Hujan
deras di luar terdengar sampai tempatku terbaring. Sedikit kupicingkan mata
untuk mulai menyadari dimana keberadaanku. Kurasa tempat ini tidak asing, tapi
berbeda. Lalu kubuka kembali lebih lebar. Ya, tempat ini tidak asing. Pandanganku
melewati pintu kamar yang setengah terbuka. meyakinkanku lagi bahwa tempat ini memang
rumahku. Pertanyaannya, sejak kapan aku berada di rumahku?
Malas
berpikir aku langsung turun dari tempat tidur. Melihat sekitar, masih
meyakinkan diri. Di ruang tengah, terlihat ibu jongkok dan mengepel lantai yang
basah. Aku spontan mendongakkan kepala. Oh, bocor.
”Buk, ada apa?” aku langsung bertanya.
“Wes,
ndak usah dipikir, Nang.” Ibu mengerti apa yang ingin aku tahu. Bukan tentang
atap bocor tentunya.
“Tapi
aku gak mikir apa-apa, Buk.” Aku sama sekali tidak punya clue tentang teka-teki
ini.
“Bantu
bapakmu aja itu lho, lagi angkut-angkut barang.” Ibu langsung mengusir rasa
penasaranku.
Spontan
aku menengok. Pandanganku melewati pintu depan yang langsung membatasi ruang luar.
Di sana, terlihat bapak sedang mengangkat barang-barang. Sepertinya aku kenal
barang-barang itu. Di luar hujan, bapak tetap mengangkat barang-barang itu dari
dalam mobil hitam. Entah mobil punya siapa. Aku mendekat. Masih ling-lung.
Ternyata ada
mbakku berdiri di sana.
“Mbak, ada apa?”
tanpa basa-basi selamat pagi aku langsung bertanya. Mungkin karena kita sering
kongkalikong, dia akan bersedia menjelaskan. Tapi dia tidak serta merta
menjawab, melirik ke arah ibu. Ibu menggeleng. Aku tahu tandanya. Lalu ia hanya
menatapku prihatin sambil menggeleng.
Saat aku
menengok lagi keluar, bapak sudah berjalan masuk. Mungkin barang yang diangkat
sudah habis. Barang-barang itu bertumpuk di teras rumah. Jauh dari tampias.
“Pak, sudah
habis?” aku bertanya menawarkan bantuan. Beliau mengangguk. Wajahnya sama
susahnya. Kemejanya basah. Bergegas menuju kamar mandi.
Aduh, kenapa
dengan semua orang disini? Muka susah, ditanya tidak menjawab. Aku jadi
bingung.
-0-
Aku baru
menyadari bahwa tadi itu senja ketika adzan maghrib terdengar. Walau agak aneh
ketika wudhu. Tapi setelah itu menjalani rutinitas biasa, sholat berjamaah. Terlihat
tatapan orang yang dibuat sewajar mungkin ketika melihatku, tapi sama sekali
terlihat tidak wajar. Tadarus alquran hingga isya, sholat isya berjamaah. Jumlah
orang lebih sedikit dan tatapan mereka sudah mulai terbiasa.
Makan malam
Sekarang aku
yang berusaha bersikap biasa. Makan dengan lahap. Di tengah-tengah acara makan,
terdengar suara salam dari pintu depan, lalu seorang lelaki masuk dengan kemeja
dan tas jinjing. Mencium pipi mbak dan ikut duduk. Semua oang di meja itu terlihat
biasa sebelum mereka melihat raut penasaran, dan tatapan minta penjelasan
dariku.
Satu detik, dua
detik, tiga detik…
“Hai Fasha, aku
Haqi. Suami mbakmu.” Dia yang menyalamiku langsung. Satu kepingan puzzle
terpasang. Tetap saja masih belum nampak gambar di puzzle itu.
Ibu mengisyaratkan
agar cepat menyelesaikan makan. Butuh tiga puluh detik untuk mencerna kalimat
dari lelaki yang mengaku bernama Haqi itu. Hei!! Mbakku sudah menikah. Apakah aku
tertidur selama ini dan baru bangun tadi sore? Saat aku berwudhu aku merasakan
ada hal aneh, ya! Ada brewok di wajahku. Sejak kapan aku punya brewok? Tubuhku juga
sudah tidak sekurus dulu.
Rumah ini memang
tidak asing, masih ada di dalam ingatanku, tapi sebenarnya ada perubahan di
sana sini. Apa yang terjadi? Itu pertanyaan yang harus secepatnya dijawab.
Tapi ibu sudah
melotot memintaku cepat menghabiskan makan.
Setelah semua
selesai makan, mbak Faizah mengambil semua piring dan gelas kotor ke dapur. Semua
orang –bapak, ibu, Mas Haqi masih tetap duduk di bangku masing-masing.
Mbak Faizah
kembali duduk. Aku di ujung meja, jantungku berdebar. Antara siap dan tidak
siap menerima penjelasan.
“Umurmu berapa,
Nang?” itu pertanyaan yang aneh. 20 tahun, itu usiaku, seharusnya ibu tau itu.
tapi forum ini seperti mengintrogasi anak kecil yang mencuri permen. Aku jadi
ikut tegang.
“20.” Jawabku singkat.
Sekarang bukan
tatapan prihatin yang terlihat di wajah mereka, melainkan senyum penuh
perhatian dan kasih sayang. Masih belum tertangkap arah pembicaraan ini.
“Sekarang tahun
berapa?” ibu memberi pertanyaan aneh lagi. sebenarnya ibu bisa melihatnya di
kalender. Jelas-jelas ini akhir tahun 2015.
“2015.” Aku menjawab
polos. Semua kembali tersenyum, mengerti seberapa penasaran yang aku derita.
“sekarang sudah
tahun 2026. Coba lihat kalender di HP.” Bapak yang kali ini angkat bicara
sambil menyerahkan HP-nya. . Satu puzzle lain terpasang.
“Sek, sek.
Umurku berarti 31 tahun?”
Semua orang
mengangguk. Ibu langsung mengetahui kepanikanku.
“Sebelum bangun
tidur tadi sore, Terakhir kali kamu lagi dimana?” ibu bertanya lagi dengan
senyumnya.
-0-
Sudah tahun ke
dua aku berada di pesantren ini. semua terasa baik-baik saja. Setiap hari
belajar agama, mengaji, sholat berjamaah, selain itu juga berangkat kuliah
setiap hari selasa hingga jumat. Setahun dua kali pulang kampung untuk melepas
rindu dengan keluarga. Semua terasa benar-benar baik-baik saja.
-0-
“Sudah, Cuma itu
yang kuingat.”
Semua orang di
meja makan itu menghela napas.
“Kau siap
mendengar cerita hebat ini?” Bapak bertanya hati-hati. “Sebenarnya dokter
melarangnya.”
Dokter? Aku
mengangguk. “Daripada aku penasaran seumur hidup dengan sebelas tahunku yang
hilang.”
“Oke, kita mulai
dari titik terakhir memori yang kau punya.” Ibu memulai penjelasan. “Sebelas
tahun yang lalu, saat kamu masih menjadi santri di pesantren sana, semua memang
terasa baik-baik saja. Orang rumah menanyakan kabar dua bulan sekali. Hingga di
penghujung tahun 2015. Kamu ndak bisa dihubungi. Orang rumah merasa semua
baik-baik saja. Mungkin kamu lagi sibuk. Itu salah kami kenapa tidak langsung
bergegas menjengukmu di sana.
“Hingga pada
tanggal 20 desember 2015, jam 9 malam. Ada yang mengetok pintu rumah ini. Laki-laki
seusia denganmu. Faris, kenal?”
Aku mengangguk. Dia
teman sekamarku.
“Kabar itu seperti
bledeg menyambar di siang bolong. Ibu shock, semua orang di rumah ini
juga. Dia bilang kamu sudah menikah. Usiamu baru 20 tahun bahkan.” Ibu
mengambil napas sejenak. “Waktu itu ibu ndak tau mau sedih apa seneng. Sedih karena
mikir kenapa kamu ndak ngabari. Atau seneng karena kamu sudah menikah.
“Tapi, Faris
bilang. Kondisimu mengenaskan. Itulah kenapa dia rela jauh-jauh mencari alamat
rumah kita yang plosok ini. Saat itu ibu sangat terimakasih sama anak baik hati
itu. Dia bilang kamu jadi sering melamun, dipanggil ndak nyaut, disuruh
makan ndak mau.” Ibu sudah terisak sekarang.
“Tanpa
lama-lama, bapak langsung minjem mobil pak Haji Makmur. Malam itu juga
berangkat ke pesantrenmu.” Sekarang bapak yang meneruskan, membiarkan ibu
membersihkan ingus sejenak.
“Disana, kamu
sangat kurus, tatapanmu kosong. Bapak ndak tahu kenapa sangat tiba-tiba
kejadian itu. istrimu cantik, tapi kelakuannya ndak. Pas keadaanmu ngenes,
dia sama sekali ndak ngurusi kamu. Bapak bertanya-tanya, apa benar istri
idamanmu kayak gitu? Saat itu bapak sudah ngerasa ada yang ndak beres di sini”
Di luar, gerimis
mulai turun lagi. mungkin sisa-sisa dari hujan tadi sore.
“Dia anak kyai,
tapi kelakuannya ndak mencerminkan itu” Bapak berapi-api. “Mungkin karena kamu
ngganteng, sholeh, berwibawa, dia jadi kepincut. Sudah berbagai cara tebar
pesona kamu ndak ngelirik sedikitpun. Akhirnya, dia pakai cara yang tidak
terpuji.” Nada suara bapak kini lirih. Ada kebencian menggantung di ujung katnya.
“Kamu dijebak. Anak
kyai itu pintar banget bikin skenario. Dia juga tau kamu ndak mungkin mau
digoda. Akhirnya dia bilang ke ayahnya, dia sudah dilecehkan. Memang ada bukti
dia positif hamil. Ndak tau itu anak siapa.”
Aku masih
terdiam. Menghela napas. Sungguh? Kenapa aku tidak berdaya?
“Pak kyai
mengancam kamu untuk dilaporkan polisi. konsekuensinya, kamu bakalan drop out
dari kuliah dan tentu mencoreng nama keluarga. Tapi seperti yang diinginkan
putrinya, kamu ndak bakal dilaporkan kalau mau menikahi putrinya. Kyai tahu
kamu masih kuliah. Dia bersedia nanggung hidupmu dan istrimu sampai kamu
berpenghasilan. Kamu ndak mau ambil pusing. Bahkan ibu bapakmu ndak diberi
kabar. Kalaupun kamu masih bisa mikir, sebenarnya kamu bisa tes DNA. Tapi kamu panik.
Kamu langsung milih nikah.”
“Kamu mulai
kehilangan akal sehatmu. Terkekang dalam ketidakbahagiaan. Nggantengmu ilang,
ndak ada lagi yang bisa dibanggakan istrimu. akhirnya setelah tiga bulan
menikah, dia minta cerai. Sakpenake udel!!”
Aku kaget
mendengar nada bicara bapak yang meninggi.
“Akhirnya
setelah resmi cerai, Kamu dibawa ke RSJ karena memang kondisimu mengenaskan. Kami
orang rumah juga ndak sanggup ngurus. Disitu kamu diterapi.” Mbak Faizah kini
yang bercerita. “Cukup lama kamu diterapi disitu. Sampai kami ndak punya
harapan kamu bakal bisa jalani hidup secara normal.”
“Dokternya bilang,
kamu bisa jalani hidup dengan normal, tapi dengan catatan memori sebelum kamu
gila bakal kehapus. Dan kamu ngerasa kayak beberapa tahun dari hidupmu hilang.”
Aku diam. Semua ikut
diam. Puzzle sudah hampir terselesaikan.
“Fasha,” Ibu
memanggil. Aku masih diam
Semua orang di
meja makan menjadi tegang. Setelah susah payah memori itu dihilangkan, kini
dijelaskan lagi, takut aku kembali gila.
“Fas,” sekarang mas
Haqi juga menepuk pundakku.
“Lalu,” akhirnya
aku berbicara. Semua orang lega setelah menahan napas beberapa detik “mas Haqi
dan mbak Faizah kapan nikahnya?”
“Setahun yang
lalu. Kamu masih di RSJ.” Mas Haqi yang menjawab.
“Ooh.”
Sepertinya pertanyaan
“Ada apa” ku sudah terjawab. Ada berbagai hal. Sekarang aku masih bisa
melanjutkan hidupku. Sangat bersyukur tidak terkekang dalam ketidakbahagiaan. Sekarang,
usiaku 31 tahun, masih bisa mencari pekerjaan dan hidup dengan normal. Aku masih
berpikir, ternyata orang gila bisa sembuh. Bahkan aku tak tahu apa akhirnya
jika akal sehatku tidak kembali lagi.
Kenangan buruk tidak harus dihilangkan, jangan pernah
meminta untuk dihilangkan ingatan masa lalu hanya untuk menghapus kesedihan. Jadikan
itu tameng agar lebih kuat menghadapi masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar