Pernahkah teman-teman merasakan, bahwa sebuah pujian itu dapat membuat kita termotivasi? Itu amat baik jika kita ingin memancing anak kecil untuk berbuat baik. Simaklah terlebih dahulu kisah berikut.
Rama namanya, waktu itu ia duduk di bangku sekolah dasar kelas 6, atau mungkin kelas 5. Rama lupa. Pelajaran agama kali ini adalah latihan sholat. Mungkin sebelum kelas 5 teman-teman Rama sudah bisa sholat, begitu pula ia.Kemarin, Pak guru sudah menyuruh murid-murid untuk membawa sarung dan peci bagi yang putra, dan mukena bagi yang putri.
Rama bukanlah anak yang terpintar di kelas itu. Ia juga bukan anak termalas di kelas itu. Ia hanya anak yang biasa-biasa saja di kelas itu. Pak guru memasuki ruang kelas. Dengan sumringah, ia menyuruh murid-murid untuk segera berangkat ke masjid di dekat sekolah.
Seperti ingin melaksanakan sholat sungguhan, murid-murid secara reflek langsung mengambil air wudhu. Mungkin itu prosedur yang sudah ada di kepala mereka jika berangkat ke masjid.
Murid-murid yang nakal langsung mengambil sof paling belakang, menggambarkan posisi andalan mereka saat sholat jumat. Padahal sof paling belakang untuk putri. Pak Guru menyuruh mereka mengambil barisan depan. dan mereka beranjak dengan malas.
Setelah barisan rapi, Pak Guru menyuruh murid-murid untuk melaksanakan simulasi sholat 1 rakaat dan bacaannya semua dibaca keras bersama-sama. Kemudian murid-murid mulai dari niat. Dilanjutkan hingga salam.
Setelah itu, Pak Guru mengambil alih acara dan duduk di depan murid-murid seperti akan kultum yang dilakukan pada shalat tarawih di bulan ramadan.
Rama tidak ingat apa saja yang dikatakan Pak Guru. Yang ia ingat, Pak guru mendekatinya dan menyuruhnya berdiri, menghadap teman-teman. Kemudian Pak Guru berkata kurang lebih "Nah, lebih baik lagi jika sholatnya menggunakan peci putih, kemeja putih, dan sarung putih."
kemeja semua murid-murid berwarna putih karena hari selasa dan seragam sekolah berwarna putih. satu-satunya sarung di rumahnya yang pas dipakai hanya sarung putih, dan peci yang ia punya, andalan dipakai untuk mengaji juga peci putih itu yang ujung-ujungnya sudah kecoklatan. Rama tersenyum malu karena ketidaksengajaan itu.
Setelah itu, ia rajin sholat berjamaah di mushola dekat rumahnya. Dengan sarung motif jarik hitam dengan warna dasar putih, ia mengukir amal ibadahnya di waktu kecil.
Taukah teman-teman, amal kita sia-sia jika kita hanya ingin dipuji manusia, riya' namanya. Dan yang dapat menilai hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Kini Rama sudah dewasa. Jika ia memilih untuk membeli sarung, ia memilih warna putih. Itu sudah menjadi warna favorit baginya. Bukan berarti ia menolak pemberian sarung yang warna-warni, ia tetap menerima. Tapi jika boleh memilih, Rama ingin sarung yang berwarna putih.
Apakah kisah Rama ini sama halnya dengan riya'? Contoh riya' adalah beramal untuk mencari pujian yang belum ia dapat. sedangkan Rama mendapat pujian tanpa perlu sengaja mencarinya. dan ia menjadikan itu sebagai motivasi dirinya untuk beramal.
Jika teman-teman memiliki ilmu lebih, mungkin bisa dibagikan lewat komen di bawah ini. Karena 'sampaikanlah ilmu walau satu ayat'.
Wallahu A'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar