Selasa, 08 Januari 2019

Memori Dalam Harum (2)


Oke, aku mengalami beberapa masalah memori di waktu kecil. Dan indra penciuman ini sangat membantu mengembalikannya. Itulah mengapa aku katakan kepada bapak bertopi koboi di sampingku ini tujuanku ke hutan. Untuk mencari memori yang hilang. Aku tidak menderita amnesia, memori masa kecil memang sulit diingat kan? Jadi itu hal yang wajar. Tapi ada hal yang memang harus kuingat-ingat dengan baik.
Bis melaju ugal-ugalan, matahari masih belum menampakkan diri dari bawah garis cakrawala. Aku tidak peduli, yang memenuhi pikiranku saat ini adalah pria berkumis tebal yang datang di pagi hari itu. Siapakah gerangan dia? Sekarang aku berharap dapat mencium parfum orang berbaju putih tadi supaya memori itu muncul lagi. Oke, sembari menunggu aroma itu kembali melewati lubang hidungku, sebaiknya aku menceritakan lebih jauh hidupku.
Aku terlahir yatim. Bapak pergi ketika aku masih di dalam kandungan. Anehnya, ibu tidak pernah mengajakku sekalipun ke makamnya. Ia bilang bapak tidak dimakamkan, jasadnya hilang entah dimana ketika ia pergi melaut karena dia seorang pelaut, nelayan lebih tepatnya. Ibu yang menceritakan itu semua. Aku tidak ingin mengatakan bahwa ibuku seorang pembohong karena tak ada satupun buktinya. Bahkan rumah kami sama sekali jauh dari bibir pantai. Tapi semua masuk akal ketika ibu bilang bahwa ia pindah ke rumah yang baru karena ingin move on dari semua kesedihan bersama kandungannya yang semakin membesar. Aku tak tahu harus bertanya pada siapa, karena ibu adalah orang baru di lingkungan itu.
Dan semua semakin mencurigakan ketika pria berkumis itu datang ke rumah. Ada sesuatu yang ganjil yang baru kusadari setelah ibu meninggal. Aku harus mengungkap hidupku. Ketika orang yang seharusnya sangat kau percaya malah mengungkapkan kebohongan selama hidupmu. Anyway, semoga dia tenang di alam sana.
Matahari sudah muncul malu-malu, menggoreskan semburat jingga pada awan-awan tipis. Aku sudah merencanakan ini, aku tahu bis ini menuju arah utara, jadi aku memilih tempat duduk di sisi kanan bis. Pemandangan yang setiap pagi muncul ini tidak sering aku saksikan. Aku lebih sering melewatkannya karena jadwal tidurku yang tak sehat. Bis berhenti sejenak, menurunkan emak-emak dengan berkarung-karung hasil panennya. Akhirnya pria berbaju putih itu dapat tempat duduk. Tetapi ada ibu-ibu menggendong anaknya naik ke dalam bis. Pria berbaju putih dengan berat hati mengalah dan memberikan tempat duduknya. Bis kembali melaju.
Bapak bertopi koboi di sebelahku mulai mengecek barang bawaannya, aku menatapnya sekilas karena reflek. Tak lama kemudian dia beranjak dari duduknya, menoleh ke arahku dan mengangkat topinya sedikit. Isyarat untuk pamit. Aku balas mengangguk. Beberapa detik kemudian aku tersadar bahwa orang berbaju putih akan duduk di sebelahku. Sedikit salah tingkah dan menimbulkan suasana canggung yang amat kental. Dan aroma itu kembali membangkitkan kenangan yang sama. Pagi hari, saat aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah, saat itulah seseorang mengetok pintu rumah. Aku tidak mengenalnya. Dia berbadan tinggi besar, berkumis tebal. Setelah ibu membuka pintu, ia memberi isyarat kepadaku untuk segera berangkat sekolah. Mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan. Walaupun aku mengupingnya, tetap saja aku tidak paham. Segera aku berangkat. Setengah perjalanan ke sekolah, entah mengapa aku kembali ke rumah. Oh iya aku belum menerima uang saku. Sampai di depan pintu aku mendengar isak tangis. Aku tidak ingin melihat ibuku menangis, karena aku tahu hanya dua orang yang ada di dalam rumah. Dan pria berkumis tidak mungkin terisak dengan tone nada tinggi. Aku hanya berdiri di depan pintu beberapa jenak. Kemudian memutuskan kembali ke sekolah tanpa uang saku.
Saat ku sadar, pria berbaju putih sudah menatapku keheranan.
“Mas, nggapapa?” ia akhirnya memutuskan bertanya. Aku bingung hal bodoh apa yang sudah kulakukan. Pria itu menunjuk ke arah mukaku. “Nggapapa, mas, hidup memang kadang ngga seperti yang kita inginkan. Tapi Tuhan pasti udah rencanain sesuatu.”
Sembari kucerna, kusadari ada air mata yang sudah hampir mengering di pipiku. YA HAL ITU MEMBUATKU KAGET. Aku barusaja menangis di depan orang asing. Langsung buru-buru kuusap. “Ahaha.. maaf.” Canggung semakin mengental, aku memaki dalam hati.
Hening beberapa jenak
Demi memecah kesunyian, kususun beberapa pertanyaan seperti ‘Mas, kalo boleh tau, parfumnya dari bahan apa’. Ah jangan, mana ada orang yang tahu bahan parfum. Mungkin bisa dicoba ‘parfumnya enak mas, no homo, lol.’ Sama sekali tidak pantas. Okay kusadari keheningan ini semakin mengerikan
“Parfum mas kayak ada rasa apel-apelnya gitu ya?” dan kusadari itu sudah terlanjur terucap. Tinggal menunggu tanggapannya.
Dia menoleh ke arahku bingung, dan “Oh, Iya. Mungkin.” Dia menjawab. Alisnya terangkat seolah bertanya ‘kok tau?’.
Langsung kujawab. “Kebetulan saya usaha kecil-kecilan bikin parfum. Ngga pernah kepikiran kalo apel enak juga dijadiin parfum.”
“Oh, wow.” Muka kaget. “Saya malah ngga pernah nyadar kalo ini apel. Ya beli cuma nyobain cium-cium, enak, beli, udah.” Ia berhenti sejenak. “Mas jualan parfum? Bawa ngga sekarang, boleh saya lihat?”
“Oh, sekarang lagi ngga bawa parfum yang dijual. Cuma bawa parfum saya aja.” Sebenarnya aku membawa bahan-bahan dasar parfum seperti minyak cendana, minyak kenanga, minyak adas, dan nilam. Tapi itu belum jadi, dan tidak ada niatan untuk menjualnya. “Saya lagi pengen libur dulu. Nyari udara segar, nyari inspirasi.”
Dia memberi muka ‘oh’. Kemudian dia agak mendekatkan kepalanya ke arahku, sedikit berbisik “Ngomong-ngomong, mas tadi nangis kenapa?” melihat reaksiku lalu meneruskan “Tapi nggapapa kalo emang ngga mau dibahas.”
Aku berfikir sejenak, sebenarnya aku juga tidak tau mengapa aku menangis. Apakah karena hidupku yang dipenuhi kebohongan atau karena aku tidak dikasih uang saku. Aku menghela nafas sedikit, berdehem untuk membersihkan tenggorokan. “Engga, mas tadi itu saya ngantuk terus nguap dikit jadi matanya berair.” Aku sangat jenius.
Dia manggut-manggut keheranan. Mungkin dia benar-benar lihat aku mengeluarkan air mata. Kulihat dia kecewa karena mungkin dia tahu aku berbohong. Lalu dia kembali menatap ke depan. Percakapan selesai.
Sisa perjalanan aku selesaikan dengan tidur dengan pulas. Bahkan aku tidak sadar kapan pria berbaju putih itu turun. Dan saat aku terbangun, aku sudah sampai di kota kecamatan. Pagi sudah agak menjelang siang. Sekolah-sekolah sudah mulai sepi karena siswanya sudah masuk kelas. Oke, jadwal berikutnya adalah naik bis ke desa terdekat dengan hutan. Aku kembali mengandalkan indra pendengaranku. Yak, desa terdekat dengan hutan sudah masuk telinga, berasal dari arah jam empat. Beberapa langkah kemudian, aku sudah duduk di sebuah bis kecil. Lebih kecil dari bis kop-kop tadi. Dan penumpangnya tidak terlalu banyak.
Sebentar, kalau bis tidak terlalu penuh, maka supir akan nge-tem sampai penuh. Sebaiknya aku turun sebentar. Memeriksa barang bawaan dan bekal ketika di hutan. Sepertinya aku belum punya tisu basah. Ketika keadaan darurat, tisu basah akan sangat dibutuhkan. Oke saatnya mencari toko serba ada atau toserba. Aku bertanya kepada orang lokal tentang keberadaan toserba terdekat. Tak terlalu jauh, cukup berjalan sedikit ke depan dan menyeberang jalan. Sudah kubilang, toserba semacam ini sudah menjamur di berbagai pelosok negeri. Tak sulit mencarinya.
Saat-saat mendebarkan dan favoritku saat kubuka pintu toserba dan satu, dua, ti... aku menunggu. Kulihat kasir sedang berkutat dengan gadgetnya, ya aku tahu sekarang ini sepi. Tapi sebagai alumni pegawai toserba ini, hal ini tidak dapat diterima.
“Mbak.” Aku menghampiri kasir yang tak beradat itu.
“Ya, ada yang bisa dibantu?” kalimat ‘ada yang bisa’ dikatakan dengan tatapan masih di hp. Dan kata ‘dibantu’ mulai menoleh ke arahku. Benar-benar tidak beradat.
“Selamat datang di Toserba, selamat belanja?” aku mengatakannya dengan penuh penghayatan di depan si kasir.
Dia menahan ketawa. “Serius?”
Alisku naik sebelah.  Aku benar-benar kehabisan kata-kata.
“Mas, ambil yang mas perlu, terus bayar di sini.” Si kasir kembali ke hp nya dan tidak peduli. Melihatku masih berdiri di depannya membuatnya berkata “terimakasih, senang bisa membantu.” Kenapa makhluk tidak beradab ini bisa-bisanya mendapat pekerjaan ini.  Benar-benar mencoreng nama baik.
Segera kuambil tisu basah dan sedikit snack dan soda untuk menemani menunggu bis berangkat. Kembali ke kasir. Makhluk itu terlihat senang karena aku menuruti keinginannya. Tapi aku tidak bisa menahannya lagi. Kutarik nafas panjang “Mbak, sapaan pas ada orang masuk itu sangat penting. Walaupun itu sepele, tapi bisa diingat orang sepanjang hidupnya. Waktu saya kerja di Toserba ini, awalnya juga saya nggak senang, kenapa ada hal semacam itu. Udah capek nyapa, orangnya boro-boro bales, ngelirik aja enggak. Tapi persepsi saya langsung berubah ketika ada ibu-ibu yang masuk, saya nyapa seperti biasa ‘selamat datang di Toserba, selamat belanja’ dan ibu itu noleh ke arah saya, bayangkan dia menoleh dan bilang terima kasih, bukan makasih atau mkaseh, tapi terima kasih sambil senyum. Dan sejak saat itu saya ngga peduli orang mau bales sapaan saya atau engga. Saya tetep nyapa dengan sepenuh hati.” Tanpa sadar aku mengatakannya dalam satu tarikan nafas. Sekarang aku harus menyesuaikan nafasku kembali. Dia tidak menanggapi, hanya tatapan ‘yeah, whatever’. Kemudian ia serahkan kembalian dan struk belanjaku.
Aku berjalan keluar dan saat aku membuka pintu kudengar suara lirih “terimakasih, selamat belanja kembali.” Suara itu benar-benar lirih dan aku tak percaya. Aku menoleh ke arah mbak kasir, dan dia tersenyum canggung. Dan kujawab dengan ramah “Iya, sama-sama.” Kini senyumnya semakin pasti. Aku balas tersenyum.
BEST DAY OF MY LIFE. Aku merasa diriku berguna. Rasanya seperti kamu melahirkan anak dan mendidiknya dari kecil hingga dewasa, lalu dia menjadi orang yang berguna. Aku mengubah makhluk tidak beradat menjadi manusia terhormat. Aku tak bisa berhenti tersenyum saat berjalan kembali ke bis kecil tadi. Aku tak peduli orang-orang melihatku dengan heran. Rasa percaya diriku meningkat limabelas kali lipat. Tak lama setelah sesampainya aku di bis yang sudah mulai penuh, supir pun memutuskan untuk berangkat. Kenapa perjalanan ini tidak sampai-sampai, huff..

Bersambung lagi :(