Angin
malam membuatnya sedikit menggigil. Tapi ia kuatkan dalam hati bahwa sebentar
lagi akan sampai
rumah. Ia berjalan bersama istrinya, pasangan muda ini sengaja meninggalkan
kendaraan pribadi di rumah agar dapat berjalan berdua. Gus dan Intan, terlihat
serasi walau mustahil tak ada cela.
“Gak
ada bintang lagi malam ini.” keluh Intan pada suaminya. Konon dalam riwayat hidupnya, ia sering melihat
bintang bersama ayahnya pada saat ia masih kecil.
“Hmm.”
Gus hanya menghela nafas meng-iya-kan pernyataan istrinya sambil menengok ke
atas sekilas. Sebenarnya ia sudah tak tahan dengan angin malam yang nakal masuk
menembus jaket tebalnya.
Beberapa
detik kemudian hanya angin yang bersuara. Teringat sebuah dongeng lama, entah ia baca di mana atau diceritakan
siapa, Gus memecah keheningan itu.
“Aku udah pernah cerita tentang
mengapa langit gak berbintang, belum?”
“Kayaknya belum.” Intan
menggeleng, tapi tertarik dengan judul dongeng itu, meskipun ia ragu suaminya dapat
membawakannya dengan baik. Terakhir kali ia mendongeng, alurnya berantakan, hal
yang seharusnya jadi klimaks malah diceritakan paling awal. sementara tanpa
sadar ia sudah berada di depan rumah.
“Nah, kopi hangat kayaknya cocok
buat dongeng ini.”
“kisah ini, tentang sepasang
kekasih yang..” Gus memulai kisahnya. Mencari-cari kata, tak ada yang tepat. “kisah
ini tentang sepasang kekasih.” Ia menegaskan kalimat pertama. “bernama.. emm” mencari-cari
nama, ia yakin nama itu terselip di antara beratus nama yang ia tahu. “aku lupa
siapa nama yang cowoknya. Pokoknya yang cewek namanya Lintang.
“Hm.” Intan sudah menduga
suaminya bukan pendongeng yang handal. Tapi ia tetap menyimak dengan antusias. “Kasih
nama siapa gitu, terserah aja. Dongeng ini, kan?” ia memberi usulan.
“Oke, namanya Ragil.” ia
lanjutkan. “Malam itu, Ragil memandang langit, tak ada bintang. Lalu ia
mengeluh kenapa tak ada bintang. Padahal ia bisa berjam-jam memandang langit
dini hari hanya untuk melihat bintang. Entahlah, orang bilang bumi ini sudah
kebanyakan cahaya buatan, jadi sulit untuk melihat bintang di langit.”
“Sudah beberapa tahun ia
merindukan saat-saat melihat bintang. Sepertinya penduduk bumi tak lagi
menghiraukan hal-hal semacam itu. mereka lebih mementingkan apa yang di depan
mata. Sampai satu saat ketika ia duduk di bangku taman, suasana petang
menjelang maghrib. Ia menunggu bus untuk pulang. Ragil sibuk dengan ponselnya.”
Ia berhenti sejenak. Gus menangkap kebingungan di mata istrinya. “Oh, ini bukan
dongeng yang dimulai dengan ‘dahulu kala’ kan?”
“Hm.” Intan mengangguk,
pertanyaannya tentang ponsel terjawab.
Satu sesapan kopi
Ragil masih berkutat dengan
ponselnya. Sampai seorang wanita mendekat dan berkata ‘sepertinya tak ada bintang
malam ini’. Ragil menoleh dan ingin menertawakan, ‘ini kan belum malam.’. kemudian
ia mempersilahkan wanita itu untuk duduk di sampingnya. Wanita itu tertawa
kecil mendengar tanggapan dari Ragil. ‘sebenarnya aku perhatiin kamu, tiap
malam memandang ke langit, terus menghela nafas. Pasti pengen liat bintang,
kan?
Ragil heran, di zaman seperti
ini masih ada orang yang memperhatikan orang lain dengan sebegitunya. ‘Bahkan
kita belum tahu nama satu sama lain.’ Ia perhatikan lagi wanita itu dari bawah
hingga atas. Terlihat normal.
‘emm, Aku Lintang. Kamu Ragil,
kan?’ menangkap kebingungan Ragil. Lintang menunjuk nametag yang masih
bergantung di saku kanannya. Ragil gelagapan menyimpan nametag yang lupa belum
dilepas. Mereka memang bekerja di tempat yang bersebelahan.
Satu sesapan kopi lagi
“Bentar, ini dongeng apa reality
show?” Protes Intan karena ia pikir bakal ada magic dan miracle atau bullshit
apalah yang membuat anak kecil senang.
“Hahaha.. akhirnya kamu protes
juga. sebenernya yang itu bercanda, aku lupa gimana mereka ketemu.
“Ayolaah. Aku udah nyimak ini.”
Rengek Intan.
“Sebenernya juga, latar dongengnya
ada di hutan jaman dahulu kala gitu-gitu.”
“Ulangi dari awal.”
“Aha, aku ingat namanya.”
Satu lagi sesapan kopi
yang mulai dingin
Kisah tentang Aksa dan Lintang.
Aksa adalah seorang pujangga
dengan kehidupan sederhana. Waktu ia kecil, ia sering memandang ke langit pada
malam hari untuk melihat bintang. Namun, semuanya berubah ketika ia sudah mulai
beranjak dewasa. Seorang gadis jatuh cinta padanya, tak ada alasan bagi aksa
untuk menolak, gadis itu cantik jelita indah rupawan. Tak menunggu lama, ia pun
menikahi gadis itu. Ya, gadis itu bernama Lintang.
Lalu apa hubungannya dengan
Bintang? Apa karena Lintang adalah Bintang yang diganti huruf depannya? Sehingga
Aksa seolah memiliki pengganti bintang di langitnya yang hilang? Hampir. Hampir
seperti itu, tapi bukan.
Mereka hidup bersama bahagia,
namun tidak selamanya. Aksa sering bercerita pada Lintang bahwa ia sering
melihat bintang di waktu kecilnya. Dan Aksa berharap agar ia dapat melihatnya
kembali bersama dengan kekasihnya . Entah mengapa hal itu malah membuat Lintang
menangis. Namun Lintang tak mau menjelaskan sebabnya. Malam itu Lintang terisak
di pelukan Aksa. Hingga akhirnya Aksa tak mau lagi bercerita tentang hal itu.
Pasangan itu serasi, walau
mustahil tak ada cela. Mereka beruban dan menua. Namun mereka telah dikaruniai
seorang putri cantik jelita indah rupawan sama seperti ibunya. Aksa bahagia,
seolah ada dua bintang masuk dalam rumahnya.
Malam itu, ketika Aksa mendongeng
pada putri kecilnya, terasa angin malam mengusiknya. Aksa menghentikan sejenak
ceritanya untuk mencari tahu asal angin itu. ia lihat di ruang tengah, tak ada orang,
namun pintu depan terbuka lebar. Ia memanggil nama istrinya, mungkin saja ia
sedang di depan. Namun tak ada jawaban. Ia menutup kembali pintu depan,
kemudian kembali bersama putri kecilnya.
Secara naluriah, ia penasaran
dimana gerangan istrinya berada. Setelah putrinya tertidur, tak didapati
Lintang di setiap sudut rumahnya. Mulai timbul perasaan yang aneh dalam
hatinya. ia ambil lentera dalam rumah, kemudian mulai menerjang angin malam
yang dingin. Mencari Lintang.
Angin malam yang biasanya
membuatnya menggigil kini tak terasa lagi. ia terus mengejar kekasihnya yang
entah mengapa menghindar darinya. Makhluk malam pun seolah berhenti bersuara,
tegang menyaksikan sebuah drama. Di jalan setapak dengan cahaya kecil dari
lenteranya, ia melihat, kekasihnya kini terduduk lemas 10 meter di depannya. Cahaya
kecil mulai berterbangan dari tubuhnya. Kunang-kunang, namun yang ini tetap
melayang ke atas. Lelaki itu terdiam sejenak, takjub, namun ia kembali sadar
bahwa cahaya itu muncul dari kekasihnya. Ia bergegas berjalan ke depan, mencari
tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tak ada sesapan kopi
Aksa meletakkan lentera di
sampingnya. Mulai merengkuh tubuh kekasihnya yang rapuh itu. cahaya itu masih
tetap berterbangan, mengikis tubuh Lintang. Sebenarnya ia masih bingung
sebenarnya apa yang terjadi. Tak perlu ditanya, Lintang mulai menjelaskan
semuanya. ‘saat kecil, kau sering melihatku, aku adalah salah satu bintang yang
sering kau pandang. Seiring berjalannya waktu, aku jatuh cinta kepadamu. Satu-satunya
jalan supaya aku bisa hidup bersamamu adalah aku dan bintang yang lain harus
menghilang dan tak bisa terlihat lagi. Sedih, melihatmu tak bisa melihat
bintang-bintang lagi. aku terlalu mengedepankan ego-ku. Setidaknya, kau pernah
bertemu dengan bintang.’ Lintang terkekeh lemah. ‘Kini, sudah ada bintang lain yang
akan selalu menemanimu. Waktuku untuk mengembalikan kebahagiaanmu, kau bisa memandang
bintang-bintang lagi, bahkan bersama putri kita.’
Aksa tidak dapat berkata-kata. Entah
mana yang harus ia sanggah. Tak ada waktu. Cahaya-cahaya itu menari
mengangkasa. Membentuk susunan sama seperti sebelumnya. Langit terang oleh
cahaya itu.
kopi sudah habis, hanya ada isakan
“sekarang aku tahu kenapa ayah dulu sering mengajak aku melihat bintang.” Bisik Intan dalam isaknya.
Gus hanya terpaku kebingungan. Malam
itu Intan terisak dalam pelukan Gus.