Jumat, 21 Agustus 2015

Sarung Putih

Pernahkah teman-teman merasakan, bahwa sebuah pujian itu dapat membuat kita termotivasi? Itu amat baik jika kita ingin memancing anak kecil untuk berbuat baik. Simaklah terlebih dahulu kisah berikut.

Rama namanya, waktu itu ia duduk di bangku sekolah dasar kelas 6, atau mungkin kelas 5. Rama lupa. Pelajaran agama kali ini adalah latihan sholat. Mungkin sebelum kelas 5 teman-teman Rama sudah bisa sholat, begitu pula ia.Kemarin, Pak guru sudah menyuruh murid-murid untuk membawa sarung dan peci bagi yang putra, dan mukena bagi yang putri.

Rama bukanlah anak yang terpintar di kelas itu. Ia juga bukan anak termalas di kelas itu. Ia hanya anak yang biasa-biasa saja di kelas itu. Pak guru memasuki ruang kelas. Dengan sumringah, ia menyuruh murid-murid untuk segera berangkat ke masjid di dekat sekolah.

Seperti ingin melaksanakan sholat sungguhan, murid-murid secara reflek langsung mengambil air wudhu. Mungkin itu prosedur yang sudah ada di kepala mereka jika berangkat ke masjid.

Murid-murid yang nakal langsung mengambil sof paling belakang, menggambarkan posisi andalan mereka saat sholat jumat. Padahal sof paling belakang untuk putri. Pak Guru menyuruh mereka mengambil barisan depan. dan mereka beranjak dengan malas.

Setelah barisan rapi, Pak Guru menyuruh murid-murid untuk melaksanakan simulasi sholat 1 rakaat dan bacaannya semua dibaca keras bersama-sama. Kemudian murid-murid mulai dari niat. Dilanjutkan hingga salam.

Setelah itu, Pak Guru mengambil alih acara dan duduk di depan murid-murid seperti akan kultum yang dilakukan pada shalat tarawih di bulan ramadan.

Rama tidak ingat apa saja yang dikatakan Pak Guru. Yang ia ingat, Pak guru mendekatinya dan menyuruhnya berdiri, menghadap teman-teman. Kemudian Pak Guru berkata kurang lebih "Nah, lebih baik lagi jika sholatnya menggunakan peci putih, kemeja putih, dan sarung putih."

kemeja semua murid-murid berwarna putih karena hari selasa dan seragam sekolah berwarna putih. satu-satunya sarung di rumahnya yang pas dipakai hanya sarung putih, dan peci yang ia punya, andalan dipakai untuk mengaji juga peci putih itu yang ujung-ujungnya sudah kecoklatan. Rama tersenyum malu karena ketidaksengajaan itu.

Setelah itu, ia rajin sholat berjamaah di mushola dekat rumahnya. Dengan sarung motif jarik hitam dengan warna dasar putih, ia mengukir amal ibadahnya di waktu kecil.

Taukah teman-teman, amal kita sia-sia jika kita hanya ingin dipuji manusia, riya' namanya. Dan yang dapat menilai hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kini Rama sudah dewasa. Jika ia memilih untuk membeli sarung, ia memilih warna putih. Itu sudah menjadi warna favorit baginya. Bukan berarti ia menolak pemberian sarung yang warna-warni, ia tetap menerima. Tapi jika boleh memilih, Rama ingin sarung yang berwarna putih.

Apakah kisah Rama ini sama halnya dengan riya'? Contoh riya' adalah beramal untuk mencari pujian yang belum ia dapat. sedangkan Rama mendapat pujian tanpa perlu sengaja mencarinya. dan ia menjadikan itu sebagai motivasi dirinya untuk beramal.

Jika teman-teman memiliki ilmu lebih, mungkin bisa dibagikan lewat komen di bawah ini. Karena 'sampaikanlah ilmu walau satu ayat'.

Wallahu A'lam

Sabtu, 08 Agustus 2015

Media (Anti) Sosial

                Kita dapat memulai kisah ini dengan bangunnya seseorang dari tidurnya. Dengan alarm yang masih tetap berbunyi. Aku bermalas-malas menutup mukaku dengan bantal. Aku meletakkan HP ku di meja yang tak terjangkau tangan, sehingga aku harus berdiri untuk mematikan alarmnya. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna, aku mulai membenci lagu yang kujadikan alarm.
                Selanjutnya kita skip saja bagian di kamar mandi. Hari ini masih termasuk hari libur akhir tahun ajaran. Oh iya, aku adalah seorang siswa sekolah menengah atas. Tumbuh menjadi remaja, (entah mengapa remaja menjadi kata yang berkesan negatif. Tapi jika menggunakan kata pemuda akan terlalu kaku.) nah aku di antara keduanya. Yang akan aku bahas di kisahku kali ini adalah masalah keterkaitan kita dengan gadget yang membuat kita lebih pasif di dunia nyata.
                Orientasi narasi ini adalah adanya dua dunia yang kita alami. Yak, dunia nyata dan dunia maya. Keduanya sudah tidak asing di telinga bagi kita kan? Buktinya saja kamu membaca cerita ini dalam bentuk digital (yak arena belum ada yang bentuk cetakan). Dunia nyata itu bisa kita sentuh dengan indra kita, namun dunia maya hanya ada di layar-layar HP, leptop, dan lain-lain. Mestinya tidak usah dijelaskan juga kan? (tapi ini untuk memenuhi syarat jumlah kata yang terdapat dalam cerita)
                Mestinya ide cerita ini lebih ekspresif jika ditulis dalam bentuk komik, tapi aku tidak berbakat dalam hal itu. oke kita mulai saja ya.
                Facebook
Kalimat ‘What’s on your mind?’ menghiasi beranda tiap kali kita membukanya. Tentu kita merasakan sesuatu ketika berada pada aplikasi tersebut. Nah yang aku rasakan adalah seperti saat aku membuka jendela dan terlihat teman-teman (yang aku kenal dan sebagian besar tidak) melakukan aktifitasnya. Ada yang sedang gembira bersama teman-teman, sedih ditinggal pacar, otw, dll.
Bahkan kita tak bisa membaca semua postingan hingga menemukan postingan yang kita baca terakhir kemarin. Di kehidupan sosialku, amat jarang menemukan orang yang tidak punya akun facebook. Dulu ketika pertama masuk SMA, aku mendapati dua temanku yang tidak punya akun facebook. Tapi sekarang sudah punya. Jadi alumni SMA-ku 100% punya akun facebook. Entah itu membanggakan atau tidak penting.
Selain kabar-kabar tentang teman, facebook juga dihiasi dengan online shop, tulisan motivasi, persuasi, paragraf analitik, dan orang yang sedang belajar menulis puisi. Jangkauan facebook lebih luas, karena seperti yang sudah dijelaskan tadi, jarang ada orang yang tidak mempunyai akun facebook. Yang lebih penting lagi kita bisa sok akrab apabila ada orang yang kenal kita tapi kita tidak kenal.
Lebih enak buka facebook daripada keluar rumah dan bertemu orang secara langsung. Tapi menurutku facebook itu digunakan oleh orang-orang yang sedang nganggur atau dalam waktu luang. Sangat tidak efektif untuk mengabari hal yang mendesak.
Mereview facebook mungkin tak akan ada habisnya. Ah, teringat masa-masa alay karena memang ini adalah social media yang paling popular di era anak kelahiran 90an remaja. Foto-foto cupu yang tidak kita sadari dan malu ketika melihatnya kembali mungkin masih tersimpan di sana. Sebagian orang mungkin sudah tidak mengurusi akun facebooknya karena mungkin dianggap terlalu kuno dengan maraknya sosmed terbaru. Tapi, sebagian orang malas untuk ‘pindah rumah’ jika harus menghapus akun facebooknya.
Facebook = Halaman Sekolah
Kegiatan rutin setelahnya adalah menyirami tanaman kaktus kesayanganku, sebenarnya aku kurang paham apakah tanaman ini perlu disiram atau tidak. Tanpa tiba-tiba HP-ku berbunyi dan berbagai percakapan tidak penting muncul. Dan dengan bosannya aku tanggapi.

Whatsapp
Notifikasi dari aplikasi ini selalu menghiasi hari-hari kita kan? Berbeda dengan facebook, whatsapp terdiri dari bilik-bilik chat baik empat mata maupun banyak mata. Aplikasi ini menggunakan nomor HP untuk mengaksesnya. Dan nomor HP bersifat lebih privat, sehingga menjadikan whatsapp sebagai sosmed yang bersifat privat pula. Semua yang ada di kontak whatsapp bisa dipastikan kita mengenalnya.
Untuk fitur-fitur di dalamnya dapat dilihat di review-review di internet (bukankah ini juga internet?) oke, cari di artikel bersangkutan. Kisah ini mengisahkan hubungan manusia dengan sosmed, bukan review aplikasi.
Perasaan yang ditimbulkan ketika membuka aplikasi ini adalah seperti sekolah yang tidak memiliki halaman. Semua tanahnya digunakan untuk ruangan. Ada ruangan kelas, ruangan alumni smp, ruangan alumni sd, ada ruangan kelompok piket, ada ruangan kelompok ekstrakulikuler, dan sisanya ruangan untuk ngobrol empat mata.

Whatsapp = Sekolah Tanpa Halaman

Hari menjelang siang dan rasa-rasa bosan mulai menghampiri. Daripada bengong di sofa hanya bernafas dan garuk-garuk, lebih baik aku main Cookierun dan mengalahkan score yang lain.

Line
Hah, mungkin karena gamenya, aplikasi yang satu ini jadi digunakan banyak orang, (beberapa orang hanya ngespam ajakan bermain game). Tapi ini menjadi sosmed orientasi utama di HP-ku. Tiga hal yang mungkin bisa menjelaskan keunggulan Line adalah: Permainan, Stiker, dan.. oke dua saja ya.
Meskipun aku tak terlalu menyukainya karena terlalu ramai dan membuat HP lamban, tak bisa dipungkiri ini adalah sosmed yang paling efektif untuk memberikan informasi penting. Dan hal yang tak bisa dipungkiri lagi adalah, aku pernah menggunakan uang jajanku untuk membeli stiker di aplikasi ini, aku tahu itu tak dapat diterima bagi beberapa kalangan orang, tapi aku juga masih memikirkannya apakah itu wellspend.
Ketika berada dalam aplikasi ini aku merasakan seperti berada dalam satu sekolahan dengan halaman (ruangan adalah ruang chat, dan halamannya adalah timeline). Ramai dan banyak orang-orang yang berkoar-koar menggunakan toa dan mengajak orang lain untuk sepemikiran dengan mereka.
Line = Sekolah dengan Halaman dan Sedang Diadakan Pameran

Matahari sudah tergelincir ke barat, saatnya makan siang kemudian tidur siang.

Kakao Talk
Mirip dengan Line, tapi sepi. Jadi aku menghapus aplikasi ini.

KakaoTalk = Sekolah Sedang Libur

Menjelang sore hari, lebih baik mencoba jalan-jalan dan mencari udara segar, nah, di tengah alun-alun menemukan satu spot yang perfect untuk selfie.

Instagram
Menunggu notifikasi foto kita disukai menimbulkan sensasi tersendiri setelah mengupload foto. Foto selfie, foto pemandangan, foto pacar orang, foto meme, foto apa saja bisa diupload. Semua orang bisa menjadi fotografer, itu slogan yang aku ciptakan.
Menceritakan berbagai kisah hidupnya dengan berbagai foto yang ia alami, atau yang ia temui. Instagram identic dengan foto, tapi bisa juga untuk video. Nah untuk yang video ini aku kurang suka karena mengganggu ke-eksistensi-an aplikasi sebagai pengunggah foto.
Perasaan yang ditimbulkan adalah seperti mengunjungi galeri dengan berbagai foto. Kita bisa melewati saja bagian foto yang tidak  menarik, tapi bisa memberikan apresiasi untuk foto yang menarik dengan menekan ikon <3
Instagram = Galeri Foto

Path
Kurang paham juga dengan aplikasi yang satu ini karena aku belum mengunduhnya. tapi sepertinya lebih mementingkan lokasi pengguna.
Path = Jalan-jalan

Menjelang malam, saatnya istirahat dari semua kepenatan siang hari (yang tidak melakukan apa-apa). Menonton tv, di pojokan layar televisi muncul nama orang yang muncul, dengan awalan karakter @, sudah tidak asing lagi itu akun apa.

Twitter
Nah, yang satu ini adiknya facebook, tapi aku masih belum mahir menggunakannya. Terlalu banyak kata-kata tidak efektif yang membingungkan seperti: RT, favorite, @fulan, #something, dan notifikasi seperti itu tercampur dalam home, membuatku memutuskan untuk menghapus aplikasi itu. banyak yang menggunakan sosmed ini. Semua artis  sepertinya punya akun twitter. jadi intinya twitter lebih official dan jarang ada akun-akun palsu.
Perasaan yang ditimbulkan ketika aku membuka aplikasi ini adalah seperti mambaca koran halaman iklan kecik. Terpaksa membaca apa yang tidak ingin dibaca. Dan lebih banyak link-link yang membuat bingung.
Twitter = Ocehan Burung yang Mengganggu Tidur Siang

Menjelang jam tidur, semakin ramai broadcast di sosmed, dan obrolan dari hal yang penting hingga yang tidak layak dibicarakan.

BBM
Menurutku BBM lebih terkesan luxury. Kehadirannya di android menjadikan aplikasi ini menjadi seperti anak pindahan dari luar negeri. Terdapat ruang chat, dan notifikasi oleh pengguna lain di feed.
Berada di aplikasi ini menimbullkan kesan berada pada apartemen mewah. Terdapat jendela yang memungkinkan untuk melihat tetangga sedang melakukan apa.
BBM = Apartemen Mewah dengan Jendela Terhubung ke Semua Tetangga.

Dan masih banyak social media yang mungkin tidak disebutkan di sini, seperti vine, snapchat, dan lain-lain. Satu hari sekali minimal kita membuka aplikasi-aplikasi tersebut. Ironi memang. Entah sejak kapan kita memulai tradisi ini, tapi itu sudah menjadi kegiatan rutin.
Menjadikan kita lebih berorientasi ke dunia maya daripada dunia nyata. Sudah banyak media seperti video, artikel, atau bahkan komik yang menggambarkan fenomena seperti ini. entah berlebihan atau tidak, kita tidak bisa menilai. Kita hanya bisa menilai diri sendiri apakah jadwal rutin sosmed tersebut membuat kita lebih produktif atau sebaliknya.
Kisah anak SMA ini menggambarkan berbagai kejanggalan yang sudah dianggap lumrah di jaman modern seperti ini. Nah, jika ingin mengujinya, ayo lakukan offline challenge. Hanya dengan menonaktifkan sambungan data dari ponsel kita dan mengerjakan kegiatan seperti belajar, menyapu, mencuci, dan kegiatan kreatif lainnya. Tanpa perlu memposting untuk memulainya, juga tanpa mengupload hasil kerja kita setelah melakukannya.


Bagaimana menurutmu sosmed-sosmed itu bagi kehidupanmu?

Sabtu, 01 Agustus 2015

Insomnia

                Di bawah lampu  temaram hampir tengah malam, ia masih terjaga. Seluruh tubuhnya menolak untuk diajak beristirahat sejenak. Tentu saja otak yang mengambil alih keheningan malam itu.
                Pernah ia baca postingan di salah satu media social, seseorang memiliki tiga wajah. Satu ditunjukkan kepada public, satu ditunjukkan kepada orang terdekat, dan satu hanya untuk ia sendiri.
                Dua tiga detik hanya diam menatap langit-langit kamar tidurnya. Benaknya kosong. Detik keempat ia menyesal telah minum kopi instan tadi. Detik kelima ia menyesal telah tidur siang. Detik keenam ia menyesal telah menghabiskan baterai handphonenya.
                Tinggallah ia bersama keheningan yang tak tahu kapan berakhir.

                Wajah pertama atau sikap pertama, selalu terkontrol oleh sesuatu yang disebut hubungan social. Melakukan hal ini karena orang-orang melakukannya, tidak melakukan hal itu Karena itu akan membuat kita dibenci, tidak melakukan hal ini karena itu tidak pernah dilakukan orang sebelumnya, melakukan hal itu agar orang-orang menyukai kita. Semua tergantung persepsi ‘orang-orang’.
                Wajah kedua atau sikap ke dua tidak terlalu terkontrol, lebih sesuai kehendak hati, namun masih mempertimbangkan reaksi dari objek. Yaitu orang-orang terdekat. Melakukan hal ini karena aku menyukainya, tidak melakukan hal itu karena dia membencinya, melakukan hal itu karena dia menyukainya, tidak melakukan hal ini karena aku membencinya.
                Wajah ketiga, tak seorangpun yang mengetahui kecuali kita sendiri. Melakukannya sesuka kehendak hati. Di sinilah rahasia yang ada di dalam hati setiap manusia.

                Langit-langit tidak bergerak, bola matanya yang bergerak kian kemari. Lalu ia membanyangkan semua perilaku selama ini.
                Lalu ia berpikir untuk menerbitkan Buku Panduan Menjadi Manusia. itu yang terlintas di benaknya saat ini. tapi ia yakin ia tak akan pernah bisa. Karena panduan hanya bisa dibuat oleh yang menciptakan. Yang paling mengerti kelebihan dan kelemahan ciptaannya.
                Entah buku itu ada kaitannya dengan wajah-wajah tadi atau tidak, ada pertanyaan yang menggelitik. Apakah manusia diatur oleh otak, atau adakah yang mengatur otak manusia untuk berpikir? Kadang kita tidak tahu apa yang tiba-tiba akan terlintas dua tiga detik setelah detik ini. kemudian dia tersenyum. Menyadari bahwa sebenarnya kita tidak bisa membaca pikiran kita bahkan satu detik yang akan datang.
                Memasuki jam-jam kritis memang menyebalkan. Ia menyesal lagi telah meminta kopi sisa kakaknya karena tidak puas dengan segelas kopinya. Berpikir tentang hal-hal bodoh yang tidak penting untuk dipikirkan.
                Sampai detik ini, belum ada tanda-tanda perintah dari otaknya untuk mengistirahatkan tubuh. Kemudian ia berpikir lagi. banyak hal-hal dari tubuh kita yang bahkan belum teruraikan. Seperti, kapan kita bisa tertidur, maksudnya kita tidak dapat memprediksi secara akurat berapa detik kita akan tertidur setelah memejamkan mata. Dan itu tidak penting untuk dipelajari di pelajaran biologi atau fisika.
                Ia menyadari, matanya sudah begitu lelah untuk terbuka. Dan tidak nyaman ketika ditutup. Hal yang paling menyebalkan ketika amnesia adalah ketika otak membayangkan ada benda-benda tajam menusuk mata, membuat mata membuka dan memastikan tidak ada apa-apa. Ia berpikir apakah hanya dia yang merasakan hal itu. (Bahkan sudah tidak mampu membedakan insomnia  dan amnesia)
                Kemudian dalam benaknya ia bertanya-tanya, benak itu terletak dimana? Apakah di dalam dada, atau di kepala. Kemudian bertanya-tanya apakah hati benar-benar merasakan emosi cinta kasih sayang dan lain-lain? Bukankah ia hanya menyaring darah, atau apalah. Dokumen pelajaran biologi dalam kepalanya sudah usang dan ‘not responding’.
                Kemudian ia memikirkan hal yang bahkan ia akan berpikir kembali untuk menanyakannya kepada orang lain. Apakah ini wajah ketiga yang disebutkan media sosial tadi? Berfikir hal-hal yang hanya ada di dalam kepala sendiri.
             Kemudian ia mulai menutup mata, membayangkan hal-hal indah. Padang rumput, kupu-kupu, matahari cerah. Nah, sekarang biasanya dia akan tertidur, merangsang otaknya masuk dalam dunia mimpi.
                Gagal.
                Ia tetap tidak bisa tertidur, mungkin dia harus mematikan lampunya. Matanya mulai bisa tidak berkontraksi, mengistirahatkan diri. Kemudian ia merasa ada sesuatu di atas lemari. Detik berikutnya ia menyesal tadi menonton film horror. Membuka mata, terlihat siluet-siluet yang terbentuk dari ketidak jelasan mata memandang dan memori-memori hal yang mengerikan. Menutup mata, kembali terlihat memori-memori hal yang mengerikan. Ia menyalakan kembali lampunya. Kini ia mulai putus asa. Lapar terasa.
                Dia terduduk, dan menghela nafas kecewa. ‘Tuhan, hilangkanlah kesadaranku untuk malam ini, dan kembalikan esok hari’. Kemarahan dan kekecewaan dalam diri mulai mengendur. Kini ia berpikir sebaiknya mematikan lampu atau membiarkannya menyala. Ia kembali menghela nafas. Merepotkan sekali. Ia bangkit berdiri. Mendapatkan ide. Menutup sebagian lampu agar tidak menyilaukan matanya. Ia mencari isolasi dan selembar kertas. Tak sulit mendapatkannya. Setelah merealisasikan idenya, ia kembali berbaring. Berusaha tidak memikirkan apapun. Tapi itu mustahil. Ia menghampiri handphonenya. Angka di sebelah lambang baterai adalah 64%. Mencabutnya memasang earphone. Mengatur playlist ‘somewhere’ yang membuatnya membayangkan berada dalam tempat yang indah. Kembali berbaring. Kembali menghela nafas dan membaca doa

                Insomnia: berakhir