Senin, 14 Desember 2015

Muspra

                Hujan deras di luar terdengar sampai tempatku terbaring. Sedikit kupicingkan mata untuk mulai menyadari dimana keberadaanku. Kurasa tempat ini tidak asing, tapi berbeda. Lalu kubuka kembali lebih lebar. Ya, tempat ini tidak asing. Pandanganku melewati pintu kamar yang setengah terbuka. meyakinkanku lagi bahwa tempat ini memang rumahku. Pertanyaannya, sejak kapan aku berada di rumahku?
                Malas berpikir aku langsung turun dari tempat tidur. Melihat sekitar, masih meyakinkan diri. Di ruang tengah, terlihat ibu jongkok dan mengepel lantai yang basah. Aku spontan mendongakkan kepala. Oh, bocor.
                ”Buk, ada apa?” aku langsung bertanya.
                “Wes, ndak usah dipikir, Nang.” Ibu mengerti apa yang ingin aku tahu. Bukan tentang atap bocor tentunya.
                “Tapi aku gak mikir apa-apa, Buk.” Aku sama sekali tidak punya clue tentang teka-teki ini.
                “Bantu bapakmu aja itu lho, lagi angkut-angkut barang.” Ibu langsung mengusir rasa penasaranku.
                Spontan aku menengok. Pandanganku melewati pintu depan yang langsung membatasi ruang luar. Di sana, terlihat bapak sedang mengangkat barang-barang. Sepertinya aku kenal barang-barang itu. Di luar hujan, bapak tetap mengangkat barang-barang itu dari dalam mobil hitam. Entah mobil punya siapa. Aku mendekat. Masih ling-lung.
Ternyata ada mbakku berdiri di sana.
“Mbak, ada apa?” tanpa basa-basi selamat pagi aku langsung bertanya. Mungkin karena kita sering kongkalikong, dia akan bersedia menjelaskan. Tapi dia tidak serta merta menjawab, melirik ke arah ibu. Ibu menggeleng. Aku tahu tandanya. Lalu ia hanya menatapku prihatin sambil menggeleng.
Saat aku menengok lagi keluar, bapak sudah berjalan masuk. Mungkin barang yang diangkat sudah habis. Barang-barang itu bertumpuk di teras rumah. Jauh dari tampias.
“Pak, sudah habis?” aku bertanya menawarkan bantuan. Beliau mengangguk. Wajahnya sama susahnya. Kemejanya basah. Bergegas menuju kamar mandi.
Aduh, kenapa dengan semua orang disini? Muka susah, ditanya tidak menjawab. Aku jadi bingung.
-0-

Aku baru menyadari bahwa tadi itu senja ketika adzan maghrib terdengar. Walau agak aneh ketika wudhu. Tapi setelah itu menjalani rutinitas biasa, sholat berjamaah. Terlihat tatapan orang yang dibuat sewajar mungkin ketika melihatku, tapi sama sekali terlihat tidak wajar. Tadarus alquran hingga isya, sholat isya berjamaah. Jumlah orang lebih sedikit dan tatapan mereka sudah mulai terbiasa.
Makan malam
Sekarang aku yang berusaha bersikap biasa. Makan dengan lahap. Di tengah-tengah acara makan, terdengar suara salam dari pintu depan, lalu seorang lelaki masuk dengan kemeja dan tas jinjing. Mencium pipi mbak dan ikut duduk. Semua oang di meja itu terlihat biasa sebelum mereka melihat raut penasaran, dan tatapan minta penjelasan dariku.
Satu detik, dua detik, tiga detik…
“Hai Fasha, aku Haqi. Suami mbakmu.” Dia yang menyalamiku langsung. Satu kepingan puzzle terpasang. Tetap saja masih belum nampak gambar di puzzle itu.
Ibu mengisyaratkan agar cepat menyelesaikan makan. Butuh tiga puluh detik untuk mencerna kalimat dari lelaki yang mengaku bernama Haqi itu. Hei!! Mbakku sudah menikah. Apakah aku tertidur selama ini dan baru bangun tadi sore? Saat aku berwudhu aku merasakan ada hal aneh, ya! Ada brewok di wajahku. Sejak kapan aku punya brewok? Tubuhku juga sudah tidak sekurus dulu.
Rumah ini memang tidak asing, masih ada di dalam ingatanku, tapi sebenarnya ada perubahan di sana sini. Apa yang terjadi? Itu pertanyaan yang harus secepatnya dijawab.
Tapi ibu sudah melotot memintaku cepat menghabiskan makan.
Setelah semua selesai makan, mbak Faizah mengambil semua piring dan gelas kotor ke dapur. Semua orang –bapak, ibu, Mas Haqi masih tetap duduk di bangku masing-masing.
Mbak Faizah kembali duduk. Aku di ujung meja, jantungku berdebar. Antara siap dan tidak siap menerima penjelasan.
“Umurmu berapa, Nang?” itu pertanyaan yang aneh. 20 tahun, itu usiaku, seharusnya ibu tau itu. tapi forum ini seperti mengintrogasi anak kecil yang mencuri permen. Aku jadi ikut tegang.
“20.” Jawabku singkat.
Sekarang bukan tatapan prihatin yang terlihat di wajah mereka, melainkan senyum penuh perhatian dan kasih sayang. Masih belum tertangkap arah pembicaraan ini.
“Sekarang tahun berapa?” ibu memberi pertanyaan aneh lagi. sebenarnya ibu bisa melihatnya di kalender. Jelas-jelas ini akhir tahun 2015.
“2015.” Aku menjawab polos. Semua kembali tersenyum, mengerti seberapa penasaran yang aku derita.
“sekarang sudah tahun 2026. Coba lihat kalender di HP.” Bapak yang kali ini angkat bicara sambil menyerahkan HP-nya. . Satu puzzle lain terpasang.
Sek, sek. Umurku berarti 31 tahun?”
Semua orang mengangguk. Ibu langsung mengetahui kepanikanku.
“Sebelum bangun tidur tadi sore, Terakhir kali kamu lagi dimana?” ibu bertanya lagi dengan senyumnya.
-0-
Sudah tahun ke dua aku berada di pesantren ini. semua terasa baik-baik saja. Setiap hari belajar agama, mengaji, sholat berjamaah, selain itu juga berangkat kuliah setiap hari selasa hingga jumat. Setahun dua kali pulang kampung untuk melepas rindu dengan keluarga. Semua terasa benar-benar baik-baik saja.
-0-
“Sudah, Cuma itu yang kuingat.”
Semua orang di meja makan itu menghela napas.
“Kau siap mendengar cerita hebat ini?” Bapak bertanya hati-hati. “Sebenarnya dokter melarangnya.”
Dokter? Aku mengangguk. “Daripada aku penasaran seumur hidup dengan sebelas tahunku yang hilang.”
“Oke, kita mulai dari titik terakhir memori yang kau punya.” Ibu memulai penjelasan. “Sebelas tahun yang lalu, saat kamu masih menjadi santri di pesantren sana, semua memang terasa baik-baik saja. Orang rumah menanyakan kabar dua bulan sekali. Hingga di penghujung tahun 2015. Kamu ndak bisa dihubungi. Orang rumah merasa semua baik-baik saja. Mungkin kamu lagi sibuk. Itu salah kami kenapa tidak langsung bergegas menjengukmu di sana.
“Hingga pada tanggal 20 desember 2015, jam 9 malam. Ada yang mengetok pintu rumah ini. Laki-laki seusia denganmu. Faris, kenal?”
Aku mengangguk. Dia teman sekamarku.
“Kabar itu seperti bledeg menyambar di siang bolong. Ibu shock, semua orang di rumah ini juga. Dia bilang kamu sudah menikah. Usiamu baru 20 tahun bahkan.” Ibu mengambil napas sejenak. “Waktu itu ibu ndak tau mau sedih apa seneng. Sedih karena mikir kenapa kamu ndak ngabari. Atau seneng karena kamu sudah menikah.
“Tapi, Faris bilang. Kondisimu mengenaskan. Itulah kenapa dia rela jauh-jauh mencari alamat rumah kita yang plosok ini. Saat itu ibu sangat terimakasih sama anak baik hati itu. Dia bilang kamu jadi sering melamun, dipanggil ndak nyaut, disuruh makan ndak mau.” Ibu sudah terisak sekarang.
“Tanpa lama-lama, bapak langsung minjem mobil pak Haji Makmur. Malam itu juga berangkat ke pesantrenmu.” Sekarang bapak yang meneruskan, membiarkan ibu membersihkan ingus sejenak.
“Disana, kamu sangat kurus, tatapanmu kosong. Bapak ndak tahu kenapa sangat tiba-tiba kejadian itu. istrimu cantik, tapi kelakuannya ndak. Pas keadaanmu ngenes, dia sama sekali ndak ngurusi kamu. Bapak bertanya-tanya, apa benar istri idamanmu kayak gitu? Saat itu bapak sudah ngerasa ada yang ndak beres di sini”
Di luar, gerimis mulai turun lagi. mungkin sisa-sisa dari hujan tadi sore.
“Dia anak kyai, tapi kelakuannya ndak mencerminkan itu” Bapak berapi-api. “Mungkin karena kamu ngganteng, sholeh, berwibawa, dia jadi kepincut. Sudah berbagai cara tebar pesona kamu ndak ngelirik sedikitpun. Akhirnya, dia pakai cara yang tidak terpuji.” Nada suara bapak kini lirih. Ada kebencian menggantung di ujung katnya.
“Kamu dijebak. Anak kyai itu pintar banget bikin skenario. Dia juga tau kamu ndak mungkin mau digoda. Akhirnya dia bilang ke ayahnya, dia sudah dilecehkan. Memang ada bukti dia positif hamil. Ndak tau itu anak siapa.”
Aku masih terdiam. Menghela napas. Sungguh? Kenapa aku tidak berdaya?
“Pak kyai mengancam kamu untuk dilaporkan polisi. konsekuensinya, kamu bakalan drop out dari kuliah dan tentu mencoreng nama keluarga. Tapi seperti yang diinginkan putrinya, kamu ndak bakal dilaporkan kalau mau menikahi putrinya. Kyai tahu kamu masih kuliah. Dia bersedia nanggung hidupmu dan istrimu sampai kamu berpenghasilan. Kamu ndak mau ambil pusing. Bahkan ibu bapakmu ndak diberi kabar. Kalaupun kamu masih bisa mikir, sebenarnya kamu bisa tes DNA. Tapi kamu panik. Kamu langsung milih nikah.”
“Kamu mulai kehilangan akal sehatmu. Terkekang dalam ketidakbahagiaan. Nggantengmu ilang, ndak ada lagi yang bisa dibanggakan istrimu. akhirnya setelah tiga bulan menikah, dia minta cerai. Sakpenake udel!!”
Aku kaget mendengar nada bicara bapak yang meninggi.
“Akhirnya setelah resmi cerai, Kamu dibawa ke RSJ karena memang kondisimu mengenaskan. Kami orang rumah juga ndak sanggup ngurus. Disitu kamu diterapi.” Mbak Faizah kini yang bercerita. “Cukup lama kamu diterapi disitu. Sampai kami ndak punya harapan kamu bakal bisa jalani hidup secara normal.”
“Dokternya bilang, kamu bisa jalani hidup dengan normal, tapi dengan catatan memori sebelum kamu gila bakal kehapus. Dan kamu ngerasa kayak beberapa tahun dari hidupmu hilang.”
Aku diam. Semua ikut diam. Puzzle sudah hampir terselesaikan.
“Fasha,” Ibu memanggil. Aku masih diam
Semua orang di meja makan menjadi tegang. Setelah susah payah memori itu dihilangkan, kini dijelaskan lagi, takut aku kembali gila.
“Fas,” sekarang mas Haqi juga menepuk pundakku.
“Lalu,” akhirnya aku berbicara. Semua orang lega setelah menahan napas beberapa detik “mas Haqi dan mbak Faizah kapan nikahnya?”
“Setahun yang lalu. Kamu masih di RSJ.” Mas Haqi yang menjawab.
“Ooh.”
Sepertinya pertanyaan “Ada apa” ku sudah terjawab. Ada berbagai hal. Sekarang aku masih bisa melanjutkan hidupku. Sangat bersyukur tidak terkekang dalam ketidakbahagiaan. Sekarang, usiaku 31 tahun, masih bisa mencari pekerjaan dan hidup dengan normal. Aku masih berpikir, ternyata orang gila bisa sembuh. Bahkan aku tak tahu apa akhirnya jika akal sehatku tidak kembali lagi.

Kenangan buruk  tidak harus dihilangkan, jangan pernah meminta untuk dihilangkan ingatan masa lalu hanya untuk menghapus kesedihan. Jadikan itu tameng agar lebih kuat menghadapi masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar