Sabtu, 08 Agustus 2015

Media (Anti) Sosial

                Kita dapat memulai kisah ini dengan bangunnya seseorang dari tidurnya. Dengan alarm yang masih tetap berbunyi. Aku bermalas-malas menutup mukaku dengan bantal. Aku meletakkan HP ku di meja yang tak terjangkau tangan, sehingga aku harus berdiri untuk mematikan alarmnya. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna, aku mulai membenci lagu yang kujadikan alarm.
                Selanjutnya kita skip saja bagian di kamar mandi. Hari ini masih termasuk hari libur akhir tahun ajaran. Oh iya, aku adalah seorang siswa sekolah menengah atas. Tumbuh menjadi remaja, (entah mengapa remaja menjadi kata yang berkesan negatif. Tapi jika menggunakan kata pemuda akan terlalu kaku.) nah aku di antara keduanya. Yang akan aku bahas di kisahku kali ini adalah masalah keterkaitan kita dengan gadget yang membuat kita lebih pasif di dunia nyata.
                Orientasi narasi ini adalah adanya dua dunia yang kita alami. Yak, dunia nyata dan dunia maya. Keduanya sudah tidak asing di telinga bagi kita kan? Buktinya saja kamu membaca cerita ini dalam bentuk digital (yak arena belum ada yang bentuk cetakan). Dunia nyata itu bisa kita sentuh dengan indra kita, namun dunia maya hanya ada di layar-layar HP, leptop, dan lain-lain. Mestinya tidak usah dijelaskan juga kan? (tapi ini untuk memenuhi syarat jumlah kata yang terdapat dalam cerita)
                Mestinya ide cerita ini lebih ekspresif jika ditulis dalam bentuk komik, tapi aku tidak berbakat dalam hal itu. oke kita mulai saja ya.
                Facebook
Kalimat ‘What’s on your mind?’ menghiasi beranda tiap kali kita membukanya. Tentu kita merasakan sesuatu ketika berada pada aplikasi tersebut. Nah yang aku rasakan adalah seperti saat aku membuka jendela dan terlihat teman-teman (yang aku kenal dan sebagian besar tidak) melakukan aktifitasnya. Ada yang sedang gembira bersama teman-teman, sedih ditinggal pacar, otw, dll.
Bahkan kita tak bisa membaca semua postingan hingga menemukan postingan yang kita baca terakhir kemarin. Di kehidupan sosialku, amat jarang menemukan orang yang tidak punya akun facebook. Dulu ketika pertama masuk SMA, aku mendapati dua temanku yang tidak punya akun facebook. Tapi sekarang sudah punya. Jadi alumni SMA-ku 100% punya akun facebook. Entah itu membanggakan atau tidak penting.
Selain kabar-kabar tentang teman, facebook juga dihiasi dengan online shop, tulisan motivasi, persuasi, paragraf analitik, dan orang yang sedang belajar menulis puisi. Jangkauan facebook lebih luas, karena seperti yang sudah dijelaskan tadi, jarang ada orang yang tidak mempunyai akun facebook. Yang lebih penting lagi kita bisa sok akrab apabila ada orang yang kenal kita tapi kita tidak kenal.
Lebih enak buka facebook daripada keluar rumah dan bertemu orang secara langsung. Tapi menurutku facebook itu digunakan oleh orang-orang yang sedang nganggur atau dalam waktu luang. Sangat tidak efektif untuk mengabari hal yang mendesak.
Mereview facebook mungkin tak akan ada habisnya. Ah, teringat masa-masa alay karena memang ini adalah social media yang paling popular di era anak kelahiran 90an remaja. Foto-foto cupu yang tidak kita sadari dan malu ketika melihatnya kembali mungkin masih tersimpan di sana. Sebagian orang mungkin sudah tidak mengurusi akun facebooknya karena mungkin dianggap terlalu kuno dengan maraknya sosmed terbaru. Tapi, sebagian orang malas untuk ‘pindah rumah’ jika harus menghapus akun facebooknya.
Facebook = Halaman Sekolah
Kegiatan rutin setelahnya adalah menyirami tanaman kaktus kesayanganku, sebenarnya aku kurang paham apakah tanaman ini perlu disiram atau tidak. Tanpa tiba-tiba HP-ku berbunyi dan berbagai percakapan tidak penting muncul. Dan dengan bosannya aku tanggapi.

Whatsapp
Notifikasi dari aplikasi ini selalu menghiasi hari-hari kita kan? Berbeda dengan facebook, whatsapp terdiri dari bilik-bilik chat baik empat mata maupun banyak mata. Aplikasi ini menggunakan nomor HP untuk mengaksesnya. Dan nomor HP bersifat lebih privat, sehingga menjadikan whatsapp sebagai sosmed yang bersifat privat pula. Semua yang ada di kontak whatsapp bisa dipastikan kita mengenalnya.
Untuk fitur-fitur di dalamnya dapat dilihat di review-review di internet (bukankah ini juga internet?) oke, cari di artikel bersangkutan. Kisah ini mengisahkan hubungan manusia dengan sosmed, bukan review aplikasi.
Perasaan yang ditimbulkan ketika membuka aplikasi ini adalah seperti sekolah yang tidak memiliki halaman. Semua tanahnya digunakan untuk ruangan. Ada ruangan kelas, ruangan alumni smp, ruangan alumni sd, ada ruangan kelompok piket, ada ruangan kelompok ekstrakulikuler, dan sisanya ruangan untuk ngobrol empat mata.

Whatsapp = Sekolah Tanpa Halaman

Hari menjelang siang dan rasa-rasa bosan mulai menghampiri. Daripada bengong di sofa hanya bernafas dan garuk-garuk, lebih baik aku main Cookierun dan mengalahkan score yang lain.

Line
Hah, mungkin karena gamenya, aplikasi yang satu ini jadi digunakan banyak orang, (beberapa orang hanya ngespam ajakan bermain game). Tapi ini menjadi sosmed orientasi utama di HP-ku. Tiga hal yang mungkin bisa menjelaskan keunggulan Line adalah: Permainan, Stiker, dan.. oke dua saja ya.
Meskipun aku tak terlalu menyukainya karena terlalu ramai dan membuat HP lamban, tak bisa dipungkiri ini adalah sosmed yang paling efektif untuk memberikan informasi penting. Dan hal yang tak bisa dipungkiri lagi adalah, aku pernah menggunakan uang jajanku untuk membeli stiker di aplikasi ini, aku tahu itu tak dapat diterima bagi beberapa kalangan orang, tapi aku juga masih memikirkannya apakah itu wellspend.
Ketika berada dalam aplikasi ini aku merasakan seperti berada dalam satu sekolahan dengan halaman (ruangan adalah ruang chat, dan halamannya adalah timeline). Ramai dan banyak orang-orang yang berkoar-koar menggunakan toa dan mengajak orang lain untuk sepemikiran dengan mereka.
Line = Sekolah dengan Halaman dan Sedang Diadakan Pameran

Matahari sudah tergelincir ke barat, saatnya makan siang kemudian tidur siang.

Kakao Talk
Mirip dengan Line, tapi sepi. Jadi aku menghapus aplikasi ini.

KakaoTalk = Sekolah Sedang Libur

Menjelang sore hari, lebih baik mencoba jalan-jalan dan mencari udara segar, nah, di tengah alun-alun menemukan satu spot yang perfect untuk selfie.

Instagram
Menunggu notifikasi foto kita disukai menimbulkan sensasi tersendiri setelah mengupload foto. Foto selfie, foto pemandangan, foto pacar orang, foto meme, foto apa saja bisa diupload. Semua orang bisa menjadi fotografer, itu slogan yang aku ciptakan.
Menceritakan berbagai kisah hidupnya dengan berbagai foto yang ia alami, atau yang ia temui. Instagram identic dengan foto, tapi bisa juga untuk video. Nah untuk yang video ini aku kurang suka karena mengganggu ke-eksistensi-an aplikasi sebagai pengunggah foto.
Perasaan yang ditimbulkan adalah seperti mengunjungi galeri dengan berbagai foto. Kita bisa melewati saja bagian foto yang tidak  menarik, tapi bisa memberikan apresiasi untuk foto yang menarik dengan menekan ikon <3
Instagram = Galeri Foto

Path
Kurang paham juga dengan aplikasi yang satu ini karena aku belum mengunduhnya. tapi sepertinya lebih mementingkan lokasi pengguna.
Path = Jalan-jalan

Menjelang malam, saatnya istirahat dari semua kepenatan siang hari (yang tidak melakukan apa-apa). Menonton tv, di pojokan layar televisi muncul nama orang yang muncul, dengan awalan karakter @, sudah tidak asing lagi itu akun apa.

Twitter
Nah, yang satu ini adiknya facebook, tapi aku masih belum mahir menggunakannya. Terlalu banyak kata-kata tidak efektif yang membingungkan seperti: RT, favorite, @fulan, #something, dan notifikasi seperti itu tercampur dalam home, membuatku memutuskan untuk menghapus aplikasi itu. banyak yang menggunakan sosmed ini. Semua artis  sepertinya punya akun twitter. jadi intinya twitter lebih official dan jarang ada akun-akun palsu.
Perasaan yang ditimbulkan ketika aku membuka aplikasi ini adalah seperti mambaca koran halaman iklan kecik. Terpaksa membaca apa yang tidak ingin dibaca. Dan lebih banyak link-link yang membuat bingung.
Twitter = Ocehan Burung yang Mengganggu Tidur Siang

Menjelang jam tidur, semakin ramai broadcast di sosmed, dan obrolan dari hal yang penting hingga yang tidak layak dibicarakan.

BBM
Menurutku BBM lebih terkesan luxury. Kehadirannya di android menjadikan aplikasi ini menjadi seperti anak pindahan dari luar negeri. Terdapat ruang chat, dan notifikasi oleh pengguna lain di feed.
Berada di aplikasi ini menimbullkan kesan berada pada apartemen mewah. Terdapat jendela yang memungkinkan untuk melihat tetangga sedang melakukan apa.
BBM = Apartemen Mewah dengan Jendela Terhubung ke Semua Tetangga.

Dan masih banyak social media yang mungkin tidak disebutkan di sini, seperti vine, snapchat, dan lain-lain. Satu hari sekali minimal kita membuka aplikasi-aplikasi tersebut. Ironi memang. Entah sejak kapan kita memulai tradisi ini, tapi itu sudah menjadi kegiatan rutin.
Menjadikan kita lebih berorientasi ke dunia maya daripada dunia nyata. Sudah banyak media seperti video, artikel, atau bahkan komik yang menggambarkan fenomena seperti ini. entah berlebihan atau tidak, kita tidak bisa menilai. Kita hanya bisa menilai diri sendiri apakah jadwal rutin sosmed tersebut membuat kita lebih produktif atau sebaliknya.
Kisah anak SMA ini menggambarkan berbagai kejanggalan yang sudah dianggap lumrah di jaman modern seperti ini. Nah, jika ingin mengujinya, ayo lakukan offline challenge. Hanya dengan menonaktifkan sambungan data dari ponsel kita dan mengerjakan kegiatan seperti belajar, menyapu, mencuci, dan kegiatan kreatif lainnya. Tanpa perlu memposting untuk memulainya, juga tanpa mengupload hasil kerja kita setelah melakukannya.


Bagaimana menurutmu sosmed-sosmed itu bagi kehidupanmu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar