25
Februari 2013
Hari ini,
sebulan kurang sebelum usiaku benar-benar tujuh belas tahun. Detik-detik
sebelum aku dianggap dewasa. Aku tak
memikirkan mengapa tujuhbelas yang menjadi patokan, mengapa tidak enambelas
atau duapuluh. Aku memikirkan bahwa masa kanak-kanakku sebentar lagi akan
berakhir. Aku, tentu saja tidak mempunyai ide untuk menghabiskan sisa masa ini
untuk memuaskan diri menjalani hidup sebagai kanak-kanak.
Tak perlu
panjang lebar. Cerita ini tentang sebuah pertanyaan yang muncul di kepala-ku.
Pertanyaan yang memaksaku untuk menuliskannya disini: ‘Apa yang sudah kau
lakukan untuk negeri ini?’. Jujur, itu pertanyaan yang membuat akhir usia 16-ku
tak karuan.
Mari
kita tinjau kehidupanku di masa kanak-kanak.
“Pasti
gagah kalau kamu jadi polisi.” Kata ibu. Usiaku tigabelas. aku hanya
diam. Tidak mengiyakan, juga tidak menolak. Aku tahu menjadi polisi memang keren.
Hidup mujur dan sejahtera. Tapi, melihat kenyataan pada umumnya bahwa ‘gaji’
polisi tak hanya dari pemerintah membuatku mual jika mendengar profesi yang
satu ini.
“Kayak
mas Dika yang sekarang sudah mapan.” Ibu melenjutkan. Aku tahu mas Dika memang sudah
mapan sebagai polisi. Dan aku yakin seratus persen dia tak seperti polisi pada
umumnya yang gajian di pinggir jalan.
Entahlah,
paradigmaku tentang polisi sudah terdoktrin begitu buruk. Imejnya di mataku
sudah terlalu jelek. Aku tak punya gambaran bagaimana kehidupanku selanjutnya
jika aku memilih menjadi polisi sejak saat itu. aku masih terlalu labil untuk
mengerti hal-hal seperti itu.
☻
“Kalau
kamu sekolah di SMK, kamu akan cepat dapat pekerjaan.” Pakde yang saat itu
mengatakan itu padaku. Memang aku ingin sekali masuk SMK, sepertinya masa
depanku terlihat lebih cerah. “Kamu nggak perlu jadi dokter.” Pakde sudah tahu
bahwa aku sangat anti dengan profesi itu juga. aku masih diam, memainkan
bolpoin, membiarkan garis-garis yang aku buat terdiam tak terselesaikan. “Nanti
kerjamu cuma mbuat ramuan obat. Kayak mbak Desti.” Sekali lagi saudaraku
menjadi sampel.
Aku belum
bisa mengambil keputusan. Saat itu usiaku 14 tahun, kelas 3 SMP, saat
bingung-bingungnya mencari sekolah tingkat selanjutnya yang cocok.
Entah
mengapa saat itu paradigmaku tentang perguruan tinggi juga buruk. Kuliah hanya
menghambur-hamburkan uang sementara pekerjaan bukan jaminan. Banyak
sarjana-sarjana yang kesana kemari mencari pekerjaan. Dan itu sudah cukup untuk
menambah koleksi film hororku.
SMK
menjadi pilihanku saat itu. sepertinya
hidupku setelah itu cerah, mendapat pekerjaan dengan mudah tanpa mengeluarkan
banyak uang. Tapi ayahku berpendapat lain.
“Kamu
harus kuliah.” Itu perkataan beliau. “Kamu anak laki-laki satu-satunya di keluarga
ini. mau jadi apa kalau tidak kuliah, ha?” Nadanya biasa saja, tapi perkataan
itu berhasil menusuk. Dan pernyataan yang lebih menusuk adalah bahwa aku tidak
boleh masuk SMK. Mungkin beliau takut jika aku masuk SMK dan terlalu asik
hingga mendapatkan pekerjaan, aku tidak mau melanjutkan ke perguruan tinggi.
Menjadi pharmacist tidak, masuk SMK tidak.
☻
Waktu
kecil, aku senang melihat orang menggambar. Tentu itu membuatku juga otomatis
suka menggambar. Tapi cita-cita pertamaku adalah menjadi astronot. Untuk anak
usia tujuh-delapan tahun itu menjadi cita-cita yang wajar. Usia sepuluh aku
merubah cita-citaku. Saat itu aku tahu, menjadi seorang astronot tak begitu
asik. Aku ingin menjadi guru, entah guru apa. Figurku saat itu adalah ayah.
Tapi, saat melihat kertas-kertas menumpuk di rumah, dan buku-buku yang begitu
banyak. Aku menelan ludah untuk tetap bersikukuh menjadi guru.
Waktu
kecil juga, aku senang menulis. Menulis apa saja, puisi, cerita aneh, dan apa
saja yang bisa pensilku torehkan di atas kertas dari buku yang sudah jelek. Ibu
salah mengambil kesimpulan bahwa aku anak yang kutu buku. Jelas-jelas aku tidak
membaca, tapi menulis. Mungkin lebih kece kalau dipanggil rayap buku (?). Tapi
aku belum menemukan cita-cita yang cocok denganku.
☻
Masalah
semakin rumit saat aku memasuki usia-usia SMA. Terlalu banyak hal yang harus
dipertimbangkan. Sebenarnya aku sudah menyesuaikan dengan minat dan bakatku.
Ini dia list cita-citaku saat masuk
SMA.
Sejarawan.
Tak tahu pasti apa yang dilakukan seorang sejarawan. Aku hanya menyukai
sejarah. Menyenangkan menguhubungkan cerita-cerita dari berbagai sumber.
Sejarah paling favoritku adalah sejarah kejayaan islam di eropa. Aku masih
bertanya-tanya bagaimana bisa peradaban di suatu wilayah yang jaya, kini tak
dianggap bahkan dibenci di tempat itu. selain itu, sejarah merupakan guru
terbaik. Kita bisa mendapatkan kesuksesan di masa depan jika kita mau meninjau
ke belakang dan menemukan letak kesalahan atau mengulangi cara yang bisa
membuat sukses. Tul, gak? Itu alasanku mencintai sejarah.
Nominasi
kedua, Seniman. Walaupun juga aku tak tahu persis apa yang dilakukan seorang
seniman. Aku mencintai seni, baik seni rupa atau seni musik. Tentu saja akan
lebih menyenangkan jika kita mempunyai pekerjaan yang kita sukai ketika
melakukannya. Aku pernah membaca kata seorang yang terkenal, tapi aku tidak
kenal. Beliau menyatakan ‘Jika kau mencintai pekerjaanmu, maka setiap hari
adalah hari libur’. siapa yang menolak untuk itu?
Nominasi
ketiga adalah arsitek. Sepertinya dari ketiga jenis pekerjaan, yang ini lebih
jelas apa yang dilakukan. Aku memilih sebagai arsitek karena tentu saja keren.
Tapi bukan itu tujuan utamaku, aku ingin menjadi arsitek karena terlalu banyak
bangunan yang tidak layak huni yang pernah aku tempati. Dan aku akan bekerja
keras untuk membuat orang yang menempati bangunan itu nyaman dan jauh dari rasa
tidak betah. Aku juga ingin membuatkan orang tuaku rumah, ingin sekali.
☻
26
Februari 2013
Berganti
ke topik lain. Jika kita melihat negeri ini, sekilas, ataupun lama-lama. Negeri
ini sudah terlalu mengerikan untuk dikatakan negeri. Sebenarnya aku tak sekejam
itu untuk mengatakan hal sejujurnya. Tapi, memang itu kenyataannya.
Jika kita
ditanya apa simbol negara ini, banyak menjawab: bali, monas, bineka tunggal
ika. Kukatakan, itu semua memang benar, tapi kurang tepat. Simbol dari negara
ini adalah: miskin dan bodoh. Aku juga tak akan tega mengatakan itu jika aku
tidak mencintai negeri ini. itu kata dari dalam hatiku karena tentu saja aku
sangat mencintai negeri ini.
Aku
bahagia saat mengetahui bahwa Indonesia pernah mencapai masa keemasannya,
saat-saat semua rakyat hidup makmur dan sejahtera. Tapi, kejayaan itu palsu.
Ya! Palsu. Semua tertutupi dengan sistematis dan cerdik. Saat semua rakyat
begitu bahagia, ternyata hutang tiap-tiap jiwa tak sebanding dengan semua yang
didapat. Dan, siapa yang menanggung semua itu? tentu saja anak-cucu penerus
bangsa. Sekali lagi, aku tak akan sepedas itu jika aku tak mencintai negeri
ini.
Oh, iya.
Simbol lain dari negeri ini adalah sampah. Negara mana yang terkenal dengan
tempat sampah terpanjang? Mana lagi kalau bukan Indonesia? Sampah-sampah
menghiasi tiap lekuk sungai di berbagai daerah. Aku tak tahu jika memang ini
peranku sebagai pemuda (yang saat ini belum resmi, artinya masih dianggap
kanak-kanak sampai beberapa hari ke depan) harus bagaimana menanganinya.
Paradigma-paradigma rakyat negeri ini sudah begitu kolot. Mereka sudah tahu
kalau membuang sampah di sungai atau tempat tidak semestinya akan menyebabkan
banjir. Dan walaupun seribu kali banjir bandangpun tidak akan merubah itu.
sudah menjadi tradisi dan mendarah daging.
Pernah aku
memikirkan bahwa satu-satunya jalan untuk memperbaiki negeri ini adalah dengan
memusnahkan seluruh rakyatnya dan menanamkan budi pekerti untuk rakyat yang
baru. Itu karena terlalu frustasinya aku. Aku juga tak yakin jika negeri ini
masih berpotensi untuk memperbaiki diri.
Aku
sangat-sangat iri pada negeri-negeri di luar sana yang jalanannya bersih. Tak
ada kulit pisang berserakan, apalagi bungkus permen. Aku juga ingin memiliki
negeri seperti itu. Tapi, bagaimana bisa? Aku di Indonesia ini tak sendirian.
Lebih banyak orang yang menginginkan hidup seenak udel sendiri.
Aku juga
percaya bahwa peran pemuda sangat penting. Tapi, dimana pemuda-pemuda itu?
entahlah, tak mungkin juga aku melakukan perubahan ini sendirian.
Ya!
Indonesia perlu sebuah perubahan. Sesuatu yang memaksa rakyat Indonesia
berubah, mencabut semua kebiasaan lama dari akar-akarnya. Lalu negeri ini akan
terhindar dari satu masalah yang dari dulu tak terpecahkan. Jika aku menjadi
presiden negeri ini, aku akan membuat kebijakan bahwa orang yang membuang
sampah akan dikenakan denda sepuluh kali lipat dari harga benda itu. (hati-hati
saja yang suka jajan silverquin).
☻
27
Februari 2013
“Kalo ada
yang nawarin, aku juga pengen, tauk!” Anjas merespon pernyataanku terlalu
bersemangat. Aku hanya mengatakan bahwa aku ingin pergi ke luar negeri.
“Hey!
Biasa aja. Aku ke luar negeri tu mau mempelajari gimana negeri itu bisa indah
makmur sejahtera. Terus, aku akan menerapkan itu di negeri ini.” Kataku pada
Anjas. Istirahat sekolah, kami berdua mengobrol ringan di pojok kelas.
“Haih,
ngarep! Emangnya apa yang bisa kamu harapin sama negara ini? gak ada.” kata-kata
putus asa seperti yang Anjas katakan itu terlalu sering aku dengar. Aku hanya
bisa menelan ludah saat pemilik negeri ini saja sudah muak dengan negerinya
sendiri.
“Aku juga
udah tahu. Tapi, kamu mau terus menerus hidup di negeri yang kayak gini? itu
juga sebabnya kamu mau ke luar negeri? Iya, kan??” aku balik menyerangnya. Dia
hanya nyengir kuda. Percakapan tidak berlanjut sampai bel masuk pasca istirahat
berbunyi.
☻
“Taukah
anak-anak sekalian dimana daerah luar jawa yang pernah menjadi ibu kota negara?”
Pak Syukri bertanya di tengah jam pelajaran. Sejarah. Apa lagi? pelajaran
favoritku. Semua siswa yang tengah sibuk menulis gambar, eh, tulisan (tak jelas
mana gambar mana tulisan) menoleh ke arah guru itu. tentu saja mereka kaget.
Memang pernah ada? Untuk anak jaman sekarang sedikit mustahil mengetahui
hal-hal yang terjadi puluhan tahun silam. Anak jaman sekarang terlalu masa
bodoh.
“Batavia!”
seorang anak menyeletuk sekenanya.
“Ya?” Pak
Syukri memastikan. Menoleh ke arah suara, tapi tak menemukan mulut siapa yang
mengeluarkan bunyi itu. Sang pemilik suara tadi enggan memperjelas suaranya.
Mungkin dia mulai ragu. Sementara aku menahan tawa.
“Pak,
Ibukota negara pernah bergantian di lima tempat, kan?” aku mencoba menambah
petunjuk.
“Ya?” Guru
itu menoleh ke arah suara. Aku mengulangi pertanyaanku. Lalu beliau menjawab
“Eh, bukan. Itu istana negara, Majid.” Pak Syukri berhenti sejenak. Namun air
mukanya kecewa. “Tapi sebenarnya istana negara ada enam. Memang banyak orang tidak menyadari bahwa
tempat ini pernah menjadi ibu kota. Yaitu di Bidar Alam, Sumatera Barat, dekat
Bukit Tinggi.” Ia berhenti sejenak, membiarkan murid-murid menyerap apa yang
dia katakan terlebih dahulu. “Saat Belanda menyerang Yogyakarta, Sukarno dan
Hatta memilih ditangkap daripada bergerilya bersama Jendral Sudirman.
“Motif
Belanda licik sekali. Saat itu tahun 48. Belanda tidak mau mengakui adanya
NKRI. Sehingga melancarkan serangan itu. namun Hatta tak semudah itu dibodohi.
Dia mengirim telegram kepada Syafrudin di Bukit Tinggi untuk membangun
pemerintahan darurat di sana. Namun, telegram itu tak sampai ke Syafrudin.
Karena Belanda juga menye-rang Bukit Tinggi. Akhirnya Syafrudin dan
teman-temannya, termasuk Jendral Sudirman bergerilya untuk menghindari serangan
Belanda.
“Karena
terdesak, mereka atau yang lebih dikenal dengan PDRI mendiami Bidar Alam cukup
lama, Syafrudin membangun pemerintahannya di situ. Disana ada istana negara,
ada bank sentran indonesia, ada juga radio nasional yang sangat berperan dalam
pemberitahuan bahwa NKRI, masih ada sampai sekarang. Radio itu menginformasikan
bahkan sampai New Delhi dan New York. Bangunan-bangunan disana masih kokoh
berdiri.
“Karena
Sukarno sudah dilepas, maka Syafrudin diminta untuk bergabung bersama
kabinet-kabinet republik di Yogyakata. Dan Berakhirlah masa jabatan Bidar Alam
sebagai ibu kota republik dalam kurun waktu tiga bulan.”
Dan,
sayang sekali bel sudah berdering sebelum aku sempat mengacungkan tangan untuk
bertanya. Terpaksa harus kusimpan sampai minggu depan. Berbagai hal berkelebat
dalam benakku usai pelajaran sejarah kali ini.
Aku
membayangkan bahwa aku ada disana, saat Sukarno dan Hatta diculik, saat PDRI
bergerilya, aku membayangkannya. Betapa sulit pahlawan-pahlawan nasional
memperjuangkan negeri ini, dan apa yang anak cucu mereka perbuat untuk membalas
jasa mereka? Aku tak berani melihat jika salah satu diantara pahlawan negara
itu mengetahui dan memergoki apa yang Anjas katakan tadi. Nyawa Anjas di ujung
tombak.
Pak
Syukri meninggalkan kelas setelah sebelumnya mengucapkan salam.
☻
28
Februari 2013
“Nggak
usah repot-repot jadi presiden kalo kamu cuma pengen merubah negara ini.”
Anggit sok dewasa menasehatiku. Respon atas keputusanku yang aku deklarasikan
beberapa menit yang lalu. Kami bertiga duduk di bangku taman, melihat ke kolam
datar yang sesekali bergerak permukaannya karena gerakan ikan.
“Tapi,
tetep aja presiden yang paling ngaruh.” Aku tetap bersikukuh.
“Iya
juga sih,” anggit mematahkan argumennya sendiri, kini aku tersenyum bangga.
Anggit adalah sepupu Anjas. Meskipun mereka dekat satu sama lain, dan medhok
solonya juga sama, mereka berbeda terhadap satu hal. Anggit suka pete, Anjas
suka jengkol. Aku tak mau ikut campur mengenai itu.
“Emang
kamu mau ngapain aja kalo jadi presiden?” Anjas kini angkat bicara, terbawa
suasana percakapan. Biasanya dia hanya mengatakan hal-hal tidak penting dalam
hidupnya, dia sama sekali tidak tertarik terhadap sesuatu yang serius. Dan
pertanyaannya di siang bolong ini membuatku melongo kurang lebih tiga detik.
“Pertama,
aku mau mbuat kebijakan: orang yang membuang sampah sembarangan akan dikenakan
denda sepuluh kali lipat dari harga benda itu.” aku sudah memikirkannya sejak
lama. Aku berfikir, ini sangat-sangat akan membuat jera masyarakat yang
membuang sampah sembarangan. “Aku juga akan mempertinggi gaji tukang sampah.”
Mungkin itu juga bisa membuat sampah-sampah tidak berkeliaran.
“Tapi,
ntar kalo orang-orang jadi tukang sampah semua gimana?” Anjas bicara. Nah,
pertanyaan-pertanyaan dari mulutnya sebetulnya semacam ini.
“Ya
gajinya jangan tinggi-tinggi sampe ngalahin gaji PNS lah. Paling enggak si
tukang sampah itu bisa hidup layak.” Aku menjawab.
“Wah,
kalo suruh mbayar sepuluh kali lipat, kasian yang beli silverquin, dong.” Kata
Anggit. Dan itu sama dengan apa yang aku bayangkan sejak awal. “Tapi biasanya
yang beli silverquin kan kaya-kaya dan terpelajar, mereka nggak mungkin buang
sampah sembarangan.” Anggit menjawab sendiri pertanyaannya. “Dan kalopun
miskin, bungkusnya pasti disimpen, terus pamer ke temen-temennya kalo dia bisa
beli ssilverquin. Haha”
Kami
tertawa beberapa detik.
“Terus
yang kedua apa?” Anggit bertanya saat tawa mulai menghilang di atmosfer.
“Apanya?”
aku bingung.
“Kebijakanmu
kalo jadi presiden.” Dia tak sabaran.
“Oh,”
aku mengangguk-anggukkan kepala. Mencari-cari kata di kepalaku. “aku lupa.”
Jawabku santai. Membuat kecewa. “Tapi aki masih ingat yang ketiga.” Wajah-wajah
kembali cerah. “Aku mau mindahin ibukota negara.” Selesai bicara, senyumku
mengembang. Oang-orang melongo beberapa saat.
“Tapi
ntar ekonomi di jakarta awut-awutan.” Seseorang keberatan.
“Lama-lama
juga pasti bisa nyesuaiin. Nggak ada yang instan di dunia ini.” aku kembali
tersenyum, merasa puas dengan jawabanku.
“Ada
kok, mie instan sama kopi instan.” Kata orang yang lain. Dan itu sedikit
membuat mentalku jatuh. Mental Breaker.
“Ya,
Em, ma, masa.. masalahnya, kerugian sama keuntungannya lebih banyak
keuntungannya. Jakarta nggak banjir lagi, nggak ada pemukiman kumuh, nggak ada
juga gelandangan di kolong jembatan.” Aku bicara perlahan, membela diri.
Mengumpulkan puing-puing harga diri yang berserakan. “Dan tak ada lagi
kebodohan dan kemiskinan. Cemoohan terhadap negeri ini akan enyah! Indonesia
akan memulai hidup yang baru!! Menjadi negara yang bisa dibanggakan!!!” tanpa
disadari, aku sudah berdiri di bangku taman mengepalkan tangan.
Orang-orang
bertepuk tangan. Tak kusangka juga obrolan kami menarik perhatian banyak orang
yang lewat. Suara tangan yang ditepuk membumbung ke atmosfer. Hingga aku salah
tingkah. Tersenyum sangat aneh dan menunggu orang-orang itu pergi. Aku nyengir
kepada Anjas dan Anggit yang menutupi muka masing-masing dengan telapak tangan.
Aku
tak memikirkan separah apa lagi selanjutnya.
☻
3 Maret
2013
Aku adalah
Majid. Pelajar yang sangat mengharapkan perubahan pada negeri ini. walaupun aku
tak yakin aku bisa melakukannya. Setidakanya aku mencoba. Setragis apapun
endingnya, aku tak akan kecewa. Karena memang terlalu sulit problema yang
dihadapi. Berusaha. Banyak usaha yang dilakukan orang-orang di muka bumi ini
adalah sia-sia. Dan tak perlu disesali, karena itu adalah suatu proses. Aku
memikirkan banyak hal hari ini.
“Pagi yang
sejuk.” Ayah berkata tanpa menoleh. Kami sekarang sedang santai bersepeda.
Melewati jalan-jalan yang masih sejuk ranpa polusi. Kegiatan yang rutin aku
lakukan bersama ayah di hari minggu. Setelah matahari mulai terasa membakar
kulit, biasanya kami berhenti di taman kota. Di bawah pohon beringin yang
rimbun, aku bercakap-cakap dengan ayah. Tentang banyak hal.
“Hm.” Aku
hanya mengangguk. Tentu dengan senyum karena merasakan setiap oksigen yang
masuk ke dalam lubang hidungku.
Setelah
cukup lama berkeliling, kami duduk-duduk di taman. Bangku diatas permadani
rumput ekstra besar. Sepi. Hanya ada tukang sapu. Aku tersenyum, mengingat
ideku menaikkan gaji tukang sampah dalam pidato kampanye kemarin. Memang
keterlaluan teman-temanku yang berkumpul disitu atau aku yang berlebihan, tak
tahu. Tapi setelah kejadian itu, aku sering disindir di kelas. Terlalu sering
malah. sudah tiga hari. dan sindiran itu tak kunjung ada pertanda untuk enyah.
-3-
“Pak
Presiden, kamu udah mikir ambil jurusan apa buat kuliah?” dan apa lagi ini?
ayah juga ikut-ikutan memanggilku pak presiden.
Bermula
dari Anjas dan Anggit, kedua sepupu itu sering meledekku dengan menirukan
kata-kataku waktu insiden itu jika mereka main ke rumahku. Ibu penasaran,
mereka dengan senang hati menceritakan semua-muanya. Tanpa diminta, ibu
bercerita ke semua anggota keluarga. Dan aku hanya bisa diam di pojokan.
“Em, belum
yakin, Yah.” Aku menjawab ringan. Sudah terbiasa dengan panggilan itu. “Tapi,”
aku menggantungkan kelimatku. Kini ayah menatapku. Tapi apa?. “Tapi, kayaknya aku minat ke arsitektur.”
“Oh,
arsitektur.” Ayah manggut-manggut. “Keren, ntar kamu jadi insinyur.”
Oh,
menurutku, gelar adalah efek samping dari apa yang kita pelajari. Bukan sesuatu
yang kita tuju. Dan bagi orang yang bergelar tapi tanpa ilmu? Tentu saja dia
tetap tidak berguna. Tetap lebih baik orang yang berlimu tanpa gelar. Dan aku tak
berminat pada gelar-gelar itu. Bukan munafik. Walaupun memang dunia ini lebih
percaya dengan gelar-gelar apalah.
“Lapar?”
ayah bertanya kemudian. Matahari sudah mulai meninggi. Tapi kendaraan yang
berlalu lalang tak seramai hari senin pada jam yang sama. Minggu pagi yang
sejuk sudah berakhir.
Aku
mengangguk. Beranjak mengikuti langkah ayah yang sudah siap dengan sepedanya.
Sarapan buatan ibu pasti sudah menunggu.
☻
4 Maret
2013
Senin
pagi, aku berangkat sekolah. Tak terlalu jauh, tapi aku ingin mencoba berjalan
kaki menuju sekolah. Sepertinya menyenangkan menikmati perjalanan. Dan
konsekuensinya aku harus berangkat lebih pagi. Mandi, sarapan, menyetrika
seragam, mengerjakan peer, semua dilakukan dengan singkat.
Sesampai
di perempatan, ada sesuatu fenomena yang membuatku sadar. Kulihat perempatan
tak seperti biasa. Terdengar suara peluit dari sana. Jarakku sekarang sekitar
tiga puluh meter dari sana. Belum jelas apa yang terjadi. Saat aku mulai dekat,
aku sadar lampu rambu lalu lintas mati, dan seseorang berompi hijau mencolok
disana sudah mengatasi masalah ini.
Aku jadi
sadar, ternyata polisi tak semuanya seperti apa yang aku bayangkan. Dan aku
malu sendiri kepada beliau yang di tengah perempatan. Sepagi ini, beliau sudah
bertugas. Dan memang kendaraan yang berlalu-lalang sudah sangat ramai. Aku
tersenyum kali ini. satu presepsi baru.
Senin
pagi. Upacara bendera. Setelah pengibaran bendera, dilanjutkan dengan amanat
dari pembina upacara. Kepala sekolah sudah berdiri di tengah lapangan, dengan
panggung kecil tanpa podium. Meski aku
akui, untuk mendiamkan seribu kurang sedikit (998) siswa memang cukup sulit.
Jadi, karena aku berada di barisan belakang. Hanya sedikit pesan yang
tersampaikan.
Tapi yang
sedikit itu, aku akan mengingatnya semampu ingatanku. Kurang lebih seperti ini:
“Siswa-siswi
dari jurusan agama, ips, bahasa, dan ipa, dan apapun jurusan lainnya mungkin tidak ada di sekolah ini harus
konsisten dengan apa yang telah dipilih. Menjadi apapun kalian kelak, pastikan
kalian berguna. Baik bagi orang yang terdekat, keluarga, masyarakat, bahkan
bagi negara.”
Itu satu
paragraf yang aku akan ingat. Akan kucamkan dalam hati. Dan sepertinya aku
mempunyai misi baru. Yaitu menyampaikan kepada teman-teman yang tidak mendengar
amanat ini. Tapi ada satu paragraf lagi dari pak pembina upacara yang bisa aku
dengar.
“Profesi
apapun yang kalian geluti kelak, kalian juga harus konsisten. Tetap menjaga
kejujuran. Jujur adalah kata yang hampir hilang di bumi. Berjanjilah kalian yang akan
mempertahankannya.”
Setelah
mendengar itu aku seperti menemukan jawaban atas pertanyaanku.
9 Maret
2013
Di jam
istirahat.
“Aku tahu,
jadi presiden emang gak gampang.” Seperti biasa aku di pojok kelas bersama
Anjas dan Anggit.
“Terus?”
Anjas tak sabar.
“Sebenarnya
kita bisa jadi apa aja buat memperbaiki negeri ini, nggak harus presiden.” aku
meneruskan.
“Kok
bisa?” Anggit sekarang yang bertanya.
“Kalian
tuh banyak tanya.” Respon atas pertanyaan yang sebenarnya mereka sudah tahu
bahwa aku akan menjawabnya. “dengan begini: apa aja pekerjaan kita ntar, kita
pastiin kita udah ngelakuin hal yang baik.” Sulit sekali menjelaskannya, aku
memilih kata dengan hati-hati.
“Cuma
itu?” Anjas bertanya lagi. sebelum sempat aku mengambil nafas
“Ya, sifat
cuma dua. Baik dan buruk. Kata baik udah mewakili. dan juga berani menjadi
pelopor perubahan. Gak perlu nyuruh-nyuruh orang buat ngelakuin itu kok, cuma
biarin aja orang meniru” Aku tak mau marah-marah hanya karena Anjas banyak
tanya. Baca: kepo. “Dan, kalian tahu? Indonesia jadi kayak apa setelah itu?”
“Berubah
dengan sendirinya?” Mereka berdua hampir serentak.
“Exactly!
Bisa dimulai dengan kita.”
Dan
sekarang kurasakan atmosfer mendadak memanas. Mata dua kerabatku itu
berapi-api. Tantangan besar menunggu di depan mata. Banyak yang harus kita
lakukan. Seperti kata-kata orang, masa depan negeri ini ada di genggaman kita.
Dan besok
usiaku genap tujuhbelas.
☻☻☻
NB: cerita ini hanya fiksi belaka ☻