Minggu, 21 Juni 2015

Laa Tahzan

Bismillah

08xx: Assalamualaikum

Waalaikumsalam,

08xx: Kaifa Haaluk?
(Apa kabar)

Khoir, Alhamdulillah. Siapa ya?

08xx: Waduh, temen lama dilupain

Ya maaf, nomernya belum ke-save.

08xx: Umam..


Seperti itu, pertama kali aku dihubungkan kembali dengan kawan lama. Cukup lama ia meunggu balasan chat ku karena sedikit confetti di dalam tubuhku baru saja meletup.

Masya Allah. Apa Kabar Sup?

Umam: Alhamdulillah.

Kembali hening. Terlalu banyak rentetan pertanyaan yang ingin sekali aku lontarkan. Tapi entah mengapa aku menahannya. Synopsis singkat dari temanku yang satu ini, dia penasehat pribadiku. Selalu mengkoreksi kehidupanku. Menjadikan aku lebih baik dari hari ke hari selama aku bersamanya.

Umam: Wah bingung mau ngomong apa

Wahaha, iya sama

Umam: Lagi ngapain? Awkward banget

Lagi puasa..
Ya iya lah bulan puasa ini

Umam: Sibuk ngapain sekarang?

Kuliah aja sih, biasa
Kau sendiri?

Umam: iya biasa lah, di apotek

Hafalan quranmu sampai mana?

Umam: sepertiga alquran Alhamdulillah..

Qulhu?

Umam: -.-

Wahaha.. subhanallah, masih bisa bertahan

Umam: loh, emangnya kau kenapa?


Susah, stuck. Masih aja 2 juz, entah masih atau malah berkurang
Umam: yaah, ayo lanjutkan dong..

Susah cuy. Banyak godaan,

Umam: misalnya?


Misalnya nih, kan banyak kegiatan di kampus,
otomatis kalo mau ngeluangin waktu,
ya harus hafalan di kampus.
Takut dikira riya buka-buka alquran di kampus

Umam: Astaghfirullah, gak gitu juga lah

Entah. Kehidupan sosial kayak mengatur banget

Umam: Innamal A’malu binniyat

Iya Mam, paham. Tapi susah,
dikira sok alim lah. Dll

Umam: be yourself

Speechless

Umam: itu takut dikira riya atau alasan gamau hafalan?


Seperti biasa, dia langsung menembakkan peluru itu. membuatku bungkam seketika.

Mam, kamu liat iklan setan itu gak?

Umam: yang nyuruh posting amalan-amalan di medsos?

Yap. Setelah liat iklan itu aku jadi
kayak mikir dua kali buat beramal

Umam: misal?

Kan ini bulan puasa. Misal mau ngingetin buat tadarus,
Takut orang mikir ‘wah iya, iya, anak alim udah tadarusan’

Umam: jadi kau bisa baca pikiran orang sekarang?

Mam, seriusan ini.. -.-

Umam: pertanyaanku juga serius. Jawab lah~

Ya enggak sih. Dugaan aja.

Umam: kau tuh mengkhawatirkan apa yang tidak perlu dikhawatirkan

Solusi?

Umam: jalani aja. Yang nilai amal kita tuh Allah bukan manusia

Hmm..

Masih ngganjel

Umam: okay. Kau setuju kalo adzan di masjid gak pake pengeras lagi?

Ya enggak lah. Tanda-tanda kiamat itu

Umam: soalnya muadzinnya gamau dikira riya

Ya nggak gitu juga lah Mam.

Umam: Paham?

Iya paham pak ustadz

Double strike


Umam: kau tahu kenapa sholat subuh, maghrib sama isya bacaannya jahr. Kalo dhuhur ashar bacaannya sirr?

Tau, but idk why

Umam: mungkin, mungkin nih ya gatau bener apa engga. Mungkin memang amal itu ada kalanya kelihatan, ada kalanya enggak

masuk akal sih..

Umam: :)


Bulan Ramadan, kita diperintahkan untuk perbanyak amal. Dan barang siapa yang mengingatkan orang lain untuk beramal, maka ia diberi pahala sebesar pahala orang yang melaksanakan tanpa mengurangi pahala sedikitpun dari yang melaksanakan
Sama halnya jika kita memberi makan 1 orang untuk berbuka puasa, maka kita mendapat pahala 1 kali puasa tanpa mengurangi pahala orang itu.

Umam: innamal A`malu binniyat. Sesungguhnya amal itu tergantung
niatnya.
Mam, masih ada yang ngganjel.
Masih ada kaitannya, tapi gatau.
Eh, nggak jadi deh

Umam: wkwk Dasar.

Carilah sahabat yang bisa membuatmu lebih baik.
Jangan cari sahabat yang sempurna, kau tak akan mendapatkanya. Cobalah kau rangkul dan menjadikannya lebih baik.
Hindari perdebatan, meskipun kau berada di pihak yang benar. Jika memang diperlukan, carilah kebenaran, bukan pembenaran.

Mungkin memang realita kehidupan bahwa urusan agama di jaman ini sudah terlalu tabu. Not judging, tapi memang begitu keadaannya. Baca alquran di tempat umum aja malu, ninggalin urusan dunia buat sholat jamaah aja bilangnya nanggung, mengingatkan untuk kebaikan takut dikira riya. Wajar saja kalau pemerintah mulai melarang baca alquran di masjid pakai toa, nyuruh yang puasa hormatin yang gak puasa. Yang membuat ribet urusan ini sebenarnya umat islamnya sendiri. Disitu ada dua hal yang saling bertolak belakang dan membuat bertanya-tanya. Sebenarnya kita mau melunturkan sendiri keislaman kita, tapi tidak mau jika orang lain melunturkannya. Padahal hasilnya sama.
Ini bukan pidato pro pemerintah. Berkaca. Mulai dari diri sendiri. Hidupkan kembali keislamanmu. Dan katakan ‘Isyhaduu bi annaa muslimun’

Umam: malaikat pencatat amal tidak akan pernah dzolim. Allah Maha Mengetahui apa yang ada pada hati manusia.
                So, Laa Tahzan

;) quote of the day

Umam is typing…


Wallahu A`lam

Kamis, 11 Juni 2015

Tujuh Belas



25 Februari 2013
Hari ini, sebulan kurang sebelum usiaku benar-benar tujuh belas tahun. Detik-detik sebelum aku dianggap dewasa. Aku tak memikirkan mengapa tujuhbelas yang menjadi patokan, mengapa tidak enambelas atau duapuluh. Aku memikirkan bahwa masa kanak-kanakku sebentar lagi akan berakhir. Aku, tentu saja tidak mempunyai ide untuk menghabiskan sisa masa ini untuk memuaskan diri menjalani hidup sebagai kanak-kanak.
Tak perlu panjang lebar. Cerita ini tentang sebuah pertanyaan yang muncul di kepala-ku. Pertanyaan yang memaksaku untuk menuliskannya disini: ‘Apa yang sudah kau lakukan untuk negeri ini?’. Jujur, itu pertanyaan yang membuat akhir usia 16-ku tak karuan.
            Mari kita tinjau kehidupanku di masa kanak-kanak.
            “Pasti gagah kalau kamu jadi polisi.” Kata ibu. Usiaku tigabelas. aku hanya diam. Tidak mengiyakan, juga tidak menolak. Aku tahu menjadi polisi memang keren. Hidup mujur dan sejahtera. Tapi, melihat kenyataan pada umumnya bahwa ‘gaji’ polisi tak hanya dari pemerintah membuatku mual jika mendengar profesi yang satu ini.
            “Kayak mas Dika yang sekarang sudah mapan.” Ibu melenjutkan. Aku tahu mas Dika memang sudah mapan sebagai polisi. Dan aku yakin seratus persen dia tak seperti polisi pada umumnya yang gajian di pinggir jalan.
            Entahlah, paradigmaku tentang polisi sudah terdoktrin begitu buruk. Imejnya di mataku sudah terlalu jelek. Aku tak punya gambaran bagaimana kehidupanku selanjutnya jika aku memilih menjadi polisi sejak saat itu. aku masih terlalu labil untuk mengerti hal-hal seperti itu.
            “Kalau kamu sekolah di SMK, kamu akan cepat dapat pekerjaan.” Pakde yang saat itu mengatakan itu padaku. Memang aku ingin sekali masuk SMK, sepertinya masa depanku terlihat lebih cerah. “Kamu nggak perlu jadi dokter.” Pakde sudah tahu bahwa aku sangat anti dengan profesi itu juga. aku masih diam, memainkan bolpoin, membiarkan garis-garis yang aku buat terdiam tak terselesaikan. “Nanti kerjamu cuma mbuat ramuan obat. Kayak mbak Desti.” Sekali lagi saudaraku menjadi sampel.
Aku belum bisa mengambil keputusan. Saat itu usiaku 14 tahun, kelas 3 SMP, saat bingung-bingungnya mencari sekolah tingkat selanjutnya yang cocok.
Entah mengapa saat itu paradigmaku tentang perguruan tinggi juga buruk. Kuliah hanya menghambur-hamburkan uang sementara pekerjaan bukan jaminan. Banyak sarjana-sarjana yang kesana kemari mencari pekerjaan. Dan itu sudah cukup untuk menambah koleksi film hororku.
SMK menjadi  pilihanku saat itu. sepertinya hidupku setelah itu cerah, mendapat pekerjaan dengan mudah tanpa mengeluarkan banyak uang. Tapi ayahku berpendapat lain.
“Kamu harus kuliah.” Itu perkataan beliau. “Kamu anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini. mau jadi apa kalau tidak kuliah, ha?” Nadanya biasa saja, tapi perkataan itu berhasil menusuk. Dan pernyataan yang lebih menusuk adalah bahwa aku tidak boleh masuk SMK. Mungkin beliau takut jika aku masuk SMK dan terlalu asik hingga mendapatkan pekerjaan, aku tidak mau melanjutkan ke perguruan tinggi.
Menjadi pharmacist tidak, masuk SMK tidak.
Waktu kecil, aku senang melihat orang menggambar. Tentu itu membuatku juga otomatis suka menggambar. Tapi cita-cita pertamaku adalah menjadi astronot. Untuk anak usia tujuh-delapan tahun itu menjadi cita-cita yang wajar. Usia sepuluh aku merubah cita-citaku. Saat itu aku tahu, menjadi seorang astronot tak begitu asik. Aku ingin menjadi guru, entah guru apa. Figurku saat itu adalah ayah. Tapi, saat melihat kertas-kertas menumpuk di rumah, dan buku-buku yang begitu banyak. Aku menelan ludah untuk tetap bersikukuh menjadi guru.
Waktu kecil juga, aku senang menulis. Menulis apa saja, puisi, cerita aneh, dan apa saja yang bisa pensilku torehkan di atas kertas dari buku yang sudah jelek. Ibu salah mengambil kesimpulan bahwa aku anak yang kutu buku. Jelas-jelas aku tidak membaca, tapi menulis. Mungkin lebih kece kalau dipanggil rayap buku (?). Tapi aku belum menemukan cita-cita yang cocok denganku.
Masalah semakin rumit saat aku memasuki usia-usia SMA. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan. Sebenarnya aku sudah menyesuaikan dengan minat dan bakatku. Ini dia list cita-citaku saat masuk SMA.
Sejarawan. Tak tahu pasti apa yang dilakukan seorang sejarawan. Aku hanya menyukai sejarah. Menyenangkan menguhubungkan cerita-cerita dari berbagai sumber. Sejarah paling favoritku adalah sejarah kejayaan islam di eropa. Aku masih bertanya-tanya bagaimana bisa peradaban di suatu wilayah yang jaya, kini tak dianggap bahkan dibenci di tempat itu. selain itu, sejarah merupakan guru terbaik. Kita bisa mendapatkan kesuksesan di masa depan jika kita mau meninjau ke belakang dan menemukan letak kesalahan atau mengulangi cara yang bisa membuat sukses. Tul, gak? Itu alasanku mencintai sejarah.
Nominasi kedua, Seniman. Walaupun juga aku tak tahu persis apa yang dilakukan seorang seniman. Aku mencintai seni, baik seni rupa atau seni musik. Tentu saja akan lebih menyenangkan jika kita mempunyai pekerjaan yang kita sukai ketika melakukannya. Aku pernah membaca kata seorang yang terkenal, tapi aku tidak kenal. Beliau menyatakan ‘Jika kau mencintai pekerjaanmu, maka setiap hari adalah hari libur’. siapa yang menolak untuk itu?
Nominasi ketiga adalah arsitek. Sepertinya dari ketiga jenis pekerjaan, yang ini lebih jelas apa yang dilakukan. Aku memilih sebagai arsitek karena tentu saja keren. Tapi bukan itu tujuan utamaku, aku ingin menjadi arsitek karena terlalu banyak bangunan yang tidak layak huni yang pernah aku tempati. Dan aku akan bekerja keras untuk membuat orang yang menempati bangunan itu nyaman dan jauh dari rasa tidak betah. Aku juga ingin membuatkan orang tuaku rumah, ingin sekali.
26 Februari 2013
Berganti ke topik lain. Jika kita melihat negeri ini, sekilas, ataupun lama-lama. Negeri ini sudah terlalu mengerikan untuk dikatakan negeri. Sebenarnya aku tak sekejam itu untuk mengatakan hal sejujurnya. Tapi, memang itu kenyataannya.
Jika kita ditanya apa simbol negara ini, banyak menjawab: bali, monas, bineka tunggal ika. Kukatakan, itu semua memang benar, tapi kurang tepat. Simbol dari negara ini adalah: miskin dan bodoh. Aku juga tak akan tega mengatakan itu jika aku tidak mencintai negeri ini. itu kata dari dalam hatiku karena tentu saja aku sangat mencintai negeri ini.
Aku bahagia saat mengetahui bahwa Indonesia pernah mencapai masa keemasannya, saat-saat semua rakyat hidup makmur dan sejahtera. Tapi, kejayaan itu palsu. Ya! Palsu. Semua tertutupi dengan sistematis dan cerdik. Saat semua rakyat begitu bahagia, ternyata hutang tiap-tiap jiwa tak sebanding dengan semua yang didapat. Dan, siapa yang menanggung semua itu? tentu saja anak-cucu penerus bangsa. Sekali lagi, aku tak akan sepedas itu jika aku tak mencintai negeri ini.
Oh, iya. Simbol lain dari negeri ini adalah sampah. Negara mana yang terkenal dengan tempat sampah terpanjang? Mana lagi kalau bukan Indonesia? Sampah-sampah menghiasi tiap lekuk sungai di berbagai daerah. Aku tak tahu jika memang ini peranku sebagai pemuda (yang saat ini belum resmi, artinya masih dianggap kanak-kanak sampai beberapa hari ke depan) harus bagaimana menanganinya. Paradigma-paradigma rakyat negeri ini sudah begitu kolot. Mereka sudah tahu kalau membuang sampah di sungai atau tempat tidak semestinya akan menyebabkan banjir. Dan walaupun seribu kali banjir bandangpun tidak akan merubah itu. sudah menjadi tradisi dan mendarah daging.
Pernah aku memikirkan bahwa satu-satunya jalan untuk memperbaiki negeri ini adalah dengan memusnahkan seluruh rakyatnya dan menanamkan budi pekerti untuk rakyat yang baru. Itu karena terlalu frustasinya aku. Aku juga tak yakin jika negeri ini masih berpotensi untuk memperbaiki diri.
Aku sangat-sangat iri pada negeri-negeri di luar sana yang jalanannya bersih. Tak ada kulit pisang berserakan, apalagi bungkus permen. Aku juga ingin memiliki negeri seperti itu. Tapi, bagaimana bisa? Aku di Indonesia ini tak sendirian. Lebih banyak orang yang menginginkan hidup seenak udel sendiri.
Aku juga percaya bahwa peran pemuda sangat penting. Tapi, dimana pemuda-pemuda itu? entahlah, tak mungkin juga aku melakukan perubahan ini sendirian.
Ya! Indonesia perlu sebuah perubahan. Sesuatu yang memaksa rakyat Indonesia berubah, mencabut semua kebiasaan lama dari akar-akarnya. Lalu negeri ini akan terhindar dari satu masalah yang dari dulu tak terpecahkan. Jika aku menjadi presiden negeri ini, aku akan membuat kebijakan bahwa orang yang membuang sampah akan dikenakan denda sepuluh kali lipat dari harga benda itu. (hati-hati saja yang suka jajan silverquin).
27 Februari 2013
“Kalo ada yang nawarin, aku juga pengen, tauk!” Anjas merespon pernyataanku terlalu bersemangat. Aku hanya mengatakan bahwa aku ingin pergi ke luar negeri.
“Hey! Biasa aja. Aku ke luar negeri tu mau mempelajari gimana negeri itu bisa indah makmur sejahtera. Terus, aku akan menerapkan itu di negeri ini.” Kataku pada Anjas. Istirahat sekolah, kami berdua mengobrol ringan di pojok kelas.
“Haih, ngarep! Emangnya apa yang bisa kamu harapin sama negara ini? gak ada.” kata-kata putus asa seperti yang Anjas katakan itu terlalu sering aku dengar. Aku hanya bisa menelan ludah saat pemilik negeri ini saja sudah muak dengan negerinya sendiri.
“Aku juga udah tahu. Tapi, kamu mau terus menerus hidup di negeri yang kayak gini? itu juga sebabnya kamu mau ke luar negeri? Iya, kan??” aku balik menyerangnya. Dia hanya nyengir kuda. Percakapan tidak berlanjut sampai bel masuk pasca istirahat berbunyi.
“Taukah anak-anak sekalian dimana daerah luar jawa yang pernah menjadi ibu kota negara?” Pak Syukri bertanya di tengah jam pelajaran. Sejarah. Apa lagi? pelajaran favoritku. Semua siswa yang tengah sibuk menulis gambar, eh, tulisan (tak jelas mana gambar mana tulisan) menoleh ke arah guru itu. tentu saja mereka kaget. Memang pernah ada? Untuk anak jaman sekarang sedikit mustahil mengetahui hal-hal yang terjadi puluhan tahun silam. Anak jaman sekarang terlalu masa bodoh.
“Batavia!” seorang anak menyeletuk sekenanya.
“Ya?” Pak Syukri memastikan. Menoleh ke arah suara, tapi tak menemukan mulut siapa yang mengeluarkan bunyi itu. Sang pemilik suara tadi enggan memperjelas suaranya. Mungkin dia mulai ragu. Sementara aku menahan tawa.
“Pak, Ibukota negara pernah bergantian di lima tempat, kan?” aku mencoba menambah petunjuk.
“Ya?” Guru itu menoleh ke arah suara. Aku mengulangi pertanyaanku. Lalu beliau menjawab “Eh, bukan. Itu istana negara, Majid.” Pak Syukri berhenti sejenak. Namun air mukanya kecewa. “Tapi sebenarnya istana negara ada enam.  Memang banyak orang tidak menyadari bahwa tempat ini pernah menjadi ibu kota. Yaitu di Bidar Alam, Sumatera Barat, dekat Bukit Tinggi.” Ia berhenti sejenak, membiarkan murid-murid menyerap apa yang dia katakan terlebih dahulu. “Saat Belanda menyerang Yogyakarta, Sukarno dan Hatta memilih ditangkap daripada bergerilya bersama Jendral Sudirman.
“Motif Belanda licik sekali. Saat itu tahun 48. Belanda tidak mau mengakui adanya NKRI. Sehingga melancarkan serangan itu. namun Hatta tak semudah itu dibodohi. Dia mengirim telegram kepada Syafrudin di Bukit Tinggi untuk membangun pemerintahan darurat di sana. Namun, telegram itu tak sampai ke Syafrudin. Karena Belanda juga menye-rang Bukit Tinggi. Akhirnya Syafrudin dan teman-temannya, termasuk Jendral Sudirman bergerilya untuk menghindari serangan Belanda.
            “Karena terdesak, mereka atau yang lebih dikenal dengan PDRI mendiami Bidar Alam cukup lama, Syafrudin membangun pemerintahannya di situ. Disana ada istana negara, ada bank sentran indonesia, ada juga radio nasional yang sangat berperan dalam pemberitahuan bahwa NKRI, masih ada sampai sekarang. Radio itu menginformasikan bahkan sampai New Delhi dan New York. Bangunan-bangunan disana masih kokoh berdiri.
            “Karena Sukarno sudah dilepas, maka Syafrudin diminta untuk bergabung bersama kabinet-kabinet republik di Yogyakata. Dan Berakhirlah masa jabatan Bidar Alam sebagai ibu kota republik dalam kurun waktu tiga bulan.”
            Dan, sayang sekali bel sudah berdering sebelum aku sempat mengacungkan tangan untuk bertanya. Terpaksa harus kusimpan sampai minggu depan. Berbagai hal berkelebat dalam benakku usai pelajaran sejarah kali ini.
            Aku membayangkan bahwa aku ada disana, saat Sukarno dan Hatta diculik, saat PDRI bergerilya, aku membayangkannya. Betapa sulit pahlawan-pahlawan nasional memperjuangkan negeri ini, dan apa yang anak cucu mereka perbuat untuk membalas jasa mereka? Aku tak berani melihat jika salah satu diantara pahlawan negara itu mengetahui dan memergoki apa yang Anjas katakan tadi. Nyawa Anjas di ujung tombak.
            Pak Syukri meninggalkan kelas setelah sebelumnya mengucapkan salam.
            28 Februari 2013
            “Nggak usah repot-repot jadi presiden kalo kamu cuma pengen merubah negara ini.” Anggit sok dewasa menasehatiku. Respon atas keputusanku yang aku deklarasikan beberapa menit yang lalu. Kami bertiga duduk di bangku taman, melihat ke kolam datar yang sesekali bergerak permukaannya karena gerakan ikan.
            “Tapi, tetep aja presiden yang paling ngaruh.” Aku tetap bersikukuh.
            “Iya juga sih,” anggit mematahkan argumennya sendiri, kini aku tersenyum bangga. Anggit adalah sepupu Anjas. Meskipun mereka dekat satu sama lain, dan medhok solonya juga sama, mereka berbeda terhadap satu hal. Anggit suka pete, Anjas suka jengkol. Aku tak mau ikut campur mengenai itu.
            “Emang kamu mau ngapain aja kalo jadi presiden?” Anjas kini angkat bicara, terbawa suasana percakapan. Biasanya dia hanya mengatakan hal-hal tidak penting dalam hidupnya, dia sama sekali tidak tertarik terhadap sesuatu yang serius. Dan pertanyaannya di siang bolong ini membuatku melongo kurang lebih tiga detik.
            “Pertama, aku mau mbuat kebijakan: orang yang membuang sampah sembarangan akan dikenakan denda sepuluh kali lipat dari harga benda itu.” aku sudah memikirkannya sejak lama. Aku berfikir, ini sangat-sangat akan membuat jera masyarakat yang membuang sampah sembarangan. “Aku juga akan mempertinggi gaji tukang sampah.” Mungkin itu juga bisa membuat sampah-sampah tidak berkeliaran.
            “Tapi, ntar kalo orang-orang jadi tukang sampah semua gimana?” Anjas bicara. Nah, pertanyaan-pertanyaan dari mulutnya sebetulnya semacam ini.
            “Ya gajinya jangan tinggi-tinggi sampe ngalahin gaji PNS lah. Paling enggak si tukang sampah itu bisa hidup layak.” Aku menjawab.
            “Wah, kalo suruh mbayar sepuluh kali lipat, kasian yang beli silverquin, dong.” Kata Anggit. Dan itu sama dengan apa yang aku bayangkan sejak awal. “Tapi biasanya yang beli silverquin kan kaya-kaya dan terpelajar, mereka nggak mungkin buang sampah sembarangan.” Anggit menjawab sendiri pertanyaannya. “Dan kalopun miskin, bungkusnya pasti disimpen, terus pamer ke temen-temennya kalo dia bisa beli ssilverquin. Haha”
            Kami tertawa beberapa detik.
            “Terus yang kedua apa?” Anggit bertanya saat tawa mulai menghilang di atmosfer.
            “Apanya?” aku bingung.
            “Kebijakanmu kalo jadi presiden.” Dia tak sabaran.
            “Oh,” aku mengangguk-anggukkan kepala. Mencari-cari kata di kepalaku. “aku lupa.” Jawabku santai. Membuat kecewa. “Tapi aki masih ingat yang ketiga.” Wajah-wajah kembali cerah. “Aku mau mindahin ibukota negara.” Selesai bicara, senyumku mengembang. Oang-orang melongo beberapa saat.
            “Tapi ntar ekonomi di jakarta awut-awutan.” Seseorang keberatan.
            “Lama-lama juga pasti bisa nyesuaiin. Nggak ada yang instan di dunia ini.” aku kembali tersenyum, merasa puas dengan jawabanku.
            “Ada kok, mie instan sama kopi instan.” Kata orang yang lain. Dan itu sedikit membuat mentalku jatuh. Mental Breaker.
            “Ya, Em, ma, masa.. masalahnya, kerugian sama keuntungannya lebih banyak keuntungannya. Jakarta nggak banjir lagi, nggak ada pemukiman kumuh, nggak ada juga gelandangan di kolong jembatan.” Aku bicara perlahan, membela diri. Mengumpulkan puing-puing harga diri yang berserakan. “Dan tak ada lagi kebodohan dan kemiskinan. Cemoohan terhadap negeri ini akan enyah! Indonesia akan memulai hidup yang baru!! Menjadi negara yang bisa dibanggakan!!!” tanpa disadari, aku sudah berdiri di bangku taman mengepalkan tangan.
            Orang-orang bertepuk tangan. Tak kusangka juga obrolan kami menarik perhatian banyak orang yang lewat. Suara tangan yang ditepuk membumbung ke atmosfer. Hingga aku salah tingkah. Tersenyum sangat aneh dan menunggu orang-orang itu pergi. Aku nyengir kepada Anjas dan Anggit yang menutupi muka masing-masing dengan telapak tangan.
            Aku tak memikirkan separah apa lagi selanjutnya.
3 Maret 2013
Aku adalah Majid. Pelajar yang sangat mengharapkan perubahan pada negeri ini. walaupun aku tak yakin aku bisa melakukannya. Setidakanya aku mencoba. Setragis apapun endingnya, aku tak akan kecewa. Karena memang terlalu sulit problema yang dihadapi. Berusaha. Banyak usaha yang dilakukan orang-orang di muka bumi ini adalah sia-sia. Dan tak perlu disesali, karena itu adalah suatu proses. Aku memikirkan banyak hal hari ini.
“Pagi yang sejuk.” Ayah berkata tanpa menoleh. Kami sekarang sedang santai bersepeda. Melewati jalan-jalan yang masih sejuk ranpa polusi. Kegiatan yang rutin aku lakukan bersama ayah di hari minggu. Setelah matahari mulai terasa membakar kulit, biasanya kami berhenti di taman kota. Di bawah pohon beringin yang rimbun, aku bercakap-cakap dengan ayah. Tentang banyak hal.
“Hm.” Aku hanya mengangguk. Tentu dengan senyum karena merasakan setiap oksigen yang masuk ke dalam lubang hidungku.
Setelah cukup lama berkeliling, kami duduk-duduk di taman. Bangku diatas permadani rumput ekstra besar. Sepi. Hanya ada tukang sapu. Aku tersenyum, mengingat ideku menaikkan gaji tukang sampah dalam pidato kampanye kemarin. Memang keterlaluan teman-temanku yang berkumpul disitu atau aku yang berlebihan, tak tahu. Tapi setelah kejadian itu, aku sering disindir di kelas. Terlalu sering malah. sudah tiga hari. dan sindiran itu tak kunjung ada pertanda untuk enyah. -3-
“Pak Presiden, kamu udah mikir ambil jurusan apa buat kuliah?” dan apa lagi ini? ayah juga ikut-ikutan memanggilku pak presiden.
Bermula dari Anjas dan Anggit, kedua sepupu itu sering meledekku dengan menirukan kata-kataku waktu insiden itu jika mereka main ke rumahku. Ibu penasaran, mereka dengan senang hati menceritakan semua-muanya. Tanpa diminta, ibu bercerita ke semua anggota keluarga. Dan aku hanya bisa diam di pojokan.
“Em, belum yakin, Yah.” Aku menjawab ringan. Sudah terbiasa dengan panggilan itu. “Tapi,” aku menggantungkan kelimatku. Kini ayah menatapku. Tapi apa?. “Tapi, kayaknya aku minat ke arsitektur.”
“Oh, arsitektur.” Ayah manggut-manggut. “Keren, ntar kamu jadi insinyur.”
Oh, menurutku, gelar adalah efek samping dari apa yang kita pelajari. Bukan sesuatu yang kita tuju. Dan bagi orang yang bergelar tapi tanpa ilmu? Tentu saja dia tetap tidak berguna. Tetap lebih baik orang yang berlimu tanpa gelar. Dan aku tak berminat pada gelar-gelar itu. Bukan munafik. Walaupun memang dunia ini lebih percaya dengan gelar-gelar apalah.
“Lapar?” ayah bertanya kemudian. Matahari sudah mulai meninggi. Tapi kendaraan yang berlalu lalang tak seramai hari senin pada jam yang sama. Minggu pagi yang sejuk sudah berakhir.
Aku mengangguk. Beranjak mengikuti langkah ayah yang sudah siap dengan sepedanya. Sarapan buatan ibu pasti sudah menunggu.
4 Maret 2013
Senin pagi, aku berangkat sekolah. Tak terlalu jauh, tapi aku ingin mencoba berjalan kaki menuju sekolah. Sepertinya menyenangkan menikmati perjalanan. Dan konsekuensinya aku harus berangkat lebih pagi. Mandi, sarapan, menyetrika seragam, mengerjakan peer, semua dilakukan dengan singkat.
Sesampai di perempatan, ada sesuatu fenomena yang membuatku sadar. Kulihat perempatan tak seperti biasa. Terdengar suara peluit dari sana. Jarakku sekarang sekitar tiga puluh meter dari sana. Belum jelas apa yang terjadi. Saat aku mulai dekat, aku sadar lampu rambu lalu lintas mati, dan seseorang berompi hijau mencolok disana sudah mengatasi masalah ini.
Aku jadi sadar, ternyata polisi tak semuanya seperti apa yang aku bayangkan. Dan aku malu sendiri kepada beliau yang di tengah perempatan. Sepagi ini, beliau sudah bertugas. Dan memang kendaraan yang berlalu-lalang sudah sangat ramai. Aku tersenyum kali ini. satu presepsi baru.
Senin pagi. Upacara bendera. Setelah pengibaran bendera, dilanjutkan dengan amanat dari pembina upacara. Kepala sekolah sudah berdiri di tengah lapangan, dengan panggung kecil tanpa podium.  Meski aku akui, untuk mendiamkan seribu kurang sedikit (998) siswa memang cukup sulit. Jadi, karena aku berada di barisan belakang. Hanya sedikit pesan yang tersampaikan.
Tapi yang sedikit itu, aku akan mengingatnya semampu ingatanku. Kurang lebih seperti ini:
“Siswa-siswi dari jurusan agama, ips, bahasa, dan ipa, dan apapun jurusan lainnya  mungkin tidak ada di sekolah ini harus konsisten dengan apa yang telah dipilih. Menjadi apapun kalian kelak, pastikan kalian berguna. Baik bagi orang yang terdekat, keluarga, masyarakat, bahkan bagi negara.”
Itu satu paragraf yang aku akan ingat. Akan kucamkan dalam hati. Dan sepertinya aku mempunyai misi baru. Yaitu menyampaikan kepada teman-teman yang tidak mendengar amanat ini. Tapi ada satu paragraf lagi dari pak pembina upacara yang bisa aku dengar.
“Profesi apapun yang kalian geluti kelak, kalian juga harus konsisten. Tetap menjaga kejujuran. Jujur adalah kata yang hampir hilang di bumi.  Berjanjilah kalian yang akan mempertahankannya.”
Setelah mendengar itu aku seperti menemukan jawaban atas pertanyaanku.


9 Maret 2013
Di jam istirahat.
“Aku tahu, jadi presiden emang gak gampang.” Seperti biasa aku di pojok kelas bersama Anjas dan Anggit.
“Terus?” Anjas tak sabar.
“Sebenarnya kita bisa jadi apa aja buat memperbaiki negeri ini, nggak harus presiden.” aku meneruskan.
“Kok bisa?” Anggit sekarang yang bertanya.
“Kalian tuh banyak tanya.” Respon atas pertanyaan yang sebenarnya mereka sudah tahu bahwa aku akan menjawabnya. “dengan begini: apa aja pekerjaan kita ntar, kita pastiin kita udah ngelakuin hal yang baik.” Sulit sekali menjelaskannya, aku memilih kata dengan hati-hati.
“Cuma itu?” Anjas bertanya lagi. sebelum sempat aku mengambil nafas
“Ya, sifat cuma dua. Baik dan buruk. Kata baik udah mewakili. dan juga berani menjadi pelopor perubahan. Gak perlu nyuruh-nyuruh orang buat ngelakuin itu kok, cuma biarin aja orang meniru” Aku tak mau marah-marah hanya karena Anjas banyak tanya. Baca: kepo. “Dan, kalian tahu? Indonesia jadi kayak apa setelah itu?”
“Berubah dengan sendirinya?” Mereka berdua hampir serentak.
“Exactly! Bisa dimulai dengan kita.”
Dan sekarang kurasakan atmosfer mendadak memanas. Mata dua kerabatku itu berapi-api. Tantangan besar menunggu di depan mata. Banyak yang harus kita lakukan. Seperti kata-kata orang, masa depan negeri ini ada di genggaman kita.
Dan besok usiaku genap tujuhbelas.

☻☻☻
NB: cerita ini hanya fiksi belaka