Sabtu, 03 Oktober 2015

Bulan Terbenam Seenaknya (1)



                Malam saat aku tulis cerita ini, tidak seperti malam-malam biasanya. Terlalu malas untuk memastikan bulan tetap menggantung di sana. Karena rutinitas melihat bulan sudah kulakukan sejak bahkan aku lupa kapan. Bulan sabit, bulan separo, bulan purnama, bulan berdarah, bahkan gerhana bulan. Dari bulan yang tidak dilihat banyak orang, hingga bulan yang mengundang ritual tertentu. Aku suka bulan apa adanya.
                Luna, seorang gadis kecil (umurnya tua tapi berbadan kecil) adalah temanku sejak pertama kali aku duduk di bangku kuliah. Dia bukan pemeran utama di kisah kali ini. aku yang jadi pemeran utama, sudah lama tidak mengambil jabatan itu. Oh iya, namaku Surya, meski wajahku tak secerah nama, tapi paling tidak doanya supaya aku bisa menyinari dunia. (Hmm)
                Kami bersahabat, menjalani hari demi hari di perkuliahan yang kejam bersama-sama. Yang terkadang mengundang kontroversi. Laki-laki, perempuan, berdua selalu bersama, apalagi kalau bukan pacaran dan berbagai istilah sejenisnya? Dan terkadang kami yang susah menjelaskan. Tapi setelah menelisik lebih dalam, akhirnya mereka sadar sendiri.
                Oke, clue kenapa kita selalu bersama adalah, Luna selalu tergantung kepadaku. Dia selalu minta diajari untuk membuat tugas, diconteki kuis, hingga pinjam uang sebelum saatnya. Yah, begitulah, Dia orang yang ceroboh, masabodo, bebas, dan malas. Tapi dalam lain hal, dia berkarakter, ambisius, bahkan menjadi orang yang sangat teliti.
                Aku, tentu saja aku adalah sahabat yang bisa diandalkan, rajin, taat aturan, suka menabung, dapat memenejemen waktu dengan baik. Tapi hubungan persahabatan kami bukan simbiosis parasitisme. Aku juga berhutang banyak hal padanya. seperti saat jenuh, dia selalu memotivasi “kalo lo males, gue mau bergantung sama siapa?” dan itu cukup membuatku termotivasi. (entahlah itu termasuk hutang atau tidak)
                Kebiasaan yang sering kulakukan adalah telentang di atap kosan, melihat bulan yang timbul tenggelam di balik awan. Sesekali aku ajak Luna jika memang sedang mengerjakan tugas bersama. Dan ini percakapan yang sempat terekam.
                “Lun, arti nama lo apaan sih?”
                “Bodoamat, apalah arti sebuah nama.”
                “Yaelah sama nama sendiri aja gak peduli”
                “Terus, kalo udah tau kenapa? Mau dibandingin sama nama lo yang ‘menyinari dunia’?”
                “Sewot amat sih, lagi pms lo?”
                Dia hanya menghela napas, keheningan mulai merebak, dan pandangan tetap tertuju pada bulan separo yang tetap timbul tenggelam di balik awan. “Lupa dari Bahasa mana, artinya bulan..” dengan volume suara yang menurun, membuatku bingung harus menanggapi apa. “Dan feeling gue gak enak kalo arti nama gue itu bulan.”
                Dia melanjutkan  “Bulan tu gak mandiri, harus dapet cahaya dari matahari cuma buat bersinar. Bulan tu gak punya pendirian, kadang sabit, kadang separo, kadang purnama. Bulan tu labil, terbit dimana, terbenam di mana. Gak kayak matahari yang jelas terbit di timur, terbenam di barat.”
                Semakin aku tidak tahu mau menanggapi apa. Tak pernah aku tahu dia memaknai bulan begitu kejam, tapi memang benar adanya.
                Kami habiskan malam itu dengan keheningan. Takut serba salah jika aku menanggapi. Apakah dia sebegitu iri dengan namaku? Toh itu hanya sebuah nama. Tapi jika disadari, kepribadianku mirip dengan matahari, dan dia mirip bulan dengan deskripsi miliknya. Entah bagaimana akhirnya.
                “Pasti bokap lo gak mikirin segitunya pas milih nama itu. bulan juga punya deskripsi yang positif, menerangi malam. Pusat perhatian di antara bintang-bintang, dan dia punya posisi penting pas musim lebaran (lihat hilal)” aku mulai berbicara setelah kupikir dan kutata rapi-rapi.
                Dia masih tetap hening.
           “Dan bulan gak harus minta cahaya matahari, matahari tetep bakal ngasih. Itu udah kodratnya.” Lanjutku.
                “Lo tau kenapa bulan kadang muncul di siang hari?” dia mulai angkat bicara.
                Aku menggeleng.
                “Karena dia pengen ngintip matahari” dia mengulum senyum kecil di ujung bibirnya.
                Aku masih tidak menangkap kode itu.
               Hening beberapa jenak. Aku tidak ingin ending seperti ini. Belum siap lebih tepatnya. Bulan yang selalu terbenam seenaknya, kini terbenam di hati sang surya.

                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar