Di
kereta. Aku duduk menatap ke luar jendela. Gelap, tak ada yang bisa kulihat.
Tak mengapa, aku lebih suka tak melihat apa-apa, daripada harus menatap makhluk
bernyawa di sekelilingku, manusia. Mereka –kita–, dengan senyum palsunya, demi
menjaga perdamaian dunia. Karena senyum adalah simbol perdamaian, kan? Ya,
mungkin di antara mereka –kita– kadang tersenyum tulus untuk menyapa orang
asing, tak apa, itu bagus. Tapi, lebih banyak kecanggungan yang terjadi ketika
aku yang melakukannya. Jadi, aku lebih memilih tidak menatap mereka, manusia,
sama sekali, jika tidak dibutuhkan.
Perjalanan
baru memakan waktu 2 jam, dan perjalananku terjadwal memakan waktu 11 jam.
Kereta tengah malam memang sangat melegakan, karena itu jam tidur manusia, jadi
tak usah repot-repot membuang pandangan untuk menjaga privasi. tujuanku adalah
sebuah kota di pinggiran pulau ini. Oh bukan juga sih, tujuanku adalah hutan,
dan kereta ini hanya bisa mengantarku sampai di kota itu. Saat fajar tiba, aku
harus turun dari kereta ini dan naik angkot ke terminal, kemudian naik bis
hingga ke desa terpelosok yang bisa dicapai bis itu, lalu naik ojek hingga
tukang ojeknya tidak sanggup, baru aku meneruskan perjalanan berjalan kaki,
memasuki hutan itu.
Sendirian.
Tak mengapa, aku sudah terbiasa. Hm, aku jadi mengingat kapan aku terakhir kali
mengkontak seorang teman, secara personal tentu saja. Karena sosial media tidak
membantu. Kadang aku mempertanyakan kodratku sebagai makhluk sosial. Mungkin
terakhir kali aku punya teman adalah ketika aku bekerja di sebuah toserba.
Teman kerja. Oh iya, aku belum cerita, dulu aku pernah bekerja di sebuah
toserba, sejenis mini market yang sekarang menjamur di berbagai penjuru
Indonesia. Atau mungkin saat kalian membaca kisah ini, mereka sudah buka cabang
di mancanegara, entahlah siapa tau.
Oke,
mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku pergi ke hutan, sendirian. –mungkin
juga tidak, oke teruslah membaca–. Sebenarnya, aku bukan orang yang neko-neko.
Aku ingin mencari hal yang ingin kucari. Oke, itu bukan jawaban yang ingin
kalian dengar kan? Di akhir cerita juga nanti kalian paham. Tapi sebelumnya,
kuceritakan latar belakang dulu.
Tiga
tahun. Aku bekerja di toserba itu. Sekedar untuk mengisi kengangguran setelah
wisuda S1. Sebenarnya untuk menabung juga sebelum melakukan
perjalanan-perjalanan seperti sekarang ini. Cukuplah tiga tahun dengan
rutinitas yang begitu-gitu saja. Seperti mengucapkan ‘selamat datang di
Toserba, selamat belanja’ setiap kali orang berkunjung, cukup lucu untuk
dikenang. Sekarang sudah dua tahun aku berhenti bekerja di toserba itu.
Sekarang aku bekerja mandiri, dengan laboratorium pribadi, dan belum sempat
mempekerjakan orang. Mungkin suatu saat nanti jika perusahaanku ini sudah
semakin besar.
Taukah
kalian bahwa syaraf memori itu paling dekat dengan syaraf penciuman? Aku
tertarik dengan teori ini, sehingga aku mendirikan perusahaan parfum. Dengan
berbekal ilmu akuntansi yang kutempuh 3,5 tahun di bangku kuliah, sebenarnya
tak membantu sedikitpun dalam usaha ini. Sehingga mengharuskanku belajar secara
otodidak. nah, kembali ke teori tadi. Pernahkah kalian tiba-tiba tercium harum
yang pernah tercium sebelumnya, tidak bisa menyebutkan dengan pasti itu harum
apa, tapi sekelebat bayangan masa lalu tiba-tiba muncul? Tidak pernah? Oke. Hal
itu sering terjadi padaku. Dan ternyata setelah melakukan penelitian di
search-engine, teori di atas muncul.
Tapi
tak mungkin kan aku mendirikan perusahaan parfum hanya karena teori di atas?
Sebenarnya iya, aku tertarik untuk mendalaminya setelah kutemui fakta tersebut.
Memberi makan ego lebih tepatnya. Mengingat kembali hal yang sudah terlanjur
terlupa.
Usiaku
28 sekarang, FYI
Pukul
04.34 waktu setempat. Roda kereta berdecit tergesek rel kereta, memaksa gerbong
berantai ini untuk berhenti. Pengeras suara di langit-langit bergema setelah
sekian lama membisu, menyalurkan gelombang suara dari petugas informasi di
belakang miknya.
“Selamat
pagi seluruh penumpang kereta, perjalanan anda kini telah tiba pada akhirnya.
Tolong periksa barang bawaan anda, jangan sampai ada yang tertukar atau
tertinggal di dalam kereta. Terimakasih telah menggunakan jasa PT. Kereta Api
Indonesia. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya...”
Semua
orang beranjak dari bangku masing-masing. Dengan pandangan kosong khas orang
baru bangun dari tidurnya. Sedikit mengucek-ucek mata berharap pandangan
menjadi lebih jelas. Perlahan berjalan menyusuri koridor gerbong menuju pintu
keluar. Suasana stasiun di pagi buta, sangat tidak berarti bagi manusia-manusia
yang rindu tempat tidurnya. Berharap bisa kembali tidur ‘normal’ secepatnya.
Setibanya
aku di pintu keluar stasiun, seorang wanita melintas di jalurku, meninggalkan
seberkas harum yang tanpa sengaja tercium. Ini dia! Ini dia, kawan-kawan, teori
yang kuceritakan tadi. Tanpa sempat menutup mata, sepercik memori muncul di
alam bawah sadarku. Sudah kubilang tadi, kalian tidak mau percaya. Harum ini membawaku kembali ke jaman SMA,
entah siapa yang menghasilkan harum ini dahulu, tapi suasana di dalam kelas
masih jelas terlihat. Bulan puasa. Waktu istirahat pertama, suasana kelas
ramai, kebanyakan menghabiskan waktu istirahat untuk mengobrol, main game, dan
membaca.
Aku tersadar cukup lama sehingga
tak terasa aku mengikuti wanita itu. Segera kupalingkan muka dan bertindak
normal sebelum semua orang mengiraku cabul, mengendus-endus seorang wanita dari
belakang. Oke, lebih baik aku bertanya pada tukang parkir di sana jam berapa
angkot pertama lewat.
“Permisi
mbak, numpang tanya, angkot biasanya pada berangkat jam berapa ya?” sedikit
tidak percaya kalau tukang parkir ini perempuan.
“Oh,
gak ada angkot mas, di sini. Masnya mau kemana e?” memandangiku dari ujung kaki
hingga kepala. Kemudian menghentikan pandangannya, menunggu jawaban.
“Saya
mau ke hutan, mbak.”
“Hahaha,
ngapain mas, ke hutan?” Kemudian dia manggut-manggut, paham dengan outfitku
yang cocok untuk pergi ke hutan.
“Eh...”
garuk-garuk kepala, “Biasanya pake apa dong mbak?” tanyaku mengalihkan
pembicaraan.
“naik
bis kopata mas, nanti di terminal pindah bis yang lebih gede buat pergi ke kota
kecamatannya, terus pindah lagi ke bis kecil lagi buat ke desa deket hutan itu
mas.”
“Wah,
detil amat mbak, asal mbak dari hutan ya?” candaku
“Wahaha,
iya mas,” candanya, “saya yang dari hutan aja rantau ke kota, mas yang dari
kota malah pengen ke hutan.” Lalu dia berjalan menjauh dengan gaya garuk-garuk
kepala ala monyet. Lucu juga mbak tukang parkir ini.
“Oke,
makasih mbak!” ucapku sedikit teriak, dia sudah jauh di sana, merapikan motor-
motor yang diparkir seenaknya. Sial, aku lupa menanyakan jam berapa bis kop,
kop apa tadi?
Tak lama kemudian terdengar suara
knalpot bis yang berat, hwoom.. kira-kira seperti itu bunyinya, langsung aku
berlari ke tepi jalan. Melambaikan tangan, meminta tumpangan. Setelah lumayan
dekat, baru bisa terbaca tulisan di tubuhnya, KOPATA. Ah iya, teringat kata-kata
mbak-mbak kocak tadi, kopata. Setelah yakin dan menanyakan tujuanku dan sopir
mengangguk, aku berangkat.
Cukup lima belas menit untuk
sampai di terminal. Sangat disayangkan, udara sejuk pagi hari harus tercemar
oleh asap bis yang kunaiki. Berharap ada orang jenius di luar sana yang cukup
peduli dengan alam, membuat kendaraan umum bebas polusi. Bisa jadi terinspirasi
dari dokar atau becak. Tak ada yang tak mungkin kan?
Suasana lumayan ramai, kebanyakan
pedagang di pasar yang membawa barang dagangannya. Kusapu pandangan untuk
menentukan kemana kakiku melangkah. Teringat kata mbak tukang parkir: setelah
kopata adalah bis menuju kota kecamatan. Sepertinya indra pendengaran lebih
berfungsi di sini dibandingkan penglihatan. Suara kernet bis bersaut-sautan
–meskipun tidak sekencang di siang hari–. Aku bisa mendengar teriakan ‘kota
kecamatan’ dari arah jam 2, menuju pintu keluar terminal. Ya suara semakin
terdengar jelas. Aku masuk ke bis dengan percaya diri.
Bis ini lebih besar dibanding bis
kop, kop apalah itu tadi. Terisi setengah penuh, sebagian besar pedagang yang
aku katakan tadi. Membuatku berasa seperti alien dengan ‘outfit explorer’ ku.
Yah, mau bagaimana lagi, repot jika harus pakai pakaian biasa dulu baru ganti
baju ketika masuk hutan. Boros energi. Lebih baik ruang dalam ransel dipakai
untuk menyimpan bahan makanan sebanyak-banyaknya. Aku jadi terpikir apakah
makanan yang kubawa sudah cukup untuk hari-hariku di hutan. Mungkin aku harus
menambah persediaan nanti di kota kecamatan. Ngomong-ngomong, aku belum tahu
akan berapa hari aku berada di hutan. Barang yang kucari tidak pasti, hanya
berbekal kata ‘katanya’ dari seseorang yang tidak yakin kukenal.
“Mau kemana, mas?” tanya
bapak-bapak bertopi koboi, membuyarkan pikiran liarku. Tak sadar sudah ada yang
mengisi kursi di sampingku.
“Oh, eh, emm... mau ke hutan,
Pak.” Jawabku, bersiap menerima reaksi bapak itu.
“Nggak biasanya anak muda pergi
ke hutan.” Reaksi yang tidak sangka kudapatkan. Bapak ini tidak tertawa.
“Biasanya anak muda pergi ke gunung, ke pantai. Tapi kalo hutan, apa yang mau
dicari?
“Mau mencari kenangan, Pak,
memori yang hilang.” Aku menghembiskan nafas sebentar.
Bapak itu terlihat kaget dan
sedikit menahan tawa, tapi setelah melihat mukaku yang sungguh-sungguh, ia tak
jadi. Dia ikut menghembiskan nafas sedikit. “Kadang kita harus keluar dari tren
masa kini dan membuat tren sendiri, pergi ke hutan mungkin asik juga.”
Diam beberapa jenak. Aku
memikirkan kata-kata dari bapak itu, kenapa dia memberi tanggapan yang tidak
nyambung? Ah, mungkin dia tidak mau terlalu ikut campur dengan masalah mencari
memori itu. Iya juga, seharusnya aku menceritakan hal yang lebih general kepada
orang yang baru kutemui. Mungkin bisa berbohong sedikit untuk sekedar
mencairkan suasana, misal pergi ke hutan untuk mencari ikan? Mencari kayu
bakar? Cukup masuk akal.
Bis besar
sudah berangkat, ternyata semua kursi sudah terisi. Tak lama kemudian, bis
berhenti sejenak untuk menurunkan penumpang. Dan beberapa orang ada yang naik.
Nah indra penciumanku bekerja lagi, di antara bau bawang yang merebak di bis,
ada satu harum yang sepertinya pernah kucium sebelumnya. Kurasa berasal dari
orang yang baru naik, laki-laki berbaju putih, dia tidak kebagian tempat duduk.
Harum ini membawaku jauh kembali ke masa kanak-kanakkku. Pagi hari, saat aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah, saat itulah
seseorang mengetok pintu rumah. Aku tidak mengenalnya. Dia berbadan tinggi
besar, berkumis tebal. Setelah ibu membuka pintu, ia memberi isyarat kepadaku
untuk segera berangkat sekolah. Mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan.
Walaupun aku mengupingnya, tetap saja aku tidak paham. Segera aku berangkat. Aku
tersadar beberapa saat. Aku tidak pernah ingat momen itu. Terima kasih
bapak-bapak berbaju putih.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar