Rabu, 07 Maret 2018

Memori dalam Harum (1)


                Di kereta. Aku duduk menatap ke luar jendela. Gelap, tak ada yang bisa kulihat. Tak mengapa, aku lebih suka tak melihat apa-apa, daripada harus menatap makhluk bernyawa di sekelilingku, manusia. Mereka –kita–, dengan senyum palsunya, demi menjaga perdamaian dunia. Karena senyum adalah simbol perdamaian, kan? Ya, mungkin di antara mereka –kita– kadang tersenyum tulus untuk menyapa orang asing, tak apa, itu bagus. Tapi, lebih banyak kecanggungan yang terjadi ketika aku yang melakukannya. Jadi, aku lebih memilih tidak menatap mereka, manusia, sama sekali, jika tidak dibutuhkan.
                Perjalanan baru memakan waktu 2 jam, dan perjalananku terjadwal memakan waktu 11 jam. Kereta tengah malam memang sangat melegakan, karena itu jam tidur manusia, jadi tak usah repot-repot membuang pandangan untuk menjaga privasi. tujuanku adalah sebuah kota di pinggiran pulau ini. Oh bukan juga sih, tujuanku adalah hutan, dan kereta ini hanya bisa mengantarku sampai di kota itu. Saat fajar tiba, aku harus turun dari kereta ini dan naik angkot ke terminal, kemudian naik bis hingga ke desa terpelosok yang bisa dicapai bis itu, lalu naik ojek hingga tukang ojeknya tidak sanggup, baru aku meneruskan perjalanan berjalan kaki, memasuki hutan itu.
                Sendirian. Tak mengapa, aku sudah terbiasa. Hm, aku jadi mengingat kapan aku terakhir kali mengkontak seorang teman, secara personal tentu saja. Karena sosial media tidak membantu. Kadang aku mempertanyakan kodratku sebagai makhluk sosial. Mungkin terakhir kali aku punya teman adalah ketika aku bekerja di sebuah toserba. Teman kerja. Oh iya, aku belum cerita, dulu aku pernah bekerja di sebuah toserba, sejenis mini market yang sekarang menjamur di berbagai penjuru Indonesia. Atau mungkin saat kalian membaca kisah ini, mereka sudah buka cabang di mancanegara, entahlah siapa tau.
                Oke, mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku pergi ke hutan, sendirian. –mungkin juga tidak, oke teruslah membaca–. Sebenarnya, aku bukan orang yang neko-neko. Aku ingin mencari hal yang ingin kucari. Oke, itu bukan jawaban yang ingin kalian dengar kan? Di akhir cerita juga nanti kalian paham. Tapi sebelumnya, kuceritakan latar belakang dulu.
                Tiga tahun. Aku bekerja di toserba itu. Sekedar untuk mengisi kengangguran setelah wisuda S1. Sebenarnya untuk menabung juga sebelum melakukan perjalanan-perjalanan seperti sekarang ini. Cukuplah tiga tahun dengan rutinitas yang begitu-gitu saja. Seperti mengucapkan ‘selamat datang di Toserba, selamat belanja’ setiap kali orang berkunjung, cukup lucu untuk dikenang. Sekarang sudah dua tahun aku berhenti bekerja di toserba itu. Sekarang aku bekerja mandiri, dengan laboratorium pribadi, dan belum sempat mempekerjakan orang. Mungkin suatu saat nanti jika perusahaanku ini sudah semakin besar.
                Taukah kalian bahwa syaraf memori itu paling dekat dengan syaraf penciuman? Aku tertarik dengan teori ini, sehingga aku mendirikan perusahaan parfum. Dengan berbekal ilmu akuntansi yang kutempuh 3,5 tahun di bangku kuliah, sebenarnya tak membantu sedikitpun dalam usaha ini. Sehingga mengharuskanku belajar secara otodidak. nah, kembali ke teori tadi. Pernahkah kalian tiba-tiba tercium harum yang pernah tercium sebelumnya, tidak bisa menyebutkan dengan pasti itu harum apa, tapi sekelebat bayangan masa lalu tiba-tiba muncul? Tidak pernah? Oke. Hal itu sering terjadi padaku. Dan ternyata setelah melakukan penelitian di search-engine, teori di atas muncul.
                Tapi tak mungkin kan aku mendirikan perusahaan parfum hanya karena teori di atas? Sebenarnya iya, aku tertarik untuk mendalaminya setelah kutemui fakta tersebut. Memberi makan ego lebih tepatnya. Mengingat kembali hal yang sudah terlanjur terlupa.
                Usiaku 28 sekarang, FYI
                Pukul 04.34 waktu setempat. Roda kereta berdecit tergesek rel kereta, memaksa gerbong berantai ini untuk berhenti. Pengeras suara di langit-langit bergema setelah sekian lama membisu, menyalurkan gelombang suara dari petugas informasi di belakang miknya.
                “Selamat pagi seluruh penumpang kereta, perjalanan anda kini telah tiba pada akhirnya. Tolong periksa barang bawaan anda, jangan sampai ada yang tertukar atau tertinggal di dalam kereta. Terimakasih telah menggunakan jasa PT. Kereta Api Indonesia. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya...”
                Semua orang beranjak dari bangku masing-masing. Dengan pandangan kosong khas orang baru bangun dari tidurnya. Sedikit mengucek-ucek mata berharap pandangan menjadi lebih jelas. Perlahan berjalan menyusuri koridor gerbong menuju pintu keluar. Suasana stasiun di pagi buta, sangat tidak berarti bagi manusia-manusia yang rindu tempat tidurnya. Berharap bisa kembali tidur ‘normal’ secepatnya.
                Setibanya aku di pintu keluar stasiun, seorang wanita melintas di jalurku, meninggalkan seberkas harum yang tanpa sengaja tercium. Ini dia! Ini dia, kawan-kawan, teori yang kuceritakan tadi. Tanpa sempat menutup mata, sepercik memori muncul di alam bawah sadarku. Sudah kubilang tadi, kalian tidak mau percaya. Harum ini membawaku kembali ke jaman SMA, entah siapa yang menghasilkan harum ini dahulu, tapi suasana di dalam kelas masih jelas terlihat. Bulan puasa. Waktu istirahat pertama, suasana kelas ramai, kebanyakan menghabiskan waktu istirahat untuk mengobrol, main game, dan membaca.
                Aku tersadar cukup lama sehingga tak terasa aku mengikuti wanita itu. Segera kupalingkan muka dan bertindak normal sebelum semua orang mengiraku cabul, mengendus-endus seorang wanita dari belakang. Oke, lebih baik aku bertanya pada tukang parkir di sana jam berapa angkot pertama lewat.
                “Permisi mbak, numpang tanya, angkot biasanya pada berangkat jam berapa ya?” sedikit tidak percaya kalau tukang parkir ini perempuan.
                “Oh, gak ada angkot mas, di sini. Masnya mau kemana e?” memandangiku dari ujung kaki hingga kepala. Kemudian menghentikan pandangannya, menunggu jawaban.
                “Saya mau ke hutan, mbak.”
                “Hahaha, ngapain mas, ke hutan?” Kemudian dia manggut-manggut, paham dengan outfitku yang cocok untuk pergi ke hutan.
                “Eh...” garuk-garuk kepala, “Biasanya pake apa dong mbak?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
                “naik bis kopata mas, nanti di terminal pindah bis yang lebih gede buat pergi ke kota kecamatannya, terus pindah lagi ke bis kecil lagi buat ke desa deket hutan itu mas.”
                “Wah, detil amat mbak, asal mbak dari hutan ya?” candaku
                “Wahaha, iya mas,” candanya, “saya yang dari hutan aja rantau ke kota, mas yang dari kota malah pengen ke hutan.” Lalu dia berjalan menjauh dengan gaya garuk-garuk kepala ala monyet. Lucu juga mbak tukang parkir ini.
                “Oke, makasih mbak!” ucapku sedikit teriak, dia sudah jauh di sana, merapikan motor- motor yang diparkir seenaknya. Sial, aku lupa menanyakan jam berapa bis kop, kop apa tadi?
Tak lama kemudian terdengar suara knalpot bis yang berat, hwoom.. kira-kira seperti itu bunyinya, langsung aku berlari ke tepi jalan. Melambaikan tangan, meminta tumpangan. Setelah lumayan dekat, baru bisa terbaca tulisan di tubuhnya, KOPATA. Ah iya, teringat kata-kata mbak-mbak kocak tadi, kopata. Setelah yakin dan menanyakan tujuanku dan sopir mengangguk, aku berangkat.
Cukup lima belas menit untuk sampai di terminal. Sangat disayangkan, udara sejuk pagi hari harus tercemar oleh asap bis yang kunaiki. Berharap ada orang jenius di luar sana yang cukup peduli dengan alam, membuat kendaraan umum bebas polusi. Bisa jadi terinspirasi dari dokar atau becak. Tak ada yang tak mungkin kan?
Suasana lumayan ramai, kebanyakan pedagang di pasar yang membawa barang dagangannya. Kusapu pandangan untuk menentukan kemana kakiku melangkah. Teringat kata mbak tukang parkir: setelah kopata adalah bis menuju kota kecamatan. Sepertinya indra pendengaran lebih berfungsi di sini dibandingkan penglihatan. Suara kernet bis bersaut-sautan –meskipun tidak sekencang di siang hari–. Aku bisa mendengar teriakan ‘kota kecamatan’ dari arah jam 2, menuju pintu keluar terminal. Ya suara semakin terdengar jelas. Aku masuk ke bis dengan percaya diri.
Bis ini lebih besar dibanding bis kop, kop apalah itu tadi. Terisi setengah penuh, sebagian besar pedagang yang aku katakan tadi. Membuatku berasa seperti alien dengan ‘outfit explorer’ ku. Yah, mau bagaimana lagi, repot jika harus pakai pakaian biasa dulu baru ganti baju ketika masuk hutan. Boros energi. Lebih baik ruang dalam ransel dipakai untuk menyimpan bahan makanan sebanyak-banyaknya. Aku jadi terpikir apakah makanan yang kubawa sudah cukup untuk hari-hariku di hutan. Mungkin aku harus menambah persediaan nanti di kota kecamatan. Ngomong-ngomong, aku belum tahu akan berapa hari aku berada di hutan. Barang yang kucari tidak pasti, hanya berbekal kata ‘katanya’ dari seseorang yang tidak yakin kukenal.
“Mau kemana, mas?” tanya bapak-bapak bertopi koboi, membuyarkan pikiran liarku. Tak sadar sudah ada yang mengisi kursi di sampingku.
“Oh, eh, emm... mau ke hutan, Pak.” Jawabku, bersiap menerima reaksi bapak itu.
“Nggak biasanya anak muda pergi ke hutan.” Reaksi yang tidak sangka kudapatkan. Bapak ini tidak tertawa. “Biasanya anak muda pergi ke gunung, ke pantai. Tapi kalo hutan, apa yang mau dicari?
“Mau mencari kenangan, Pak, memori yang hilang.” Aku menghembiskan nafas sebentar.
Bapak itu terlihat kaget dan sedikit menahan tawa, tapi setelah melihat mukaku yang sungguh-sungguh, ia tak jadi. Dia ikut menghembiskan nafas sedikit. “Kadang kita harus keluar dari tren masa kini dan membuat tren sendiri, pergi ke hutan mungkin asik juga.”
Diam beberapa jenak. Aku memikirkan kata-kata dari bapak itu, kenapa dia memberi tanggapan yang tidak nyambung? Ah, mungkin dia tidak mau terlalu ikut campur dengan masalah mencari memori itu. Iya juga, seharusnya aku menceritakan hal yang lebih general kepada orang yang baru kutemui. Mungkin bisa berbohong sedikit untuk sekedar mencairkan suasana, misal pergi ke hutan untuk mencari ikan? Mencari kayu bakar? Cukup masuk akal.
Bis besar sudah berangkat, ternyata semua kursi sudah terisi. Tak lama kemudian, bis berhenti sejenak untuk menurunkan penumpang. Dan beberapa orang ada yang naik. Nah indra penciumanku bekerja lagi, di antara bau bawang yang merebak di bis, ada satu harum yang sepertinya pernah kucium sebelumnya. Kurasa berasal dari orang yang baru naik, laki-laki berbaju putih, dia tidak kebagian tempat duduk. Harum ini membawaku jauh kembali ke masa kanak-kanakkku. Pagi hari, saat aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah, saat itulah seseorang mengetok pintu rumah. Aku tidak mengenalnya. Dia berbadan tinggi besar, berkumis tebal. Setelah ibu membuka pintu, ia memberi isyarat kepadaku untuk segera berangkat sekolah. Mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan. Walaupun aku mengupingnya, tetap saja aku tidak paham. Segera aku berangkat. Aku tersadar beberapa saat. Aku tidak pernah ingat momen itu. Terima kasih bapak-bapak berbaju putih.

Bersambung...