Malam
saat aku tulis cerita ini, tidak seperti malam-malam biasanya. Terlalu malas
untuk memastikan bulan tetap menggantung di sana. Karena rutinitas melihat
bulan sudah kulakukan sejak bahkan aku lupa kapan. Bulan sabit, bulan separo,
bulan purnama, bulan berdarah, bahkan gerhana bulan. Dari bulan yang tidak
dilihat banyak orang, hingga bulan yang mengundang ritual tertentu. Aku suka
bulan apa adanya.
Luna,
seorang gadis kecil (umurnya tua tapi berbadan kecil) adalah temanku sejak
pertama kali aku duduk di bangku kuliah. Dia bukan pemeran utama di kisah kali
ini. aku yang jadi pemeran utama, sudah lama tidak mengambil jabatan itu. Oh
iya, namaku Surya, meski wajahku tak secerah nama, tapi paling tidak doanya
supaya aku bisa menyinari dunia. (Hmm)
Kami
bersahabat, menjalani hari demi hari di perkuliahan yang kejam bersama-sama.
Yang terkadang mengundang kontroversi. Laki-laki, perempuan, berdua selalu
bersama, apalagi kalau bukan pacaran dan berbagai istilah sejenisnya? Dan
terkadang kami yang susah menjelaskan. Tapi setelah menelisik lebih dalam,
akhirnya mereka sadar sendiri.
Oke,
clue kenapa kita selalu bersama adalah, Luna selalu tergantung kepadaku. Dia selalu
minta diajari untuk membuat tugas, diconteki kuis, hingga pinjam uang sebelum
saatnya. Yah, begitulah, Dia orang yang ceroboh, masabodo, bebas, dan malas.
Tapi dalam lain hal, dia berkarakter, ambisius, bahkan menjadi orang yang
sangat teliti.
Aku,
tentu saja aku adalah sahabat yang bisa diandalkan, rajin, taat aturan, suka
menabung, dapat memenejemen waktu dengan baik. Tapi hubungan persahabatan kami
bukan simbiosis parasitisme. Aku juga berhutang banyak hal padanya. seperti
saat jenuh, dia selalu memotivasi “kalo lo males, gue mau bergantung sama
siapa?” dan itu cukup membuatku termotivasi. (entahlah itu termasuk hutang atau
tidak)
Kebiasaan
yang sering kulakukan adalah telentang di atap kosan, melihat bulan yang timbul
tenggelam di balik awan. Sesekali aku ajak Luna jika memang sedang mengerjakan
tugas bersama. Dan ini percakapan yang sempat terekam.
“Lun,
arti nama lo apaan sih?”
“Bodoamat,
apalah arti sebuah nama.”
“Yaelah
sama nama sendiri aja gak peduli”
“Terus,
kalo udah tau kenapa? Mau dibandingin sama nama lo yang ‘menyinari dunia’?”
“Sewot
amat sih, lagi pms lo?”
Dia
hanya menghela napas, keheningan mulai merebak, dan pandangan tetap tertuju
pada bulan separo yang tetap timbul tenggelam di balik awan. “Lupa dari Bahasa
mana, artinya bulan..” dengan volume suara yang menurun, membuatku bingung harus
menanggapi apa. “Dan feeling gue gak enak kalo arti nama gue itu bulan.”
Dia
melanjutkan “Bulan tu gak mandiri, harus
dapet cahaya dari matahari cuma buat bersinar. Bulan tu gak punya pendirian,
kadang sabit, kadang separo, kadang purnama. Bulan tu labil, terbit dimana,
terbenam di mana. Gak kayak matahari yang jelas terbit di timur, terbenam di
barat.”
Semakin
aku tidak tahu mau menanggapi apa. Tak pernah aku tahu dia memaknai bulan
begitu kejam, tapi memang benar adanya.
Kami
habiskan malam itu dengan keheningan. Takut serba salah jika aku menanggapi.
Apakah dia sebegitu iri dengan namaku? Toh itu hanya sebuah nama. Tapi jika
disadari, kepribadianku mirip dengan matahari, dan dia mirip bulan dengan
deskripsi miliknya. Entah bagaimana akhirnya.
“Pasti
bokap lo gak mikirin segitunya pas milih nama itu. bulan juga punya deskripsi
yang positif, menerangi malam. Pusat perhatian di antara bintang-bintang, dan
dia punya posisi penting pas musim lebaran (lihat hilal)” aku mulai berbicara
setelah kupikir dan kutata rapi-rapi.
Dia
masih tetap hening.
“Dan
bulan gak harus minta cahaya matahari, matahari tetep bakal ngasih. Itu udah
kodratnya.” Lanjutku.
“Lo
tau kenapa bulan kadang muncul di siang hari?” dia mulai angkat bicara.
Aku
menggeleng.
“Karena
dia pengen ngintip matahari” dia mengulum senyum kecil di ujung bibirnya.
Aku
masih tidak menangkap kode itu.
Hening
beberapa jenak. Aku tidak ingin ending seperti ini. Belum siap lebih tepatnya. Bulan
yang selalu terbenam seenaknya, kini terbenam di hati sang surya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar