Kita
dapat memulai kisah ini dengan bangunnya seseorang dari tidurnya. Dengan alarm
yang masih tetap berbunyi. Aku bermalas-malas menutup mukaku dengan bantal. Aku
meletakkan HP ku di meja yang tak terjangkau tangan, sehingga aku harus berdiri
untuk mematikan alarmnya. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna, aku
mulai membenci lagu yang kujadikan alarm.
Selanjutnya
kita skip saja bagian di kamar mandi. Hari ini masih termasuk hari libur akhir
tahun ajaran. Oh iya, aku adalah seorang siswa sekolah menengah atas. Tumbuh
menjadi remaja, (entah mengapa remaja menjadi kata yang berkesan negatif. Tapi
jika menggunakan kata pemuda akan terlalu kaku.) nah aku di antara keduanya.
Yang akan aku bahas di kisahku kali ini adalah masalah keterkaitan kita dengan gadget
yang membuat kita lebih pasif di dunia nyata.
Orientasi
narasi ini adalah adanya dua dunia yang kita alami. Yak, dunia nyata dan dunia
maya. Keduanya sudah tidak asing di telinga bagi kita kan? Buktinya saja kamu
membaca cerita ini dalam bentuk digital (yak arena belum ada yang bentuk
cetakan). Dunia nyata itu bisa kita sentuh dengan indra kita, namun dunia maya
hanya ada di layar-layar HP, leptop, dan lain-lain. Mestinya tidak usah
dijelaskan juga kan? (tapi ini untuk memenuhi syarat jumlah kata yang terdapat
dalam cerita)
Mestinya
ide cerita ini lebih ekspresif jika ditulis dalam bentuk komik, tapi aku tidak
berbakat dalam hal itu. oke kita mulai saja ya.
Facebook
Kalimat ‘What’s
on your mind?’ menghiasi beranda tiap kali kita membukanya. Tentu kita
merasakan sesuatu ketika berada pada aplikasi tersebut. Nah yang aku rasakan
adalah seperti saat aku membuka jendela dan terlihat teman-teman (yang aku
kenal dan sebagian besar tidak) melakukan aktifitasnya. Ada yang sedang gembira
bersama teman-teman, sedih ditinggal pacar, otw, dll.
Bahkan kita tak
bisa membaca semua postingan hingga menemukan postingan yang kita baca terakhir
kemarin. Di kehidupan sosialku, amat jarang menemukan orang yang tidak punya
akun facebook. Dulu ketika pertama masuk SMA, aku mendapati dua temanku yang
tidak punya akun facebook. Tapi sekarang sudah punya. Jadi alumni SMA-ku 100%
punya akun facebook. Entah itu membanggakan atau tidak penting.
Selain
kabar-kabar tentang teman, facebook juga dihiasi dengan online shop, tulisan
motivasi, persuasi, paragraf analitik, dan orang yang sedang belajar menulis
puisi. Jangkauan facebook lebih luas, karena seperti yang sudah dijelaskan
tadi, jarang ada orang yang tidak mempunyai akun facebook. Yang lebih penting
lagi kita bisa sok akrab apabila ada orang yang kenal kita tapi kita tidak
kenal.
Lebih enak buka
facebook daripada keluar rumah dan bertemu orang secara langsung. Tapi
menurutku facebook itu digunakan oleh orang-orang yang sedang nganggur atau
dalam waktu luang. Sangat tidak efektif untuk mengabari hal yang mendesak.
Mereview
facebook mungkin tak akan ada habisnya. Ah, teringat masa-masa alay karena
memang ini adalah social media yang paling popular di era anak kelahiran 90an
remaja. Foto-foto cupu yang tidak kita sadari dan malu ketika melihatnya
kembali mungkin masih tersimpan di sana. Sebagian orang mungkin sudah tidak
mengurusi akun facebooknya karena mungkin dianggap terlalu kuno dengan maraknya
sosmed terbaru. Tapi, sebagian orang malas untuk ‘pindah rumah’ jika harus
menghapus akun facebooknya.
Facebook =
Halaman Sekolah
Kegiatan rutin
setelahnya adalah menyirami tanaman kaktus kesayanganku, sebenarnya aku kurang
paham apakah tanaman ini perlu disiram atau tidak. Tanpa tiba-tiba HP-ku
berbunyi dan berbagai percakapan tidak penting muncul. Dan dengan bosannya aku
tanggapi.
Whatsapp
Notifikasi dari
aplikasi ini selalu menghiasi hari-hari kita kan? Berbeda dengan facebook,
whatsapp terdiri dari bilik-bilik chat baik empat mata maupun banyak mata.
Aplikasi ini menggunakan nomor HP untuk mengaksesnya. Dan nomor HP bersifat
lebih privat, sehingga menjadikan whatsapp sebagai sosmed yang bersifat privat
pula. Semua yang ada di kontak whatsapp bisa dipastikan kita mengenalnya.
Untuk
fitur-fitur di dalamnya dapat dilihat di review-review di internet (bukankah
ini juga internet?) oke, cari di artikel bersangkutan. Kisah ini mengisahkan
hubungan manusia dengan sosmed, bukan review aplikasi.
Perasaan yang
ditimbulkan ketika membuka aplikasi ini adalah seperti sekolah yang tidak
memiliki halaman. Semua tanahnya digunakan untuk ruangan. Ada ruangan kelas,
ruangan alumni smp, ruangan alumni sd, ada ruangan kelompok piket, ada ruangan
kelompok ekstrakulikuler, dan sisanya ruangan untuk ngobrol empat mata.
Whatsapp =
Sekolah Tanpa Halaman
Hari menjelang
siang dan rasa-rasa bosan mulai menghampiri. Daripada bengong di sofa hanya
bernafas dan garuk-garuk, lebih baik aku main Cookierun dan mengalahkan score
yang lain.
Line
Hah, mungkin
karena gamenya, aplikasi yang satu ini jadi digunakan banyak orang, (beberapa
orang hanya ngespam ajakan bermain game). Tapi ini menjadi sosmed orientasi
utama di HP-ku. Tiga hal yang mungkin bisa menjelaskan keunggulan Line adalah:
Permainan, Stiker, dan.. oke dua saja ya.
Meskipun aku tak
terlalu menyukainya karena terlalu ramai dan membuat HP lamban, tak bisa
dipungkiri ini adalah sosmed yang paling efektif untuk memberikan informasi
penting. Dan hal yang tak bisa dipungkiri lagi adalah, aku pernah menggunakan
uang jajanku untuk membeli stiker di aplikasi ini, aku tahu itu tak dapat
diterima bagi beberapa kalangan orang, tapi aku juga masih memikirkannya apakah
itu wellspend.
Ketika berada
dalam aplikasi ini aku merasakan seperti berada dalam satu sekolahan dengan
halaman (ruangan adalah ruang chat, dan halamannya adalah timeline).
Ramai dan banyak orang-orang yang berkoar-koar menggunakan toa dan mengajak
orang lain untuk sepemikiran dengan mereka.
Line = Sekolah
dengan Halaman dan Sedang Diadakan Pameran
Matahari sudah
tergelincir ke barat, saatnya makan siang kemudian tidur siang.
Kakao Talk
Mirip dengan
Line, tapi sepi. Jadi aku menghapus aplikasi ini.
KakaoTalk =
Sekolah Sedang Libur
Menjelang sore
hari, lebih baik mencoba jalan-jalan dan mencari udara segar, nah, di tengah
alun-alun menemukan satu spot yang perfect untuk selfie.
Instagram
Menunggu
notifikasi foto kita disukai menimbulkan sensasi tersendiri setelah mengupload
foto. Foto selfie, foto pemandangan, foto pacar orang, foto meme, foto apa saja
bisa diupload. Semua orang bisa menjadi fotografer, itu slogan yang aku
ciptakan.
Menceritakan
berbagai kisah hidupnya dengan berbagai foto yang ia alami, atau yang ia temui.
Instagram identic dengan foto, tapi bisa juga untuk video. Nah untuk yang video
ini aku kurang suka karena mengganggu ke-eksistensi-an aplikasi sebagai
pengunggah foto.
Perasaan yang
ditimbulkan adalah seperti mengunjungi galeri dengan berbagai foto. Kita bisa
melewati saja bagian foto yang tidak
menarik, tapi bisa memberikan apresiasi untuk foto yang menarik dengan
menekan ikon <3
Instagram = Galeri
Foto
Path
Kurang paham
juga dengan aplikasi yang satu ini karena aku belum mengunduhnya. tapi
sepertinya lebih mementingkan lokasi pengguna.
Path =
Jalan-jalan
Menjelang malam,
saatnya istirahat dari semua kepenatan siang hari (yang tidak melakukan
apa-apa). Menonton tv, di pojokan layar televisi muncul nama orang yang muncul,
dengan awalan karakter @, sudah tidak asing lagi itu akun apa.
Twitter
Nah, yang satu
ini adiknya facebook, tapi aku masih belum mahir menggunakannya. Terlalu banyak
kata-kata tidak efektif yang membingungkan seperti: RT, favorite, @fulan,
#something, dan notifikasi seperti itu tercampur dalam home, membuatku
memutuskan untuk menghapus aplikasi itu. banyak yang menggunakan sosmed ini. Semua
artis sepertinya punya akun twitter.
jadi intinya twitter lebih official dan jarang ada akun-akun palsu.
Perasaan yang
ditimbulkan ketika aku membuka aplikasi ini adalah seperti mambaca koran
halaman iklan kecik. Terpaksa membaca apa yang tidak ingin dibaca. Dan lebih
banyak link-link yang membuat bingung.
Twitter = Ocehan
Burung yang Mengganggu Tidur Siang
Menjelang jam
tidur, semakin ramai broadcast di sosmed, dan obrolan dari hal yang penting
hingga yang tidak layak dibicarakan.
BBM
Menurutku BBM
lebih terkesan luxury. Kehadirannya di android menjadikan aplikasi ini
menjadi seperti anak pindahan dari luar negeri. Terdapat ruang chat, dan
notifikasi oleh pengguna lain di feed.
Berada di
aplikasi ini menimbullkan kesan berada pada apartemen mewah. Terdapat jendela
yang memungkinkan untuk melihat tetangga sedang melakukan apa.
BBM = Apartemen
Mewah dengan Jendela Terhubung ke Semua Tetangga.
Dan masih banyak
social media yang mungkin tidak disebutkan di sini, seperti vine, snapchat, dan
lain-lain. Satu hari sekali minimal kita membuka aplikasi-aplikasi tersebut.
Ironi memang. Entah sejak kapan kita memulai tradisi ini, tapi itu sudah
menjadi kegiatan rutin.
Menjadikan kita
lebih berorientasi ke dunia maya daripada dunia nyata. Sudah banyak media
seperti video, artikel, atau bahkan komik yang menggambarkan fenomena seperti
ini. entah berlebihan atau tidak, kita tidak bisa menilai. Kita hanya bisa
menilai diri sendiri apakah jadwal rutin sosmed tersebut membuat kita lebih
produktif atau sebaliknya.
Kisah anak SMA
ini menggambarkan berbagai kejanggalan yang sudah dianggap lumrah di jaman
modern seperti ini. Nah, jika ingin mengujinya, ayo lakukan offline
challenge. Hanya dengan menonaktifkan sambungan data dari ponsel kita dan
mengerjakan kegiatan seperti belajar, menyapu, mencuci, dan kegiatan kreatif
lainnya. Tanpa perlu memposting untuk memulainya, juga tanpa mengupload hasil
kerja kita setelah melakukannya.
Bagaimana
menurutmu sosmed-sosmed itu bagi kehidupanmu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar