Malam masih menggantung, karena pagi belum
saatnya. Gelap, sebelum fajar datang pasti selalu gelap. Sunyi, sebelum fajar
datang pasti selalu sunyi. Tak apa, ia suka. Di saat itulah ia bisa lebih
mengerti dunia sekitarnya. Desau angin, aroma pagi, terbebas dari hiruk pikuk
hari.
Ia adalah seorang pemuda yang
sedang mencari pasangan hidupnya, bukan mencari, lebih tepatnya menanti. Dia
percaya dengan pemikiran ‘jodoh tak lari kemana’. Namun, ia tak mengerti konsep
cinta di jaman sekarang ini. Ia juga tak ingin ‘salah pilih’ atau sejenisnya
yang menjadi alasan orang putus nyambung dalam sebuah hubungan. Jika ia rasa
tepat, ia akan bawa ke jenjang yang lebih serius. Tapi, siapa yang tahu bahwa
itu pilihan tepat? Toh ia tidak mengerti konsep cinta yang pasti pudar. Ia
terbelenggu dalam kekhawatiran yang berlebihan.
Hal itu bukan satu-satunya
masalah yang ia hadapi. Imajinasinya mati, pikirannya tak seliar dulu. Fatal
sekali bagi sarjana DKV atau bisa disebut illustrator. Ia punya kantor sendiri
di sebelah apartemen sendiri, belum terlalu besar. Untuk masalah yang ini, teman-temannya
sudah sering menganjurkannya untuk rileks dan pergi rekreasi bebearapa saat.
Tapi menurutnya itu bukan ide bagus, ia sudah berekreasi di dunia dini harinya.
“halo?” ia mengangkat ponselnya
yang beberapa detik sebelumnya berdering.
“Halo, Fajar.” suara yang tak
asing.
“kenapa dini hari?” Fajar
penasaran namun sedikit terganggu.
“Sorry ganggu dini hari lo.
Nenek sakit.” Nita, kakak kandung Fajar menjawab.
“Bukannya udah lama?” Fajar
masih kebingungan, urgency kakaknya menelpon dini hari.
“Iya, baru aja nenek minta lo
dateng buat ngerawat beliau.”
“Kan udah ada mbak Leno yang
ngerawat nenek” (sedikit bocoran, Mbak Leno adalah sepupu Fajar dan Nita).
“Entah, tanya nenek sendiri aja
kalo penasaran.” Jawab Nita dengan nada datar.
Hembusan nafas Fajar menjadi
penutup obrolan via suara tersebut. Tak menunggu fajar tiba, Fajar bergegas
menuju rumah neneknya. Rumah nenek berada di pedesaan, tapi bukan pedalaman.
Jarak dari kota tempat Fajar tinggal dengan desa itu sekitar 3 jam. Desau angin,
aroma pagi masih terasa. Jalanan lengang, hanya satu dua tiga mobil yang
menemaninya beberapa saat. Fisiknya dapat menikmati indahnya pagi, tapi
pikirannya bertanya-tanya.
Garis merah oranye dan ungu
tergambar indah dari frame kaca mobilnya. Sudah setengah perjalanan, kini ia
melewati perkebunan. Satu dua kali ia berpapasan dengan petani yang berangkat
ke kebun. ia sering melewati jalan itu, tapi kali ini berbeda. Pagi memang
waktu yang damai, berlaku di semua tempat di dunia.
Fajar adalah anak bungsu dari
dua bersaudara. Orang tuanya cerai ketika ia SMP. Kepentingan entertainment,
Ibunya musisi, dan ayahnya pejabat. Hubungan klasik orang tv. Tidak ada
pertengkaran dahsyat, orang ketiga, ataupun
tindak pidana dalam kasus perceraian orang tuanya. Rasa penasarannya
tidak besar, ia cukup muak dan memilih terima saja.
Fajar sama sekali tidak tertarik
dengan dunia itu. Lain halnya dengan Nita, ia memiliki kemampuan untuk mengendalikan
massa dan berhadapan dengan orang banyak. Figur seorang bintang sudah ada pada
dirinya. Ia menjadi penerus ibunya menjadi musisi. Menikah dengan entertainer
juga, sudah dikaruniai satu putri.
Garis merah oranye ungu sudah
berubah menjadi garis oranye kuning putih. Fajar menikmati siraman cahaya pagi,
tidak terusik dengan silau. Tanda-tanda kehidupan sudah semakin terlihat. Orang
berangkat ke pasar, anak-anak berangkat sekolah, suasana desa dengan segala
ciri khasnya. Semua baik-baik saja sampai seseorang mulai berteriak dan
memancing orang berdatangan. Kini, Fajar sudah berada tepat di belakang
kerumunan tersebut. Jalan yang dilalui kecil, tak ada celah untuk lewat.
Ternyata sebuah kecelakaan,
terlihat gadis kecil berdarah-darah. Menyatu dengan rok merah SD nya. Dengan sebuah motor yang penyok di beberapa
sisi. Kerumunan mulai menepi, Fajar dapat melewati jalan tersebut dengan rasa
prihatin. Tak tega sebenarnya, tapi neneknya masih menunggu. Entah benar-benar
menunggu atau hanya bualan Nita agar Fajar dapat keluar dari jenuhnya kota.
***
Sekitar pukul tujuh Fajar sampai
di depan rumah neneknya. Terlihat nenek sedang membaca buku ditemani the herbal
di sampingnya. Fajar tak kaget, sesakit
apapun nenek, ia tak mau hanya tiduran di atas tempat tidur. Fajar tersenyum
disambut senyuman nenek. Lalu ia mencium tangan nenek.
“Aha, cucu nenek sudah datang.”
Ucapan nenek dilanjutkan dengan ciuman di kening.
“Gimana kabar nek, udah baikan?”
Fajar mulai percakapan.
“Halah, jangan ditanya. Lihat
kamu kondisi nenek baikan 75%.” Nenek menangkap kebingungan Fajar.
“Nenek bukan sutradara FTV kan?”
pertanyaan aneh dari Fajar.
“Tontonanmu le..” ia menyeruput
tehnya.
“Ya kali aja nenek mau ngenalin
aku gadis desa, terus lari-lari di kebun, terus bahagia hidup selamanya.”
Nenek terkekeh. “Jangan
neko-neko kalo ngomong, nenek Cuma pengen liat kamu.”
Beberapa detik kemudian mbak
Leno datang dengan secangkir teh hangat. “Nih minum dulu, Jar.” Ia menyodorkan
teh hangatnya. “Apa kabar gambar-gambarmu? Terakhir aku lihat di websitemu kok
ndak nambah-nambah?”
Fajar hanya tersenyum karena
masih ada teh di mulutnya. Mbak Leno ini semacam fans karya-karya desain Fajar.
“Lagi gak ada inspirasi, mbak.” Jawabnya setelah menelan teh.
Waktu kecil, ia sering bermain-main di kebun, mengganggu mbak Leno
menyirami bunga-bunga kesayangannya. Ia teringat siraman matahari yang sama ia
rasakan pagi ini. Kini Fajar sudah berdiri, seolah-olah ia dikendalikan oleh
alam bawah sadarnya. Ia turun dari teras menuju jalan, kemudian terus berjalan
ke kiri, ke arah kebun bunga. Jarak kebun bunga cukup jauh dari rumah nenek.
Fajar terus berjalan melewati jalan setapak yang menanjak. Rasa lelah terlihat
dari keringatnya yang mulai menetes, tapi ia tetap berjalan. Hingga sampailah
ia di kebun bunga.
Tapi ia tidak berhenti, ia terus berjalan melewati semak-semak dengan
bunga warna-warni. Dan akhirnya ia menemukan rerumputan yang tidak ditutupi
semak dan bunga. Rasa lelahnya mulai terasa dan dia merebahkan diri di atas
rerumputan, masih disirami sinar matahari.
Putih, hanya putih menyilaukan yang dapat ia tangkap. Menunggu matanya
beradaptasi, hingga warna putih memudar. Namun, belum jelas apa yang ada di pandangannya. Ia
terbangun dari bangku kursi yang keras, di hadapannya terdapat banyak kayu,
sepertinya ia berada di galeri pengrajin kayu. Orang tua dengan rambut gondrong
dan brewok lebat muncul. Kemudian duduk di samping Fajar.
“Dunia terus berputar, dan semakin menua. Kau tak bisa hanya berdiam,
dan membiarkan ragamu menua.” Orang tua tak dikenal itu berbicara seperti
membaca puisi. Entah mengapa otak Fajar tidak mengijinkannya berbicara.
Kemudian orang tua itu berdiri. Dan seperti sudah diskenario, Fajar
mengikutinya keluar dari galeri itu.
“Manusia selalu dibatasi, di atas ada langit, di bawah ada bumi. Tapi
mereka berusaha melewati batas itu. bermula dari khayalan-khayalan kosong,
mimpi-mimpi, hingga penemuan sains teknologi baru. Seperti ada skenario di
balik semua ini.” Orang tua itu terus berbicara, Fajar tetap berjalan di
sampingnya.
“Mimpi adalah mimpi, tapi mimpi dapat mempengaruhi kehidupan nyata.
Mimpi indah bisa membuat kita kecewa, dan mimpi buruk membuat membuat kita
lega. Yang harus kita lakukan hanyalah bangun dari mimpi itu”
Fajar ingin menyangkal itu tapi
seperti ia dikuasai dunia itu. Sembari berjalan, orang tua itu berkata bahwa
sebuah karya itu tidak bisa dipaksakan. Tidak untuk kepentingan finansial.
Butuh kelegaan dalam diri untuk menjadikan sebuah karya sebuah karya menjadi
berarti bagi orang lain membuat orang mengingatnya, bahkan jika kau tak ada
lagi. intinya, orang tua itu hanya mengatakan kata-kata bijak yang sering
muncul di media sosial. Entah itu penting atau tidak, populer atau tidak. Sama sekali
Fajar tidak bisa komentar.
Terus berjalan dengan matahari sore yang menembus kanopi pepohonan. Terdapat
dua bangku dan satu meja di bawah pepohonan di ujung jalan setapak yang mereka
lewati. Mereka menuju tempat itu.
“Kau harus bangun anak muda, Perjalananmu masih panjang.” Kata orang tua
tak dikenal itu sambil menuangkan minuman dari teko ke gelas. Menyodorkan ke
Fajar. “Bersiap-siaplah untuk kecewa atau lega.” Kata orang itu lagi. Fajar
ingin bertanya banyak hal, tapi tanpa ia sadari, tangannya sudah meraih gelas
itu. menuangkan isinya ke mulut. Semua tubuhnya menolak perintah otaknya. Sudah
ia duga, minuman itu terasa aneh dan belum pernah ia rasakan. ia ingin muntah
tapi tidak bisa.
Tiba-tiba semua pepohonan menghilang, orang tua itu juga menghilang
menyisakan ruang putih yang semakin lama semakin menyilaukan. Cairan itu masih
tersisa di kerongkongannya. Sekuat tenaga ia muntahkan cairan itu. dan semua
ruang putih itu kini mulai menampakkan siluet-siluet yang lebih nyata.
Pepohonan, matahari menembus kanopi, sepi, sunyi, ia berada di jok
mobilnya dengan darah di sekitarnya. Kaca
depan mobilnya pecah dengan pohon besar di depannya. Ia mengumpulkan kembali serpihan
nyawa yang tadi sempat hilang. Ia meludah sekali lagi untuk menghilangkan
cairan pahit itu.
Ia ingin menyimpulkan semua yang ia lalui pagi ini, tapi yang ia ingat hanyalah
gadis kecil berangkat sekolah dengan rok merahnya.
Ada lanjutannya? Apa hanya sampai disini?
BalasHapusKalo ada pengen lanjutan yg bagian mana gan?
BalasHapus