Selasa, 08 Januari 2019

Memori Dalam Harum (2)


Oke, aku mengalami beberapa masalah memori di waktu kecil. Dan indra penciuman ini sangat membantu mengembalikannya. Itulah mengapa aku katakan kepada bapak bertopi koboi di sampingku ini tujuanku ke hutan. Untuk mencari memori yang hilang. Aku tidak menderita amnesia, memori masa kecil memang sulit diingat kan? Jadi itu hal yang wajar. Tapi ada hal yang memang harus kuingat-ingat dengan baik.
Bis melaju ugal-ugalan, matahari masih belum menampakkan diri dari bawah garis cakrawala. Aku tidak peduli, yang memenuhi pikiranku saat ini adalah pria berkumis tebal yang datang di pagi hari itu. Siapakah gerangan dia? Sekarang aku berharap dapat mencium parfum orang berbaju putih tadi supaya memori itu muncul lagi. Oke, sembari menunggu aroma itu kembali melewati lubang hidungku, sebaiknya aku menceritakan lebih jauh hidupku.
Aku terlahir yatim. Bapak pergi ketika aku masih di dalam kandungan. Anehnya, ibu tidak pernah mengajakku sekalipun ke makamnya. Ia bilang bapak tidak dimakamkan, jasadnya hilang entah dimana ketika ia pergi melaut karena dia seorang pelaut, nelayan lebih tepatnya. Ibu yang menceritakan itu semua. Aku tidak ingin mengatakan bahwa ibuku seorang pembohong karena tak ada satupun buktinya. Bahkan rumah kami sama sekali jauh dari bibir pantai. Tapi semua masuk akal ketika ibu bilang bahwa ia pindah ke rumah yang baru karena ingin move on dari semua kesedihan bersama kandungannya yang semakin membesar. Aku tak tahu harus bertanya pada siapa, karena ibu adalah orang baru di lingkungan itu.
Dan semua semakin mencurigakan ketika pria berkumis itu datang ke rumah. Ada sesuatu yang ganjil yang baru kusadari setelah ibu meninggal. Aku harus mengungkap hidupku. Ketika orang yang seharusnya sangat kau percaya malah mengungkapkan kebohongan selama hidupmu. Anyway, semoga dia tenang di alam sana.
Matahari sudah muncul malu-malu, menggoreskan semburat jingga pada awan-awan tipis. Aku sudah merencanakan ini, aku tahu bis ini menuju arah utara, jadi aku memilih tempat duduk di sisi kanan bis. Pemandangan yang setiap pagi muncul ini tidak sering aku saksikan. Aku lebih sering melewatkannya karena jadwal tidurku yang tak sehat. Bis berhenti sejenak, menurunkan emak-emak dengan berkarung-karung hasil panennya. Akhirnya pria berbaju putih itu dapat tempat duduk. Tetapi ada ibu-ibu menggendong anaknya naik ke dalam bis. Pria berbaju putih dengan berat hati mengalah dan memberikan tempat duduknya. Bis kembali melaju.
Bapak bertopi koboi di sebelahku mulai mengecek barang bawaannya, aku menatapnya sekilas karena reflek. Tak lama kemudian dia beranjak dari duduknya, menoleh ke arahku dan mengangkat topinya sedikit. Isyarat untuk pamit. Aku balas mengangguk. Beberapa detik kemudian aku tersadar bahwa orang berbaju putih akan duduk di sebelahku. Sedikit salah tingkah dan menimbulkan suasana canggung yang amat kental. Dan aroma itu kembali membangkitkan kenangan yang sama. Pagi hari, saat aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah, saat itulah seseorang mengetok pintu rumah. Aku tidak mengenalnya. Dia berbadan tinggi besar, berkumis tebal. Setelah ibu membuka pintu, ia memberi isyarat kepadaku untuk segera berangkat sekolah. Mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan. Walaupun aku mengupingnya, tetap saja aku tidak paham. Segera aku berangkat. Setengah perjalanan ke sekolah, entah mengapa aku kembali ke rumah. Oh iya aku belum menerima uang saku. Sampai di depan pintu aku mendengar isak tangis. Aku tidak ingin melihat ibuku menangis, karena aku tahu hanya dua orang yang ada di dalam rumah. Dan pria berkumis tidak mungkin terisak dengan tone nada tinggi. Aku hanya berdiri di depan pintu beberapa jenak. Kemudian memutuskan kembali ke sekolah tanpa uang saku.
Saat ku sadar, pria berbaju putih sudah menatapku keheranan.
“Mas, nggapapa?” ia akhirnya memutuskan bertanya. Aku bingung hal bodoh apa yang sudah kulakukan. Pria itu menunjuk ke arah mukaku. “Nggapapa, mas, hidup memang kadang ngga seperti yang kita inginkan. Tapi Tuhan pasti udah rencanain sesuatu.”
Sembari kucerna, kusadari ada air mata yang sudah hampir mengering di pipiku. YA HAL ITU MEMBUATKU KAGET. Aku barusaja menangis di depan orang asing. Langsung buru-buru kuusap. “Ahaha.. maaf.” Canggung semakin mengental, aku memaki dalam hati.
Hening beberapa jenak
Demi memecah kesunyian, kususun beberapa pertanyaan seperti ‘Mas, kalo boleh tau, parfumnya dari bahan apa’. Ah jangan, mana ada orang yang tahu bahan parfum. Mungkin bisa dicoba ‘parfumnya enak mas, no homo, lol.’ Sama sekali tidak pantas. Okay kusadari keheningan ini semakin mengerikan
“Parfum mas kayak ada rasa apel-apelnya gitu ya?” dan kusadari itu sudah terlanjur terucap. Tinggal menunggu tanggapannya.
Dia menoleh ke arahku bingung, dan “Oh, Iya. Mungkin.” Dia menjawab. Alisnya terangkat seolah bertanya ‘kok tau?’.
Langsung kujawab. “Kebetulan saya usaha kecil-kecilan bikin parfum. Ngga pernah kepikiran kalo apel enak juga dijadiin parfum.”
“Oh, wow.” Muka kaget. “Saya malah ngga pernah nyadar kalo ini apel. Ya beli cuma nyobain cium-cium, enak, beli, udah.” Ia berhenti sejenak. “Mas jualan parfum? Bawa ngga sekarang, boleh saya lihat?”
“Oh, sekarang lagi ngga bawa parfum yang dijual. Cuma bawa parfum saya aja.” Sebenarnya aku membawa bahan-bahan dasar parfum seperti minyak cendana, minyak kenanga, minyak adas, dan nilam. Tapi itu belum jadi, dan tidak ada niatan untuk menjualnya. “Saya lagi pengen libur dulu. Nyari udara segar, nyari inspirasi.”
Dia memberi muka ‘oh’. Kemudian dia agak mendekatkan kepalanya ke arahku, sedikit berbisik “Ngomong-ngomong, mas tadi nangis kenapa?” melihat reaksiku lalu meneruskan “Tapi nggapapa kalo emang ngga mau dibahas.”
Aku berfikir sejenak, sebenarnya aku juga tidak tau mengapa aku menangis. Apakah karena hidupku yang dipenuhi kebohongan atau karena aku tidak dikasih uang saku. Aku menghela nafas sedikit, berdehem untuk membersihkan tenggorokan. “Engga, mas tadi itu saya ngantuk terus nguap dikit jadi matanya berair.” Aku sangat jenius.
Dia manggut-manggut keheranan. Mungkin dia benar-benar lihat aku mengeluarkan air mata. Kulihat dia kecewa karena mungkin dia tahu aku berbohong. Lalu dia kembali menatap ke depan. Percakapan selesai.
Sisa perjalanan aku selesaikan dengan tidur dengan pulas. Bahkan aku tidak sadar kapan pria berbaju putih itu turun. Dan saat aku terbangun, aku sudah sampai di kota kecamatan. Pagi sudah agak menjelang siang. Sekolah-sekolah sudah mulai sepi karena siswanya sudah masuk kelas. Oke, jadwal berikutnya adalah naik bis ke desa terdekat dengan hutan. Aku kembali mengandalkan indra pendengaranku. Yak, desa terdekat dengan hutan sudah masuk telinga, berasal dari arah jam empat. Beberapa langkah kemudian, aku sudah duduk di sebuah bis kecil. Lebih kecil dari bis kop-kop tadi. Dan penumpangnya tidak terlalu banyak.
Sebentar, kalau bis tidak terlalu penuh, maka supir akan nge-tem sampai penuh. Sebaiknya aku turun sebentar. Memeriksa barang bawaan dan bekal ketika di hutan. Sepertinya aku belum punya tisu basah. Ketika keadaan darurat, tisu basah akan sangat dibutuhkan. Oke saatnya mencari toko serba ada atau toserba. Aku bertanya kepada orang lokal tentang keberadaan toserba terdekat. Tak terlalu jauh, cukup berjalan sedikit ke depan dan menyeberang jalan. Sudah kubilang, toserba semacam ini sudah menjamur di berbagai pelosok negeri. Tak sulit mencarinya.
Saat-saat mendebarkan dan favoritku saat kubuka pintu toserba dan satu, dua, ti... aku menunggu. Kulihat kasir sedang berkutat dengan gadgetnya, ya aku tahu sekarang ini sepi. Tapi sebagai alumni pegawai toserba ini, hal ini tidak dapat diterima.
“Mbak.” Aku menghampiri kasir yang tak beradat itu.
“Ya, ada yang bisa dibantu?” kalimat ‘ada yang bisa’ dikatakan dengan tatapan masih di hp. Dan kata ‘dibantu’ mulai menoleh ke arahku. Benar-benar tidak beradat.
“Selamat datang di Toserba, selamat belanja?” aku mengatakannya dengan penuh penghayatan di depan si kasir.
Dia menahan ketawa. “Serius?”
Alisku naik sebelah.  Aku benar-benar kehabisan kata-kata.
“Mas, ambil yang mas perlu, terus bayar di sini.” Si kasir kembali ke hp nya dan tidak peduli. Melihatku masih berdiri di depannya membuatnya berkata “terimakasih, senang bisa membantu.” Kenapa makhluk tidak beradab ini bisa-bisanya mendapat pekerjaan ini.  Benar-benar mencoreng nama baik.
Segera kuambil tisu basah dan sedikit snack dan soda untuk menemani menunggu bis berangkat. Kembali ke kasir. Makhluk itu terlihat senang karena aku menuruti keinginannya. Tapi aku tidak bisa menahannya lagi. Kutarik nafas panjang “Mbak, sapaan pas ada orang masuk itu sangat penting. Walaupun itu sepele, tapi bisa diingat orang sepanjang hidupnya. Waktu saya kerja di Toserba ini, awalnya juga saya nggak senang, kenapa ada hal semacam itu. Udah capek nyapa, orangnya boro-boro bales, ngelirik aja enggak. Tapi persepsi saya langsung berubah ketika ada ibu-ibu yang masuk, saya nyapa seperti biasa ‘selamat datang di Toserba, selamat belanja’ dan ibu itu noleh ke arah saya, bayangkan dia menoleh dan bilang terima kasih, bukan makasih atau mkaseh, tapi terima kasih sambil senyum. Dan sejak saat itu saya ngga peduli orang mau bales sapaan saya atau engga. Saya tetep nyapa dengan sepenuh hati.” Tanpa sadar aku mengatakannya dalam satu tarikan nafas. Sekarang aku harus menyesuaikan nafasku kembali. Dia tidak menanggapi, hanya tatapan ‘yeah, whatever’. Kemudian ia serahkan kembalian dan struk belanjaku.
Aku berjalan keluar dan saat aku membuka pintu kudengar suara lirih “terimakasih, selamat belanja kembali.” Suara itu benar-benar lirih dan aku tak percaya. Aku menoleh ke arah mbak kasir, dan dia tersenyum canggung. Dan kujawab dengan ramah “Iya, sama-sama.” Kini senyumnya semakin pasti. Aku balas tersenyum.
BEST DAY OF MY LIFE. Aku merasa diriku berguna. Rasanya seperti kamu melahirkan anak dan mendidiknya dari kecil hingga dewasa, lalu dia menjadi orang yang berguna. Aku mengubah makhluk tidak beradat menjadi manusia terhormat. Aku tak bisa berhenti tersenyum saat berjalan kembali ke bis kecil tadi. Aku tak peduli orang-orang melihatku dengan heran. Rasa percaya diriku meningkat limabelas kali lipat. Tak lama setelah sesampainya aku di bis yang sudah mulai penuh, supir pun memutuskan untuk berangkat. Kenapa perjalanan ini tidak sampai-sampai, huff..

Bersambung lagi :(

Rabu, 07 Maret 2018

Memori dalam Harum (1)


                Di kereta. Aku duduk menatap ke luar jendela. Gelap, tak ada yang bisa kulihat. Tak mengapa, aku lebih suka tak melihat apa-apa, daripada harus menatap makhluk bernyawa di sekelilingku, manusia. Mereka –kita–, dengan senyum palsunya, demi menjaga perdamaian dunia. Karena senyum adalah simbol perdamaian, kan? Ya, mungkin di antara mereka –kita– kadang tersenyum tulus untuk menyapa orang asing, tak apa, itu bagus. Tapi, lebih banyak kecanggungan yang terjadi ketika aku yang melakukannya. Jadi, aku lebih memilih tidak menatap mereka, manusia, sama sekali, jika tidak dibutuhkan.
                Perjalanan baru memakan waktu 2 jam, dan perjalananku terjadwal memakan waktu 11 jam. Kereta tengah malam memang sangat melegakan, karena itu jam tidur manusia, jadi tak usah repot-repot membuang pandangan untuk menjaga privasi. tujuanku adalah sebuah kota di pinggiran pulau ini. Oh bukan juga sih, tujuanku adalah hutan, dan kereta ini hanya bisa mengantarku sampai di kota itu. Saat fajar tiba, aku harus turun dari kereta ini dan naik angkot ke terminal, kemudian naik bis hingga ke desa terpelosok yang bisa dicapai bis itu, lalu naik ojek hingga tukang ojeknya tidak sanggup, baru aku meneruskan perjalanan berjalan kaki, memasuki hutan itu.
                Sendirian. Tak mengapa, aku sudah terbiasa. Hm, aku jadi mengingat kapan aku terakhir kali mengkontak seorang teman, secara personal tentu saja. Karena sosial media tidak membantu. Kadang aku mempertanyakan kodratku sebagai makhluk sosial. Mungkin terakhir kali aku punya teman adalah ketika aku bekerja di sebuah toserba. Teman kerja. Oh iya, aku belum cerita, dulu aku pernah bekerja di sebuah toserba, sejenis mini market yang sekarang menjamur di berbagai penjuru Indonesia. Atau mungkin saat kalian membaca kisah ini, mereka sudah buka cabang di mancanegara, entahlah siapa tau.
                Oke, mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku pergi ke hutan, sendirian. –mungkin juga tidak, oke teruslah membaca–. Sebenarnya, aku bukan orang yang neko-neko. Aku ingin mencari hal yang ingin kucari. Oke, itu bukan jawaban yang ingin kalian dengar kan? Di akhir cerita juga nanti kalian paham. Tapi sebelumnya, kuceritakan latar belakang dulu.
                Tiga tahun. Aku bekerja di toserba itu. Sekedar untuk mengisi kengangguran setelah wisuda S1. Sebenarnya untuk menabung juga sebelum melakukan perjalanan-perjalanan seperti sekarang ini. Cukuplah tiga tahun dengan rutinitas yang begitu-gitu saja. Seperti mengucapkan ‘selamat datang di Toserba, selamat belanja’ setiap kali orang berkunjung, cukup lucu untuk dikenang. Sekarang sudah dua tahun aku berhenti bekerja di toserba itu. Sekarang aku bekerja mandiri, dengan laboratorium pribadi, dan belum sempat mempekerjakan orang. Mungkin suatu saat nanti jika perusahaanku ini sudah semakin besar.
                Taukah kalian bahwa syaraf memori itu paling dekat dengan syaraf penciuman? Aku tertarik dengan teori ini, sehingga aku mendirikan perusahaan parfum. Dengan berbekal ilmu akuntansi yang kutempuh 3,5 tahun di bangku kuliah, sebenarnya tak membantu sedikitpun dalam usaha ini. Sehingga mengharuskanku belajar secara otodidak. nah, kembali ke teori tadi. Pernahkah kalian tiba-tiba tercium harum yang pernah tercium sebelumnya, tidak bisa menyebutkan dengan pasti itu harum apa, tapi sekelebat bayangan masa lalu tiba-tiba muncul? Tidak pernah? Oke. Hal itu sering terjadi padaku. Dan ternyata setelah melakukan penelitian di search-engine, teori di atas muncul.
                Tapi tak mungkin kan aku mendirikan perusahaan parfum hanya karena teori di atas? Sebenarnya iya, aku tertarik untuk mendalaminya setelah kutemui fakta tersebut. Memberi makan ego lebih tepatnya. Mengingat kembali hal yang sudah terlanjur terlupa.
                Usiaku 28 sekarang, FYI
                Pukul 04.34 waktu setempat. Roda kereta berdecit tergesek rel kereta, memaksa gerbong berantai ini untuk berhenti. Pengeras suara di langit-langit bergema setelah sekian lama membisu, menyalurkan gelombang suara dari petugas informasi di belakang miknya.
                “Selamat pagi seluruh penumpang kereta, perjalanan anda kini telah tiba pada akhirnya. Tolong periksa barang bawaan anda, jangan sampai ada yang tertukar atau tertinggal di dalam kereta. Terimakasih telah menggunakan jasa PT. Kereta Api Indonesia. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya...”
                Semua orang beranjak dari bangku masing-masing. Dengan pandangan kosong khas orang baru bangun dari tidurnya. Sedikit mengucek-ucek mata berharap pandangan menjadi lebih jelas. Perlahan berjalan menyusuri koridor gerbong menuju pintu keluar. Suasana stasiun di pagi buta, sangat tidak berarti bagi manusia-manusia yang rindu tempat tidurnya. Berharap bisa kembali tidur ‘normal’ secepatnya.
                Setibanya aku di pintu keluar stasiun, seorang wanita melintas di jalurku, meninggalkan seberkas harum yang tanpa sengaja tercium. Ini dia! Ini dia, kawan-kawan, teori yang kuceritakan tadi. Tanpa sempat menutup mata, sepercik memori muncul di alam bawah sadarku. Sudah kubilang tadi, kalian tidak mau percaya. Harum ini membawaku kembali ke jaman SMA, entah siapa yang menghasilkan harum ini dahulu, tapi suasana di dalam kelas masih jelas terlihat. Bulan puasa. Waktu istirahat pertama, suasana kelas ramai, kebanyakan menghabiskan waktu istirahat untuk mengobrol, main game, dan membaca.
                Aku tersadar cukup lama sehingga tak terasa aku mengikuti wanita itu. Segera kupalingkan muka dan bertindak normal sebelum semua orang mengiraku cabul, mengendus-endus seorang wanita dari belakang. Oke, lebih baik aku bertanya pada tukang parkir di sana jam berapa angkot pertama lewat.
                “Permisi mbak, numpang tanya, angkot biasanya pada berangkat jam berapa ya?” sedikit tidak percaya kalau tukang parkir ini perempuan.
                “Oh, gak ada angkot mas, di sini. Masnya mau kemana e?” memandangiku dari ujung kaki hingga kepala. Kemudian menghentikan pandangannya, menunggu jawaban.
                “Saya mau ke hutan, mbak.”
                “Hahaha, ngapain mas, ke hutan?” Kemudian dia manggut-manggut, paham dengan outfitku yang cocok untuk pergi ke hutan.
                “Eh...” garuk-garuk kepala, “Biasanya pake apa dong mbak?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
                “naik bis kopata mas, nanti di terminal pindah bis yang lebih gede buat pergi ke kota kecamatannya, terus pindah lagi ke bis kecil lagi buat ke desa deket hutan itu mas.”
                “Wah, detil amat mbak, asal mbak dari hutan ya?” candaku
                “Wahaha, iya mas,” candanya, “saya yang dari hutan aja rantau ke kota, mas yang dari kota malah pengen ke hutan.” Lalu dia berjalan menjauh dengan gaya garuk-garuk kepala ala monyet. Lucu juga mbak tukang parkir ini.
                “Oke, makasih mbak!” ucapku sedikit teriak, dia sudah jauh di sana, merapikan motor- motor yang diparkir seenaknya. Sial, aku lupa menanyakan jam berapa bis kop, kop apa tadi?
Tak lama kemudian terdengar suara knalpot bis yang berat, hwoom.. kira-kira seperti itu bunyinya, langsung aku berlari ke tepi jalan. Melambaikan tangan, meminta tumpangan. Setelah lumayan dekat, baru bisa terbaca tulisan di tubuhnya, KOPATA. Ah iya, teringat kata-kata mbak-mbak kocak tadi, kopata. Setelah yakin dan menanyakan tujuanku dan sopir mengangguk, aku berangkat.
Cukup lima belas menit untuk sampai di terminal. Sangat disayangkan, udara sejuk pagi hari harus tercemar oleh asap bis yang kunaiki. Berharap ada orang jenius di luar sana yang cukup peduli dengan alam, membuat kendaraan umum bebas polusi. Bisa jadi terinspirasi dari dokar atau becak. Tak ada yang tak mungkin kan?
Suasana lumayan ramai, kebanyakan pedagang di pasar yang membawa barang dagangannya. Kusapu pandangan untuk menentukan kemana kakiku melangkah. Teringat kata mbak tukang parkir: setelah kopata adalah bis menuju kota kecamatan. Sepertinya indra pendengaran lebih berfungsi di sini dibandingkan penglihatan. Suara kernet bis bersaut-sautan –meskipun tidak sekencang di siang hari–. Aku bisa mendengar teriakan ‘kota kecamatan’ dari arah jam 2, menuju pintu keluar terminal. Ya suara semakin terdengar jelas. Aku masuk ke bis dengan percaya diri.
Bis ini lebih besar dibanding bis kop, kop apalah itu tadi. Terisi setengah penuh, sebagian besar pedagang yang aku katakan tadi. Membuatku berasa seperti alien dengan ‘outfit explorer’ ku. Yah, mau bagaimana lagi, repot jika harus pakai pakaian biasa dulu baru ganti baju ketika masuk hutan. Boros energi. Lebih baik ruang dalam ransel dipakai untuk menyimpan bahan makanan sebanyak-banyaknya. Aku jadi terpikir apakah makanan yang kubawa sudah cukup untuk hari-hariku di hutan. Mungkin aku harus menambah persediaan nanti di kota kecamatan. Ngomong-ngomong, aku belum tahu akan berapa hari aku berada di hutan. Barang yang kucari tidak pasti, hanya berbekal kata ‘katanya’ dari seseorang yang tidak yakin kukenal.
“Mau kemana, mas?” tanya bapak-bapak bertopi koboi, membuyarkan pikiran liarku. Tak sadar sudah ada yang mengisi kursi di sampingku.
“Oh, eh, emm... mau ke hutan, Pak.” Jawabku, bersiap menerima reaksi bapak itu.
“Nggak biasanya anak muda pergi ke hutan.” Reaksi yang tidak sangka kudapatkan. Bapak ini tidak tertawa. “Biasanya anak muda pergi ke gunung, ke pantai. Tapi kalo hutan, apa yang mau dicari?
“Mau mencari kenangan, Pak, memori yang hilang.” Aku menghembiskan nafas sebentar.
Bapak itu terlihat kaget dan sedikit menahan tawa, tapi setelah melihat mukaku yang sungguh-sungguh, ia tak jadi. Dia ikut menghembiskan nafas sedikit. “Kadang kita harus keluar dari tren masa kini dan membuat tren sendiri, pergi ke hutan mungkin asik juga.”
Diam beberapa jenak. Aku memikirkan kata-kata dari bapak itu, kenapa dia memberi tanggapan yang tidak nyambung? Ah, mungkin dia tidak mau terlalu ikut campur dengan masalah mencari memori itu. Iya juga, seharusnya aku menceritakan hal yang lebih general kepada orang yang baru kutemui. Mungkin bisa berbohong sedikit untuk sekedar mencairkan suasana, misal pergi ke hutan untuk mencari ikan? Mencari kayu bakar? Cukup masuk akal.
Bis besar sudah berangkat, ternyata semua kursi sudah terisi. Tak lama kemudian, bis berhenti sejenak untuk menurunkan penumpang. Dan beberapa orang ada yang naik. Nah indra penciumanku bekerja lagi, di antara bau bawang yang merebak di bis, ada satu harum yang sepertinya pernah kucium sebelumnya. Kurasa berasal dari orang yang baru naik, laki-laki berbaju putih, dia tidak kebagian tempat duduk. Harum ini membawaku jauh kembali ke masa kanak-kanakkku. Pagi hari, saat aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah, saat itulah seseorang mengetok pintu rumah. Aku tidak mengenalnya. Dia berbadan tinggi besar, berkumis tebal. Setelah ibu membuka pintu, ia memberi isyarat kepadaku untuk segera berangkat sekolah. Mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan. Walaupun aku mengupingnya, tetap saja aku tidak paham. Segera aku berangkat. Aku tersadar beberapa saat. Aku tidak pernah ingat momen itu. Terima kasih bapak-bapak berbaju putih.

Bersambung...

Senin, 14 Desember 2015

Muspra

                Hujan deras di luar terdengar sampai tempatku terbaring. Sedikit kupicingkan mata untuk mulai menyadari dimana keberadaanku. Kurasa tempat ini tidak asing, tapi berbeda. Lalu kubuka kembali lebih lebar. Ya, tempat ini tidak asing. Pandanganku melewati pintu kamar yang setengah terbuka. meyakinkanku lagi bahwa tempat ini memang rumahku. Pertanyaannya, sejak kapan aku berada di rumahku?
                Malas berpikir aku langsung turun dari tempat tidur. Melihat sekitar, masih meyakinkan diri. Di ruang tengah, terlihat ibu jongkok dan mengepel lantai yang basah. Aku spontan mendongakkan kepala. Oh, bocor.
                ”Buk, ada apa?” aku langsung bertanya.
                “Wes, ndak usah dipikir, Nang.” Ibu mengerti apa yang ingin aku tahu. Bukan tentang atap bocor tentunya.
                “Tapi aku gak mikir apa-apa, Buk.” Aku sama sekali tidak punya clue tentang teka-teki ini.
                “Bantu bapakmu aja itu lho, lagi angkut-angkut barang.” Ibu langsung mengusir rasa penasaranku.
                Spontan aku menengok. Pandanganku melewati pintu depan yang langsung membatasi ruang luar. Di sana, terlihat bapak sedang mengangkat barang-barang. Sepertinya aku kenal barang-barang itu. Di luar hujan, bapak tetap mengangkat barang-barang itu dari dalam mobil hitam. Entah mobil punya siapa. Aku mendekat. Masih ling-lung.
Ternyata ada mbakku berdiri di sana.
“Mbak, ada apa?” tanpa basa-basi selamat pagi aku langsung bertanya. Mungkin karena kita sering kongkalikong, dia akan bersedia menjelaskan. Tapi dia tidak serta merta menjawab, melirik ke arah ibu. Ibu menggeleng. Aku tahu tandanya. Lalu ia hanya menatapku prihatin sambil menggeleng.
Saat aku menengok lagi keluar, bapak sudah berjalan masuk. Mungkin barang yang diangkat sudah habis. Barang-barang itu bertumpuk di teras rumah. Jauh dari tampias.
“Pak, sudah habis?” aku bertanya menawarkan bantuan. Beliau mengangguk. Wajahnya sama susahnya. Kemejanya basah. Bergegas menuju kamar mandi.
Aduh, kenapa dengan semua orang disini? Muka susah, ditanya tidak menjawab. Aku jadi bingung.
-0-

Aku baru menyadari bahwa tadi itu senja ketika adzan maghrib terdengar. Walau agak aneh ketika wudhu. Tapi setelah itu menjalani rutinitas biasa, sholat berjamaah. Terlihat tatapan orang yang dibuat sewajar mungkin ketika melihatku, tapi sama sekali terlihat tidak wajar. Tadarus alquran hingga isya, sholat isya berjamaah. Jumlah orang lebih sedikit dan tatapan mereka sudah mulai terbiasa.
Makan malam
Sekarang aku yang berusaha bersikap biasa. Makan dengan lahap. Di tengah-tengah acara makan, terdengar suara salam dari pintu depan, lalu seorang lelaki masuk dengan kemeja dan tas jinjing. Mencium pipi mbak dan ikut duduk. Semua oang di meja itu terlihat biasa sebelum mereka melihat raut penasaran, dan tatapan minta penjelasan dariku.
Satu detik, dua detik, tiga detik…
“Hai Fasha, aku Haqi. Suami mbakmu.” Dia yang menyalamiku langsung. Satu kepingan puzzle terpasang. Tetap saja masih belum nampak gambar di puzzle itu.
Ibu mengisyaratkan agar cepat menyelesaikan makan. Butuh tiga puluh detik untuk mencerna kalimat dari lelaki yang mengaku bernama Haqi itu. Hei!! Mbakku sudah menikah. Apakah aku tertidur selama ini dan baru bangun tadi sore? Saat aku berwudhu aku merasakan ada hal aneh, ya! Ada brewok di wajahku. Sejak kapan aku punya brewok? Tubuhku juga sudah tidak sekurus dulu.
Rumah ini memang tidak asing, masih ada di dalam ingatanku, tapi sebenarnya ada perubahan di sana sini. Apa yang terjadi? Itu pertanyaan yang harus secepatnya dijawab.
Tapi ibu sudah melotot memintaku cepat menghabiskan makan.
Setelah semua selesai makan, mbak Faizah mengambil semua piring dan gelas kotor ke dapur. Semua orang –bapak, ibu, Mas Haqi masih tetap duduk di bangku masing-masing.
Mbak Faizah kembali duduk. Aku di ujung meja, jantungku berdebar. Antara siap dan tidak siap menerima penjelasan.
“Umurmu berapa, Nang?” itu pertanyaan yang aneh. 20 tahun, itu usiaku, seharusnya ibu tau itu. tapi forum ini seperti mengintrogasi anak kecil yang mencuri permen. Aku jadi ikut tegang.
“20.” Jawabku singkat.
Sekarang bukan tatapan prihatin yang terlihat di wajah mereka, melainkan senyum penuh perhatian dan kasih sayang. Masih belum tertangkap arah pembicaraan ini.
“Sekarang tahun berapa?” ibu memberi pertanyaan aneh lagi. sebenarnya ibu bisa melihatnya di kalender. Jelas-jelas ini akhir tahun 2015.
“2015.” Aku menjawab polos. Semua kembali tersenyum, mengerti seberapa penasaran yang aku derita.
“sekarang sudah tahun 2026. Coba lihat kalender di HP.” Bapak yang kali ini angkat bicara sambil menyerahkan HP-nya. . Satu puzzle lain terpasang.
Sek, sek. Umurku berarti 31 tahun?”
Semua orang mengangguk. Ibu langsung mengetahui kepanikanku.
“Sebelum bangun tidur tadi sore, Terakhir kali kamu lagi dimana?” ibu bertanya lagi dengan senyumnya.
-0-
Sudah tahun ke dua aku berada di pesantren ini. semua terasa baik-baik saja. Setiap hari belajar agama, mengaji, sholat berjamaah, selain itu juga berangkat kuliah setiap hari selasa hingga jumat. Setahun dua kali pulang kampung untuk melepas rindu dengan keluarga. Semua terasa benar-benar baik-baik saja.
-0-
“Sudah, Cuma itu yang kuingat.”
Semua orang di meja makan itu menghela napas.
“Kau siap mendengar cerita hebat ini?” Bapak bertanya hati-hati. “Sebenarnya dokter melarangnya.”
Dokter? Aku mengangguk. “Daripada aku penasaran seumur hidup dengan sebelas tahunku yang hilang.”
“Oke, kita mulai dari titik terakhir memori yang kau punya.” Ibu memulai penjelasan. “Sebelas tahun yang lalu, saat kamu masih menjadi santri di pesantren sana, semua memang terasa baik-baik saja. Orang rumah menanyakan kabar dua bulan sekali. Hingga di penghujung tahun 2015. Kamu ndak bisa dihubungi. Orang rumah merasa semua baik-baik saja. Mungkin kamu lagi sibuk. Itu salah kami kenapa tidak langsung bergegas menjengukmu di sana.
“Hingga pada tanggal 20 desember 2015, jam 9 malam. Ada yang mengetok pintu rumah ini. Laki-laki seusia denganmu. Faris, kenal?”
Aku mengangguk. Dia teman sekamarku.
“Kabar itu seperti bledeg menyambar di siang bolong. Ibu shock, semua orang di rumah ini juga. Dia bilang kamu sudah menikah. Usiamu baru 20 tahun bahkan.” Ibu mengambil napas sejenak. “Waktu itu ibu ndak tau mau sedih apa seneng. Sedih karena mikir kenapa kamu ndak ngabari. Atau seneng karena kamu sudah menikah.
“Tapi, Faris bilang. Kondisimu mengenaskan. Itulah kenapa dia rela jauh-jauh mencari alamat rumah kita yang plosok ini. Saat itu ibu sangat terimakasih sama anak baik hati itu. Dia bilang kamu jadi sering melamun, dipanggil ndak nyaut, disuruh makan ndak mau.” Ibu sudah terisak sekarang.
“Tanpa lama-lama, bapak langsung minjem mobil pak Haji Makmur. Malam itu juga berangkat ke pesantrenmu.” Sekarang bapak yang meneruskan, membiarkan ibu membersihkan ingus sejenak.
“Disana, kamu sangat kurus, tatapanmu kosong. Bapak ndak tahu kenapa sangat tiba-tiba kejadian itu. istrimu cantik, tapi kelakuannya ndak. Pas keadaanmu ngenes, dia sama sekali ndak ngurusi kamu. Bapak bertanya-tanya, apa benar istri idamanmu kayak gitu? Saat itu bapak sudah ngerasa ada yang ndak beres di sini”
Di luar, gerimis mulai turun lagi. mungkin sisa-sisa dari hujan tadi sore.
“Dia anak kyai, tapi kelakuannya ndak mencerminkan itu” Bapak berapi-api. “Mungkin karena kamu ngganteng, sholeh, berwibawa, dia jadi kepincut. Sudah berbagai cara tebar pesona kamu ndak ngelirik sedikitpun. Akhirnya, dia pakai cara yang tidak terpuji.” Nada suara bapak kini lirih. Ada kebencian menggantung di ujung katnya.
“Kamu dijebak. Anak kyai itu pintar banget bikin skenario. Dia juga tau kamu ndak mungkin mau digoda. Akhirnya dia bilang ke ayahnya, dia sudah dilecehkan. Memang ada bukti dia positif hamil. Ndak tau itu anak siapa.”
Aku masih terdiam. Menghela napas. Sungguh? Kenapa aku tidak berdaya?
“Pak kyai mengancam kamu untuk dilaporkan polisi. konsekuensinya, kamu bakalan drop out dari kuliah dan tentu mencoreng nama keluarga. Tapi seperti yang diinginkan putrinya, kamu ndak bakal dilaporkan kalau mau menikahi putrinya. Kyai tahu kamu masih kuliah. Dia bersedia nanggung hidupmu dan istrimu sampai kamu berpenghasilan. Kamu ndak mau ambil pusing. Bahkan ibu bapakmu ndak diberi kabar. Kalaupun kamu masih bisa mikir, sebenarnya kamu bisa tes DNA. Tapi kamu panik. Kamu langsung milih nikah.”
“Kamu mulai kehilangan akal sehatmu. Terkekang dalam ketidakbahagiaan. Nggantengmu ilang, ndak ada lagi yang bisa dibanggakan istrimu. akhirnya setelah tiga bulan menikah, dia minta cerai. Sakpenake udel!!”
Aku kaget mendengar nada bicara bapak yang meninggi.
“Akhirnya setelah resmi cerai, Kamu dibawa ke RSJ karena memang kondisimu mengenaskan. Kami orang rumah juga ndak sanggup ngurus. Disitu kamu diterapi.” Mbak Faizah kini yang bercerita. “Cukup lama kamu diterapi disitu. Sampai kami ndak punya harapan kamu bakal bisa jalani hidup secara normal.”
“Dokternya bilang, kamu bisa jalani hidup dengan normal, tapi dengan catatan memori sebelum kamu gila bakal kehapus. Dan kamu ngerasa kayak beberapa tahun dari hidupmu hilang.”
Aku diam. Semua ikut diam. Puzzle sudah hampir terselesaikan.
“Fasha,” Ibu memanggil. Aku masih diam
Semua orang di meja makan menjadi tegang. Setelah susah payah memori itu dihilangkan, kini dijelaskan lagi, takut aku kembali gila.
“Fas,” sekarang mas Haqi juga menepuk pundakku.
“Lalu,” akhirnya aku berbicara. Semua orang lega setelah menahan napas beberapa detik “mas Haqi dan mbak Faizah kapan nikahnya?”
“Setahun yang lalu. Kamu masih di RSJ.” Mas Haqi yang menjawab.
“Ooh.”
Sepertinya pertanyaan “Ada apa” ku sudah terjawab. Ada berbagai hal. Sekarang aku masih bisa melanjutkan hidupku. Sangat bersyukur tidak terkekang dalam ketidakbahagiaan. Sekarang, usiaku 31 tahun, masih bisa mencari pekerjaan dan hidup dengan normal. Aku masih berpikir, ternyata orang gila bisa sembuh. Bahkan aku tak tahu apa akhirnya jika akal sehatku tidak kembali lagi.

Kenangan buruk  tidak harus dihilangkan, jangan pernah meminta untuk dihilangkan ingatan masa lalu hanya untuk menghapus kesedihan. Jadikan itu tameng agar lebih kuat menghadapi masa depan.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Bulan Terbenam Seenaknya (1)



                Malam saat aku tulis cerita ini, tidak seperti malam-malam biasanya. Terlalu malas untuk memastikan bulan tetap menggantung di sana. Karena rutinitas melihat bulan sudah kulakukan sejak bahkan aku lupa kapan. Bulan sabit, bulan separo, bulan purnama, bulan berdarah, bahkan gerhana bulan. Dari bulan yang tidak dilihat banyak orang, hingga bulan yang mengundang ritual tertentu. Aku suka bulan apa adanya.
                Luna, seorang gadis kecil (umurnya tua tapi berbadan kecil) adalah temanku sejak pertama kali aku duduk di bangku kuliah. Dia bukan pemeran utama di kisah kali ini. aku yang jadi pemeran utama, sudah lama tidak mengambil jabatan itu. Oh iya, namaku Surya, meski wajahku tak secerah nama, tapi paling tidak doanya supaya aku bisa menyinari dunia. (Hmm)
                Kami bersahabat, menjalani hari demi hari di perkuliahan yang kejam bersama-sama. Yang terkadang mengundang kontroversi. Laki-laki, perempuan, berdua selalu bersama, apalagi kalau bukan pacaran dan berbagai istilah sejenisnya? Dan terkadang kami yang susah menjelaskan. Tapi setelah menelisik lebih dalam, akhirnya mereka sadar sendiri.
                Oke, clue kenapa kita selalu bersama adalah, Luna selalu tergantung kepadaku. Dia selalu minta diajari untuk membuat tugas, diconteki kuis, hingga pinjam uang sebelum saatnya. Yah, begitulah, Dia orang yang ceroboh, masabodo, bebas, dan malas. Tapi dalam lain hal, dia berkarakter, ambisius, bahkan menjadi orang yang sangat teliti.
                Aku, tentu saja aku adalah sahabat yang bisa diandalkan, rajin, taat aturan, suka menabung, dapat memenejemen waktu dengan baik. Tapi hubungan persahabatan kami bukan simbiosis parasitisme. Aku juga berhutang banyak hal padanya. seperti saat jenuh, dia selalu memotivasi “kalo lo males, gue mau bergantung sama siapa?” dan itu cukup membuatku termotivasi. (entahlah itu termasuk hutang atau tidak)
                Kebiasaan yang sering kulakukan adalah telentang di atap kosan, melihat bulan yang timbul tenggelam di balik awan. Sesekali aku ajak Luna jika memang sedang mengerjakan tugas bersama. Dan ini percakapan yang sempat terekam.
                “Lun, arti nama lo apaan sih?”
                “Bodoamat, apalah arti sebuah nama.”
                “Yaelah sama nama sendiri aja gak peduli”
                “Terus, kalo udah tau kenapa? Mau dibandingin sama nama lo yang ‘menyinari dunia’?”
                “Sewot amat sih, lagi pms lo?”
                Dia hanya menghela napas, keheningan mulai merebak, dan pandangan tetap tertuju pada bulan separo yang tetap timbul tenggelam di balik awan. “Lupa dari Bahasa mana, artinya bulan..” dengan volume suara yang menurun, membuatku bingung harus menanggapi apa. “Dan feeling gue gak enak kalo arti nama gue itu bulan.”
                Dia melanjutkan  “Bulan tu gak mandiri, harus dapet cahaya dari matahari cuma buat bersinar. Bulan tu gak punya pendirian, kadang sabit, kadang separo, kadang purnama. Bulan tu labil, terbit dimana, terbenam di mana. Gak kayak matahari yang jelas terbit di timur, terbenam di barat.”
                Semakin aku tidak tahu mau menanggapi apa. Tak pernah aku tahu dia memaknai bulan begitu kejam, tapi memang benar adanya.
                Kami habiskan malam itu dengan keheningan. Takut serba salah jika aku menanggapi. Apakah dia sebegitu iri dengan namaku? Toh itu hanya sebuah nama. Tapi jika disadari, kepribadianku mirip dengan matahari, dan dia mirip bulan dengan deskripsi miliknya. Entah bagaimana akhirnya.
                “Pasti bokap lo gak mikirin segitunya pas milih nama itu. bulan juga punya deskripsi yang positif, menerangi malam. Pusat perhatian di antara bintang-bintang, dan dia punya posisi penting pas musim lebaran (lihat hilal)” aku mulai berbicara setelah kupikir dan kutata rapi-rapi.
                Dia masih tetap hening.
           “Dan bulan gak harus minta cahaya matahari, matahari tetep bakal ngasih. Itu udah kodratnya.” Lanjutku.
                “Lo tau kenapa bulan kadang muncul di siang hari?” dia mulai angkat bicara.
                Aku menggeleng.
                “Karena dia pengen ngintip matahari” dia mengulum senyum kecil di ujung bibirnya.
                Aku masih tidak menangkap kode itu.
               Hening beberapa jenak. Aku tidak ingin ending seperti ini. Belum siap lebih tepatnya. Bulan yang selalu terbenam seenaknya, kini terbenam di hati sang surya.

                

Jumat, 21 Agustus 2015

Sarung Putih

Pernahkah teman-teman merasakan, bahwa sebuah pujian itu dapat membuat kita termotivasi? Itu amat baik jika kita ingin memancing anak kecil untuk berbuat baik. Simaklah terlebih dahulu kisah berikut.

Rama namanya, waktu itu ia duduk di bangku sekolah dasar kelas 6, atau mungkin kelas 5. Rama lupa. Pelajaran agama kali ini adalah latihan sholat. Mungkin sebelum kelas 5 teman-teman Rama sudah bisa sholat, begitu pula ia.Kemarin, Pak guru sudah menyuruh murid-murid untuk membawa sarung dan peci bagi yang putra, dan mukena bagi yang putri.

Rama bukanlah anak yang terpintar di kelas itu. Ia juga bukan anak termalas di kelas itu. Ia hanya anak yang biasa-biasa saja di kelas itu. Pak guru memasuki ruang kelas. Dengan sumringah, ia menyuruh murid-murid untuk segera berangkat ke masjid di dekat sekolah.

Seperti ingin melaksanakan sholat sungguhan, murid-murid secara reflek langsung mengambil air wudhu. Mungkin itu prosedur yang sudah ada di kepala mereka jika berangkat ke masjid.

Murid-murid yang nakal langsung mengambil sof paling belakang, menggambarkan posisi andalan mereka saat sholat jumat. Padahal sof paling belakang untuk putri. Pak Guru menyuruh mereka mengambil barisan depan. dan mereka beranjak dengan malas.

Setelah barisan rapi, Pak Guru menyuruh murid-murid untuk melaksanakan simulasi sholat 1 rakaat dan bacaannya semua dibaca keras bersama-sama. Kemudian murid-murid mulai dari niat. Dilanjutkan hingga salam.

Setelah itu, Pak Guru mengambil alih acara dan duduk di depan murid-murid seperti akan kultum yang dilakukan pada shalat tarawih di bulan ramadan.

Rama tidak ingat apa saja yang dikatakan Pak Guru. Yang ia ingat, Pak guru mendekatinya dan menyuruhnya berdiri, menghadap teman-teman. Kemudian Pak Guru berkata kurang lebih "Nah, lebih baik lagi jika sholatnya menggunakan peci putih, kemeja putih, dan sarung putih."

kemeja semua murid-murid berwarna putih karena hari selasa dan seragam sekolah berwarna putih. satu-satunya sarung di rumahnya yang pas dipakai hanya sarung putih, dan peci yang ia punya, andalan dipakai untuk mengaji juga peci putih itu yang ujung-ujungnya sudah kecoklatan. Rama tersenyum malu karena ketidaksengajaan itu.

Setelah itu, ia rajin sholat berjamaah di mushola dekat rumahnya. Dengan sarung motif jarik hitam dengan warna dasar putih, ia mengukir amal ibadahnya di waktu kecil.

Taukah teman-teman, amal kita sia-sia jika kita hanya ingin dipuji manusia, riya' namanya. Dan yang dapat menilai hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kini Rama sudah dewasa. Jika ia memilih untuk membeli sarung, ia memilih warna putih. Itu sudah menjadi warna favorit baginya. Bukan berarti ia menolak pemberian sarung yang warna-warni, ia tetap menerima. Tapi jika boleh memilih, Rama ingin sarung yang berwarna putih.

Apakah kisah Rama ini sama halnya dengan riya'? Contoh riya' adalah beramal untuk mencari pujian yang belum ia dapat. sedangkan Rama mendapat pujian tanpa perlu sengaja mencarinya. dan ia menjadikan itu sebagai motivasi dirinya untuk beramal.

Jika teman-teman memiliki ilmu lebih, mungkin bisa dibagikan lewat komen di bawah ini. Karena 'sampaikanlah ilmu walau satu ayat'.

Wallahu A'lam

Sabtu, 08 Agustus 2015

Media (Anti) Sosial

                Kita dapat memulai kisah ini dengan bangunnya seseorang dari tidurnya. Dengan alarm yang masih tetap berbunyi. Aku bermalas-malas menutup mukaku dengan bantal. Aku meletakkan HP ku di meja yang tak terjangkau tangan, sehingga aku harus berdiri untuk mematikan alarmnya. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna, aku mulai membenci lagu yang kujadikan alarm.
                Selanjutnya kita skip saja bagian di kamar mandi. Hari ini masih termasuk hari libur akhir tahun ajaran. Oh iya, aku adalah seorang siswa sekolah menengah atas. Tumbuh menjadi remaja, (entah mengapa remaja menjadi kata yang berkesan negatif. Tapi jika menggunakan kata pemuda akan terlalu kaku.) nah aku di antara keduanya. Yang akan aku bahas di kisahku kali ini adalah masalah keterkaitan kita dengan gadget yang membuat kita lebih pasif di dunia nyata.
                Orientasi narasi ini adalah adanya dua dunia yang kita alami. Yak, dunia nyata dan dunia maya. Keduanya sudah tidak asing di telinga bagi kita kan? Buktinya saja kamu membaca cerita ini dalam bentuk digital (yak arena belum ada yang bentuk cetakan). Dunia nyata itu bisa kita sentuh dengan indra kita, namun dunia maya hanya ada di layar-layar HP, leptop, dan lain-lain. Mestinya tidak usah dijelaskan juga kan? (tapi ini untuk memenuhi syarat jumlah kata yang terdapat dalam cerita)
                Mestinya ide cerita ini lebih ekspresif jika ditulis dalam bentuk komik, tapi aku tidak berbakat dalam hal itu. oke kita mulai saja ya.
                Facebook
Kalimat ‘What’s on your mind?’ menghiasi beranda tiap kali kita membukanya. Tentu kita merasakan sesuatu ketika berada pada aplikasi tersebut. Nah yang aku rasakan adalah seperti saat aku membuka jendela dan terlihat teman-teman (yang aku kenal dan sebagian besar tidak) melakukan aktifitasnya. Ada yang sedang gembira bersama teman-teman, sedih ditinggal pacar, otw, dll.
Bahkan kita tak bisa membaca semua postingan hingga menemukan postingan yang kita baca terakhir kemarin. Di kehidupan sosialku, amat jarang menemukan orang yang tidak punya akun facebook. Dulu ketika pertama masuk SMA, aku mendapati dua temanku yang tidak punya akun facebook. Tapi sekarang sudah punya. Jadi alumni SMA-ku 100% punya akun facebook. Entah itu membanggakan atau tidak penting.
Selain kabar-kabar tentang teman, facebook juga dihiasi dengan online shop, tulisan motivasi, persuasi, paragraf analitik, dan orang yang sedang belajar menulis puisi. Jangkauan facebook lebih luas, karena seperti yang sudah dijelaskan tadi, jarang ada orang yang tidak mempunyai akun facebook. Yang lebih penting lagi kita bisa sok akrab apabila ada orang yang kenal kita tapi kita tidak kenal.
Lebih enak buka facebook daripada keluar rumah dan bertemu orang secara langsung. Tapi menurutku facebook itu digunakan oleh orang-orang yang sedang nganggur atau dalam waktu luang. Sangat tidak efektif untuk mengabari hal yang mendesak.
Mereview facebook mungkin tak akan ada habisnya. Ah, teringat masa-masa alay karena memang ini adalah social media yang paling popular di era anak kelahiran 90an remaja. Foto-foto cupu yang tidak kita sadari dan malu ketika melihatnya kembali mungkin masih tersimpan di sana. Sebagian orang mungkin sudah tidak mengurusi akun facebooknya karena mungkin dianggap terlalu kuno dengan maraknya sosmed terbaru. Tapi, sebagian orang malas untuk ‘pindah rumah’ jika harus menghapus akun facebooknya.
Facebook = Halaman Sekolah
Kegiatan rutin setelahnya adalah menyirami tanaman kaktus kesayanganku, sebenarnya aku kurang paham apakah tanaman ini perlu disiram atau tidak. Tanpa tiba-tiba HP-ku berbunyi dan berbagai percakapan tidak penting muncul. Dan dengan bosannya aku tanggapi.

Whatsapp
Notifikasi dari aplikasi ini selalu menghiasi hari-hari kita kan? Berbeda dengan facebook, whatsapp terdiri dari bilik-bilik chat baik empat mata maupun banyak mata. Aplikasi ini menggunakan nomor HP untuk mengaksesnya. Dan nomor HP bersifat lebih privat, sehingga menjadikan whatsapp sebagai sosmed yang bersifat privat pula. Semua yang ada di kontak whatsapp bisa dipastikan kita mengenalnya.
Untuk fitur-fitur di dalamnya dapat dilihat di review-review di internet (bukankah ini juga internet?) oke, cari di artikel bersangkutan. Kisah ini mengisahkan hubungan manusia dengan sosmed, bukan review aplikasi.
Perasaan yang ditimbulkan ketika membuka aplikasi ini adalah seperti sekolah yang tidak memiliki halaman. Semua tanahnya digunakan untuk ruangan. Ada ruangan kelas, ruangan alumni smp, ruangan alumni sd, ada ruangan kelompok piket, ada ruangan kelompok ekstrakulikuler, dan sisanya ruangan untuk ngobrol empat mata.

Whatsapp = Sekolah Tanpa Halaman

Hari menjelang siang dan rasa-rasa bosan mulai menghampiri. Daripada bengong di sofa hanya bernafas dan garuk-garuk, lebih baik aku main Cookierun dan mengalahkan score yang lain.

Line
Hah, mungkin karena gamenya, aplikasi yang satu ini jadi digunakan banyak orang, (beberapa orang hanya ngespam ajakan bermain game). Tapi ini menjadi sosmed orientasi utama di HP-ku. Tiga hal yang mungkin bisa menjelaskan keunggulan Line adalah: Permainan, Stiker, dan.. oke dua saja ya.
Meskipun aku tak terlalu menyukainya karena terlalu ramai dan membuat HP lamban, tak bisa dipungkiri ini adalah sosmed yang paling efektif untuk memberikan informasi penting. Dan hal yang tak bisa dipungkiri lagi adalah, aku pernah menggunakan uang jajanku untuk membeli stiker di aplikasi ini, aku tahu itu tak dapat diterima bagi beberapa kalangan orang, tapi aku juga masih memikirkannya apakah itu wellspend.
Ketika berada dalam aplikasi ini aku merasakan seperti berada dalam satu sekolahan dengan halaman (ruangan adalah ruang chat, dan halamannya adalah timeline). Ramai dan banyak orang-orang yang berkoar-koar menggunakan toa dan mengajak orang lain untuk sepemikiran dengan mereka.
Line = Sekolah dengan Halaman dan Sedang Diadakan Pameran

Matahari sudah tergelincir ke barat, saatnya makan siang kemudian tidur siang.

Kakao Talk
Mirip dengan Line, tapi sepi. Jadi aku menghapus aplikasi ini.

KakaoTalk = Sekolah Sedang Libur

Menjelang sore hari, lebih baik mencoba jalan-jalan dan mencari udara segar, nah, di tengah alun-alun menemukan satu spot yang perfect untuk selfie.

Instagram
Menunggu notifikasi foto kita disukai menimbulkan sensasi tersendiri setelah mengupload foto. Foto selfie, foto pemandangan, foto pacar orang, foto meme, foto apa saja bisa diupload. Semua orang bisa menjadi fotografer, itu slogan yang aku ciptakan.
Menceritakan berbagai kisah hidupnya dengan berbagai foto yang ia alami, atau yang ia temui. Instagram identic dengan foto, tapi bisa juga untuk video. Nah untuk yang video ini aku kurang suka karena mengganggu ke-eksistensi-an aplikasi sebagai pengunggah foto.
Perasaan yang ditimbulkan adalah seperti mengunjungi galeri dengan berbagai foto. Kita bisa melewati saja bagian foto yang tidak  menarik, tapi bisa memberikan apresiasi untuk foto yang menarik dengan menekan ikon <3
Instagram = Galeri Foto

Path
Kurang paham juga dengan aplikasi yang satu ini karena aku belum mengunduhnya. tapi sepertinya lebih mementingkan lokasi pengguna.
Path = Jalan-jalan

Menjelang malam, saatnya istirahat dari semua kepenatan siang hari (yang tidak melakukan apa-apa). Menonton tv, di pojokan layar televisi muncul nama orang yang muncul, dengan awalan karakter @, sudah tidak asing lagi itu akun apa.

Twitter
Nah, yang satu ini adiknya facebook, tapi aku masih belum mahir menggunakannya. Terlalu banyak kata-kata tidak efektif yang membingungkan seperti: RT, favorite, @fulan, #something, dan notifikasi seperti itu tercampur dalam home, membuatku memutuskan untuk menghapus aplikasi itu. banyak yang menggunakan sosmed ini. Semua artis  sepertinya punya akun twitter. jadi intinya twitter lebih official dan jarang ada akun-akun palsu.
Perasaan yang ditimbulkan ketika aku membuka aplikasi ini adalah seperti mambaca koran halaman iklan kecik. Terpaksa membaca apa yang tidak ingin dibaca. Dan lebih banyak link-link yang membuat bingung.
Twitter = Ocehan Burung yang Mengganggu Tidur Siang

Menjelang jam tidur, semakin ramai broadcast di sosmed, dan obrolan dari hal yang penting hingga yang tidak layak dibicarakan.

BBM
Menurutku BBM lebih terkesan luxury. Kehadirannya di android menjadikan aplikasi ini menjadi seperti anak pindahan dari luar negeri. Terdapat ruang chat, dan notifikasi oleh pengguna lain di feed.
Berada di aplikasi ini menimbullkan kesan berada pada apartemen mewah. Terdapat jendela yang memungkinkan untuk melihat tetangga sedang melakukan apa.
BBM = Apartemen Mewah dengan Jendela Terhubung ke Semua Tetangga.

Dan masih banyak social media yang mungkin tidak disebutkan di sini, seperti vine, snapchat, dan lain-lain. Satu hari sekali minimal kita membuka aplikasi-aplikasi tersebut. Ironi memang. Entah sejak kapan kita memulai tradisi ini, tapi itu sudah menjadi kegiatan rutin.
Menjadikan kita lebih berorientasi ke dunia maya daripada dunia nyata. Sudah banyak media seperti video, artikel, atau bahkan komik yang menggambarkan fenomena seperti ini. entah berlebihan atau tidak, kita tidak bisa menilai. Kita hanya bisa menilai diri sendiri apakah jadwal rutin sosmed tersebut membuat kita lebih produktif atau sebaliknya.
Kisah anak SMA ini menggambarkan berbagai kejanggalan yang sudah dianggap lumrah di jaman modern seperti ini. Nah, jika ingin mengujinya, ayo lakukan offline challenge. Hanya dengan menonaktifkan sambungan data dari ponsel kita dan mengerjakan kegiatan seperti belajar, menyapu, mencuci, dan kegiatan kreatif lainnya. Tanpa perlu memposting untuk memulainya, juga tanpa mengupload hasil kerja kita setelah melakukannya.


Bagaimana menurutmu sosmed-sosmed itu bagi kehidupanmu?

Sabtu, 01 Agustus 2015

Insomnia

                Di bawah lampu  temaram hampir tengah malam, ia masih terjaga. Seluruh tubuhnya menolak untuk diajak beristirahat sejenak. Tentu saja otak yang mengambil alih keheningan malam itu.
                Pernah ia baca postingan di salah satu media social, seseorang memiliki tiga wajah. Satu ditunjukkan kepada public, satu ditunjukkan kepada orang terdekat, dan satu hanya untuk ia sendiri.
                Dua tiga detik hanya diam menatap langit-langit kamar tidurnya. Benaknya kosong. Detik keempat ia menyesal telah minum kopi instan tadi. Detik kelima ia menyesal telah tidur siang. Detik keenam ia menyesal telah menghabiskan baterai handphonenya.
                Tinggallah ia bersama keheningan yang tak tahu kapan berakhir.

                Wajah pertama atau sikap pertama, selalu terkontrol oleh sesuatu yang disebut hubungan social. Melakukan hal ini karena orang-orang melakukannya, tidak melakukan hal itu Karena itu akan membuat kita dibenci, tidak melakukan hal ini karena itu tidak pernah dilakukan orang sebelumnya, melakukan hal itu agar orang-orang menyukai kita. Semua tergantung persepsi ‘orang-orang’.
                Wajah kedua atau sikap ke dua tidak terlalu terkontrol, lebih sesuai kehendak hati, namun masih mempertimbangkan reaksi dari objek. Yaitu orang-orang terdekat. Melakukan hal ini karena aku menyukainya, tidak melakukan hal itu karena dia membencinya, melakukan hal itu karena dia menyukainya, tidak melakukan hal ini karena aku membencinya.
                Wajah ketiga, tak seorangpun yang mengetahui kecuali kita sendiri. Melakukannya sesuka kehendak hati. Di sinilah rahasia yang ada di dalam hati setiap manusia.

                Langit-langit tidak bergerak, bola matanya yang bergerak kian kemari. Lalu ia membanyangkan semua perilaku selama ini.
                Lalu ia berpikir untuk menerbitkan Buku Panduan Menjadi Manusia. itu yang terlintas di benaknya saat ini. tapi ia yakin ia tak akan pernah bisa. Karena panduan hanya bisa dibuat oleh yang menciptakan. Yang paling mengerti kelebihan dan kelemahan ciptaannya.
                Entah buku itu ada kaitannya dengan wajah-wajah tadi atau tidak, ada pertanyaan yang menggelitik. Apakah manusia diatur oleh otak, atau adakah yang mengatur otak manusia untuk berpikir? Kadang kita tidak tahu apa yang tiba-tiba akan terlintas dua tiga detik setelah detik ini. kemudian dia tersenyum. Menyadari bahwa sebenarnya kita tidak bisa membaca pikiran kita bahkan satu detik yang akan datang.
                Memasuki jam-jam kritis memang menyebalkan. Ia menyesal lagi telah meminta kopi sisa kakaknya karena tidak puas dengan segelas kopinya. Berpikir tentang hal-hal bodoh yang tidak penting untuk dipikirkan.
                Sampai detik ini, belum ada tanda-tanda perintah dari otaknya untuk mengistirahatkan tubuh. Kemudian ia berpikir lagi. banyak hal-hal dari tubuh kita yang bahkan belum teruraikan. Seperti, kapan kita bisa tertidur, maksudnya kita tidak dapat memprediksi secara akurat berapa detik kita akan tertidur setelah memejamkan mata. Dan itu tidak penting untuk dipelajari di pelajaran biologi atau fisika.
                Ia menyadari, matanya sudah begitu lelah untuk terbuka. Dan tidak nyaman ketika ditutup. Hal yang paling menyebalkan ketika amnesia adalah ketika otak membayangkan ada benda-benda tajam menusuk mata, membuat mata membuka dan memastikan tidak ada apa-apa. Ia berpikir apakah hanya dia yang merasakan hal itu. (Bahkan sudah tidak mampu membedakan insomnia  dan amnesia)
                Kemudian dalam benaknya ia bertanya-tanya, benak itu terletak dimana? Apakah di dalam dada, atau di kepala. Kemudian bertanya-tanya apakah hati benar-benar merasakan emosi cinta kasih sayang dan lain-lain? Bukankah ia hanya menyaring darah, atau apalah. Dokumen pelajaran biologi dalam kepalanya sudah usang dan ‘not responding’.
                Kemudian ia memikirkan hal yang bahkan ia akan berpikir kembali untuk menanyakannya kepada orang lain. Apakah ini wajah ketiga yang disebutkan media sosial tadi? Berfikir hal-hal yang hanya ada di dalam kepala sendiri.
             Kemudian ia mulai menutup mata, membayangkan hal-hal indah. Padang rumput, kupu-kupu, matahari cerah. Nah, sekarang biasanya dia akan tertidur, merangsang otaknya masuk dalam dunia mimpi.
                Gagal.
                Ia tetap tidak bisa tertidur, mungkin dia harus mematikan lampunya. Matanya mulai bisa tidak berkontraksi, mengistirahatkan diri. Kemudian ia merasa ada sesuatu di atas lemari. Detik berikutnya ia menyesal tadi menonton film horror. Membuka mata, terlihat siluet-siluet yang terbentuk dari ketidak jelasan mata memandang dan memori-memori hal yang mengerikan. Menutup mata, kembali terlihat memori-memori hal yang mengerikan. Ia menyalakan kembali lampunya. Kini ia mulai putus asa. Lapar terasa.
                Dia terduduk, dan menghela nafas kecewa. ‘Tuhan, hilangkanlah kesadaranku untuk malam ini, dan kembalikan esok hari’. Kemarahan dan kekecewaan dalam diri mulai mengendur. Kini ia berpikir sebaiknya mematikan lampu atau membiarkannya menyala. Ia kembali menghela nafas. Merepotkan sekali. Ia bangkit berdiri. Mendapatkan ide. Menutup sebagian lampu agar tidak menyilaukan matanya. Ia mencari isolasi dan selembar kertas. Tak sulit mendapatkannya. Setelah merealisasikan idenya, ia kembali berbaring. Berusaha tidak memikirkan apapun. Tapi itu mustahil. Ia menghampiri handphonenya. Angka di sebelah lambang baterai adalah 64%. Mencabutnya memasang earphone. Mengatur playlist ‘somewhere’ yang membuatnya membayangkan berada dalam tempat yang indah. Kembali berbaring. Kembali menghela nafas dan membaca doa

                Insomnia: berakhir