hadapannya terdapat banyak kayu, sepertinya ia berada di galeri pengrajin kayu. Orang tua dengan rambut gondrong dan brewok lebat muncul. Kemudian duduk di samping Fajar.
“Dunia terus berputar, dan semakin menua. Kau tak bisa hanya berdiam, dan membiarkan ragamu menua.” Orang tua tak dikenal itu berbicara seperti membaca puisi. Entah mengapa otak Fajar tidak mengijinkannya berbicara. Kemudian orang tua itu berdiri. Dan seperti sudah diskenario, Fajar mengikutinya keluar dari galeri itu.
“Manusia selalu dibatasi, di atas ada langit, di bawah ada bumi. Tapi mereka berusaha melewati batas itu. bermula dari khayalan-khayalan kosong, mimpi-mimpi, hingga penemuan sains teknologi baru. Seperti ada skenario di balik semua ini.” Orang tua itu terus berbicara, Fajar tetap berjalan di sampingnya.
“Mimpi adalah mimpi, tapi mimpi dapat mempengaruhi kehidupan nyata. Mimpi indah bisa membuat kita kecewa, dan mimpi buruk membuat membuat kita lega. Yang harus kita lakukan hanyalah bangun dari mimpi itu”
 Fajar ingin menyangkal itu tapi seperti ia dikuasai dunia itu. Sembari berjalan, orang tua itu berkata bahwa sebuah karya itu tidak bisa dipaksakan. Tidak untuk kepentingan finansial. Butuh kelegaan dalam diri untuk menjadikan sebuah karya sebuah karya menjadi berarti bagi orang lain membuat orang mengingatnya, bahkan jika kau tak ada lagi. intinya, orang tua itu hanya mengatakan kata-kata bijak yang sering muncul di media sosial. Entah itu penting atau tidak, populer atau tidak. Sama sekali Fajar tidak bisa komentar.
Terus berjalan dengan matahari sore yang menembus kanopi pepohonan. Terdapat dua bangku dan satu meja di bawah pepohonan di ujung jalan setapak yang mereka lewati. Mereka menuju tempat itu.
“Kau harus bangun anak muda, Perjalananmu masih panjang.” Kata orang tua tak dikenal itu sambil menuangkan minuman dari teko ke gelas. Menyodorkan ke Fajar. “Bersiap-siaplah untuk kecewa atau lega.” Kata orang itu lagi. Fajar ingin bertanya banyak hal, tapi tanpa ia sadari, tangannya sudah meraih gelas itu. menuangkan isinya ke mulut. Semua tubuhnya menolak perintah otaknya. Sudah ia duga, minuman itu terasa aneh dan belum pernah ia rasakan. ia ingin muntah tapi tidak bisa.
Tiba-tiba semua pepohonan menghilang, orang tua itu juga menghilang menyisakan ruang putih yang semakin lama semakin menyilaukan. Cairan itu masih tersisa di kerongkongannya. Sekuat tenaga ia muntahkan cairan itu. dan semua ruang putih itu kini mulai menampakkan siluet-siluet yang lebih nyata.
Pepohonan, matahari menembus kanopi, sepi, sunyi, ia berada di jok mobilnya dengan   darah di sekitarnya. Kaca depan mobilnya pecah dengan pohon besar di depannya. Ia mengumpulkan kembali serpihan nyawa yang tadi sempat hilang. Ia meludah sekali lagi untuk menghilangkan cairan pahit itu.

Ia ingin menyimpulkan semua yang ia lalui pagi ini, tapi yang ia ingat hanyalah gadis kecil berangkat sekolah dengan rok merahnya.