Sabtu, 11 April 2015

Mengapa Langit Tak Berbintang


                Angin malam membuatnya sedikit menggigil. Tapi ia kuatkan dalam hati bahwa sebentar lagi akan sampai rumah. Ia berjalan bersama istrinya, pasangan muda ini sengaja meninggalkan kendaraan pribadi di rumah agar dapat berjalan berdua. Gus dan Intan, terlihat serasi walau mustahil tak ada cela.
                “Gak ada bintang lagi malam ini.” keluh Intan pada suaminya. Konon dalam riwayat hidupnya, ia sering melihat bintang bersama ayahnya pada saat ia masih kecil.
                “Hmm.” Gus hanya menghela nafas meng-iya-kan pernyataan istrinya sambil menengok ke atas sekilas. Sebenarnya ia sudah tak tahan dengan angin malam yang nakal masuk menembus jaket tebalnya.
                Beberapa detik kemudian hanya angin yang bersuara. Teringat sebuah dongeng lama, entah ia baca di mana atau diceritakan siapa, Gus memecah keheningan itu.
                “Aku udah pernah cerita tentang mengapa langit gak berbintang, belum?”
                “Kayaknya belum.” Intan menggeleng, tapi tertarik dengan judul dongeng itu, meskipun ia ragu suaminya dapat membawakannya dengan baik. Terakhir kali ia mendongeng, alurnya berantakan, hal yang seharusnya jadi klimaks malah diceritakan paling awal. sementara tanpa sadar ia sudah berada di depan rumah.
                “Nah, kopi hangat kayaknya cocok buat dongeng ini.”

                “kisah ini, tentang sepasang kekasih yang..” Gus memulai kisahnya. Mencari-cari kata, tak ada yang tepat. “kisah ini tentang sepasang kekasih.” Ia menegaskan kalimat pertama. “bernama.. emm” mencari-cari nama, ia yakin nama itu terselip di antara beratus nama yang ia tahu. “aku lupa siapa nama yang cowoknya. Pokoknya yang cewek namanya Lintang.
                “Hm.” Intan sudah menduga suaminya bukan pendongeng yang handal. Tapi ia tetap menyimak dengan antusias. “Kasih nama siapa gitu, terserah aja. Dongeng ini, kan?” ia memberi usulan.
                “Oke, namanya Ragil.” ia lanjutkan. “Malam itu, Ragil memandang langit, tak ada bintang. Lalu ia mengeluh kenapa tak ada bintang. Padahal ia bisa berjam-jam memandang langit dini hari hanya untuk melihat bintang. Entahlah, orang bilang bumi ini sudah kebanyakan cahaya buatan, jadi sulit untuk melihat bintang di langit.”
                “Sudah beberapa tahun ia merindukan saat-saat melihat bintang. Sepertinya penduduk bumi tak lagi menghiraukan hal-hal semacam itu. mereka lebih mementingkan apa yang di depan mata. Sampai satu saat ketika ia duduk di bangku taman, suasana petang menjelang maghrib. Ia menunggu bus untuk pulang. Ragil sibuk dengan ponselnya.” Ia berhenti sejenak. Gus menangkap kebingungan di mata istrinya. “Oh, ini bukan dongeng yang dimulai dengan ‘dahulu kala’ kan?”
                “Hm.” Intan mengangguk, pertanyaannya tentang ponsel terjawab.

Satu sesapan kopi

                Ragil masih berkutat dengan ponselnya. Sampai seorang wanita mendekat dan berkata ‘sepertinya tak ada bintang malam ini’. Ragil menoleh dan ingin menertawakan, ‘ini kan belum malam.’. kemudian ia mempersilahkan wanita itu untuk duduk di sampingnya. Wanita itu tertawa kecil mendengar tanggapan dari Ragil. ‘sebenarnya aku perhatiin kamu, tiap malam memandang ke langit, terus menghela nafas. Pasti pengen liat bintang, kan?
                Ragil heran, di zaman seperti ini masih ada orang yang memperhatikan orang lain dengan sebegitunya. ‘Bahkan kita belum tahu nama satu sama lain.’ Ia perhatikan lagi wanita itu dari bawah hingga atas. Terlihat normal.
                ‘emm, Aku Lintang. Kamu Ragil, kan?’ menangkap kebingungan Ragil. Lintang menunjuk nametag yang masih bergantung di saku kanannya. Ragil gelagapan menyimpan nametag yang lupa belum dilepas. Mereka memang bekerja di tempat yang bersebelahan.

Satu sesapan kopi lagi

                “Bentar, ini dongeng apa reality show?” Protes Intan karena ia pikir bakal ada magic dan miracle atau bullshit apalah yang membuat anak kecil senang.
                “Hahaha.. akhirnya kamu protes juga. sebenernya yang itu bercanda, aku lupa gimana mereka ketemu.
                “Ayolaah. Aku udah nyimak ini.” Rengek Intan.
                “Sebenernya juga, latar dongengnya ada di hutan jaman dahulu kala gitu-gitu.”
                “Ulangi dari awal.”
                “Aha, aku ingat namanya.”

Satu lagi sesapan kopi yang mulai dingin

                Kisah tentang Aksa dan Lintang.

                Aksa adalah seorang pujangga dengan kehidupan sederhana. Waktu ia kecil, ia sering memandang ke langit pada malam hari untuk melihat bintang. Namun, semuanya berubah ketika ia sudah mulai beranjak dewasa. Seorang gadis jatuh cinta padanya, tak ada alasan bagi aksa untuk menolak, gadis itu cantik jelita indah rupawan. Tak menunggu lama, ia pun menikahi gadis itu. Ya, gadis itu bernama Lintang.
                Lalu apa hubungannya dengan Bintang? Apa karena Lintang adalah Bintang yang diganti huruf depannya? Sehingga Aksa seolah memiliki pengganti bintang di langitnya yang hilang? Hampir. Hampir seperti itu, tapi bukan.
                Mereka hidup bersama bahagia, namun tidak selamanya. Aksa sering bercerita pada Lintang bahwa ia sering melihat bintang di waktu kecilnya. Dan Aksa berharap agar ia dapat melihatnya kembali bersama dengan kekasihnya . Entah mengapa hal itu malah membuat Lintang menangis. Namun Lintang tak mau menjelaskan sebabnya. Malam itu Lintang terisak di pelukan Aksa. Hingga akhirnya Aksa tak mau lagi bercerita tentang hal itu.
                Pasangan itu serasi, walau mustahil tak ada cela. Mereka beruban dan menua. Namun mereka telah dikaruniai seorang putri cantik jelita indah rupawan sama seperti ibunya. Aksa bahagia, seolah ada dua bintang masuk dalam rumahnya.
                Malam itu, ketika Aksa mendongeng pada putri kecilnya, terasa angin malam mengusiknya. Aksa menghentikan sejenak ceritanya untuk mencari tahu asal angin itu. ia lihat di ruang tengah, tak ada orang, namun pintu depan terbuka lebar. Ia memanggil nama istrinya, mungkin saja ia sedang di depan. Namun tak ada jawaban. Ia menutup kembali pintu depan, kemudian kembali bersama putri kecilnya.
                Secara naluriah, ia penasaran dimana gerangan istrinya berada. Setelah putrinya tertidur, tak didapati Lintang di setiap sudut rumahnya. Mulai timbul perasaan yang aneh dalam hatinya. ia ambil lentera dalam rumah, kemudian mulai menerjang angin malam yang dingin. Mencari Lintang.
                Angin malam yang biasanya membuatnya menggigil kini tak terasa lagi. ia terus mengejar kekasihnya yang entah mengapa menghindar darinya. Makhluk malam pun seolah berhenti bersuara, tegang menyaksikan sebuah drama. Di jalan setapak dengan cahaya kecil dari lenteranya, ia melihat, kekasihnya kini terduduk lemas 10 meter di depannya. Cahaya kecil mulai berterbangan dari tubuhnya. Kunang-kunang, namun yang ini tetap melayang ke atas. Lelaki itu terdiam sejenak, takjub, namun ia kembali sadar bahwa cahaya itu muncul dari kekasihnya. Ia bergegas berjalan ke depan, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tak ada sesapan kopi

                Aksa meletakkan lentera di sampingnya. Mulai merengkuh tubuh kekasihnya yang rapuh itu. cahaya itu masih tetap berterbangan, mengikis tubuh Lintang. Sebenarnya ia masih bingung sebenarnya apa yang terjadi. Tak perlu ditanya, Lintang mulai menjelaskan semuanya. ‘saat kecil, kau sering melihatku, aku adalah salah satu bintang yang sering kau pandang. Seiring berjalannya waktu, aku jatuh cinta kepadamu. Satu-satunya jalan supaya aku bisa hidup bersamamu adalah aku dan bintang yang lain harus menghilang dan tak bisa terlihat lagi. Sedih, melihatmu tak bisa melihat bintang-bintang lagi. aku terlalu mengedepankan ego-ku. Setidaknya, kau pernah bertemu dengan bintang.’ Lintang terkekeh lemah. ‘Kini, sudah ada bintang lain yang akan selalu menemanimu. Waktuku untuk mengembalikan kebahagiaanmu, kau bisa memandang bintang-bintang lagi, bahkan bersama putri kita.’
                Aksa tidak dapat berkata-kata. Entah mana yang harus ia sanggah. Tak ada waktu. Cahaya-cahaya itu menari mengangkasa. Membentuk susunan sama seperti sebelumnya. Langit terang oleh cahaya itu.

kopi sudah habis, hanya ada isakan

                “sekarang aku tahu kenapa ayah dulu sering mengajak aku melihat bintang.” Bisik Intan dalam isaknya.

                Gus hanya terpaku kebingungan. Malam itu Intan terisak dalam pelukan Gus.

Selasa, 07 April 2015

prolog

dengan rahmat Tuhan yang Maha Kuasa, terciptalah blog ini dengan aman sentosa. dan oleh karena itu, sekiranya saya perlu untuk mengucapkan sambutan-sambutan kecil untuk memeriahkan blog ini. sambutan yang pertama, sebenarnya hanya ada satu sambutan, saya ucapkan terimakasih kepada siapapun pemilik blogger.com karena dengan ide kreatifnya, saya bisa menuliskan berbagai hal yang terlintas di pikiran. kemudian daripada itu, dengan adanya blog ini, saya harapkan khususnya bagi saya dapat menuangkan ide-ide (baca: sampah) yang ada di otak saya, sehingga otak saya bisa tetap bersih higenis dan teruji secara klinis. dan harapan saya secara umumnya kepada hadirin pembaca sekalian dapat menikmati ide-ide (baca: mengolah sampah) yang telah saya tuangkan ke dalam blog ini. sehingga terciptalah harmoni dan esmoni(?) antara diri saya pribadi dan hadirin sekalian.
selanjutnya, saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada hadirin sekalian yang mau menyempatkan mampir ke gubuk saya ini. permohonan maaf juga saya sampaikan sekiranya ada hal-hal yang menyinggung perasaan, menyakiti mata, menyakiti hati dan pikiran, ataupun salah kata dan pengucapan. semoga hadirin sekalian mendapatkan manfaat dari blog ini.
bunga 'kan layu bila tak disiram, oleh karena itu kritik dan saran dari hadirin sekalian akan sangat membantu saya, akhir kata.