Latar belakang kisah ini adalah
di sebuah lereng gunung api di sebuah pulau yang tidak ditinggali seorangpun. Konon
katanya ada makhluk lain yang hidup di daerah tersebut. Itu sebabnya tidak ada
orang yang tinggal disitu, padahal masih terdapat perumahan warga. Profesor
Nata adalah peneliti batuan yang dihasilkan gunung api, ia bersama dengan
rekannya profesor Koko. Mereka berdua bersama tim riset ingin meneliti
aktivitas gunung tersebut dan ingin membuktikan secara ilmiah bahwa tidak ada
makhluk yang disebutkan tadi.
Dimulai dengan
pemberangkatan dari dermaga terdekat. Dengan perahu layar, kru kapal, tim riset
dan kedua profesor tersebut berangkat. Diiringi dengan lambaian tangan dari
mantan penghuni pulau itu. sebenarnya banyak hasil alam yang dapat dimanfaatkan
oleh penduduk. Namun, karena gangguan dari makhluk yang sudah menelan banyak
korban, penduduk memutuskan untuk bermigrasi.
“Makhluk itu
menculik siapapun yang tidak percaya akan keberadaannya.” Seru ibu-ibu waktu
Nata bersosiallisasi dan wawancara kepada warga.
“Bertahun-tahun
kami hidup di sana, makhluk ini sudah ada bahkan semenjak nenek moyang kami belum
menemukan pulau itu.” celetuk yang lain lagi.
“Prof, saya pikir
anda harus membatalkan rencana riset ini.” kata kepala suku dengan tatapan
cemas dan putus asa. “Anda tidak harus membuktikan kepada kami, pulau itu
memang tidak layak untuk kami tinggali.
“Mohon tenang para
hadirin.” Koko berusaha memecah kebisingan. “Kami tetap akan melaksanakan riset
itu. karena dari pihak warga tidak dapat menyajikan rupa dari makhluk ini.”
Sebenarnya dari
pihak warga memang terpecah menjadi dua bagian. Yaitu bagian yang ingin kembali
ke pulau dan mengeksploitasi hasil alam, dan bagian yang tidak ingin termakan
banyak korban lagi. lagipula mereka sudah hidup berkecukupan dan diterima di
kota ini. tapi bagian yang pertama tetap mengikuti suara kepala suku.
“Memang kami tidak
bisa membuktikan bentuk atau jenis apa makhluk ini, karena memang siapapun yang
sudah melihat makhluk ini, pasti tidak akan selamat.” Jelas seorang bapak-bapak
dengan menggebu-gebu.
“Kami sudah
dibiayai oleh pemerintah pusat untuk melakukan riset ini” Nata berusaha
menjelaskan dengan tenang.
“Egois sekali,
mengorbankan orang cerdas untuk eksploitasi hasil alam.” Gumam seseorang.
Angin berhembus di
atas dek kapal. Suara-suara protes dari warga yang tidak berdaya masih
terngiang di kepala Nata. Untuk wanita seumur dia, ia seharusnya sedang di
rumah mengurus anaknya. Tapi ia masih lajang dan mengorbankan masa mudanya
untuk gelar profesornya. Dan sekarang, setelah gelarnya didapat, ia harus
melempar koin kematian dengan berangkatnya ia ke pulau itu.
Berbeda dengan
Nata, Koko tidak terlalu memusingkan perkataan warga . sebenarnya dia berharap bahwa warga yang hilang dapat
ditemukan dengan keadaan hidup. Toh belum ada laporan dari warga bahwa orang
yang hilang ditemukan meninggal. Bisa saja mereka muak dengan peraturan desa
dan membuat desa lagi di sisi lain pulau. Itu sangat mungkin.
“Jadi sebenarnya
ini bukan pekerjaan kita.” Koko memecah lamunan Nata, angin masih berhembus.
“Kenapa pemerintah tidak menyuruh tim penyelamat atau angkatan darat untuk menyelesaikan
kasus ini?”
“Entahlah,
sepertinya mereka juga tidak sanggup untuk menangani kasus ini.” jawab Nata. “Lagipula
banyak laporan dari warga bahwa sebelum hilangnya seseorang terdapat
tanda-tanda alam yang aneh.”
“Oh, tentang banjir
dan asap tebal. Aku pikir itu bencana alam biasa. Hanya warga saja yang
mengkaitkan itu dengan hilangnya orang.” Bantah Koko.
“Hei, lihat! Kau
tau apa itu?” Nata menunjuk awan hitam yang bergerak ke arah kapal mereka.
“Badai, terlalu
cepat, kita tidak akan senggup mengangkat semua layar.”
“SEMUANYA..
BERLINDUNG DI KABIN UTAMAA!!” seru kapten dengan suara seraknya.
Nata dan Koko juga berlari menuju kabin utama.
Awan hitam sudah semakin dekat. Angin mulai berhembus dengan kencang. Membuat
badan kapal terombang ambing. Koko terpaku melihat gunung ombak yang siap
menghantam kapal. Tak ada waktu bagi Nata untuk menarik rekannya tersebut.
Semua begitu cepat. Koko sudah sampai depan pintu ketika air datang dari segala
arah. Tapi ia gagal mencapai kabin. Badan kapal bergoyang hebat.
“KOOO!!” Nata berteriak sekuat tenaga di kabin
kapal. Ia ingin pergi keluar tapi awak kapal menahannya. Terlalu berbahaya.
Beberapa detik kemudian kapal kembali tenang. Aneh sekali, badai berlalu begitu
cepat. Nata mengintip keluar. Langit kembali biru dan angin berhembus seperti
biasa. Ia bergegas keluar kabin. Berharap Koko masih berada di atas kapal.
Tak ada tanda-tanda keberadaan Koko tapi Nata
mendengarnya berteriak. Ia segera menuju arah suara di tepi kapal. Terlihat
Koko terombang-ambing di atas air dan melambaikan tangan. Kru kapal segera
mengirim bantuan. Tapi semua terkaget ketika Nata memekik dengan keras. Ternyata
ia melihat makhluk besar di dalam air mendekat ke arah Koko. Membuat kru kapal
bergerak semakin cepat. Mereka sudah menarik Koko dengan tali. Butuh lebih
banyak tenaga untuk mengangkat Koko sebelum dimangsa makhluk besar itu. Koko
akhirnya dapat naik ke atas kapal. Namun
makhluk itu tetap berusaha ikut naik ke kapal. Ia mengobrak-abrik atas kapal.
Dengan gigi-gigi tajamnya yang menyeringai, membuat semua awak kapal berteriak.
Semua awak kapal bukan seperti kesatria yang ada di dongeng-dongeng. Tapi
kenapa ada makhluk seperti di dongeng-dongeng? Dengan mulutnya yang lebar, ia
berhasil membawa dua orang. Kemudian ia pergi kembali ke laut dengan damai.
“Kita sudah tiga perempat perjalanan. Dan sudah
kehilangan dua orang. Tetap saling menjaga dan ikuti instruksiku!” Kapten
berusaha mengendalikan suasana. Semua kru dan tim riset termasuk Nata dan Koko
masih shock dengan kejadian tersebut. Tapi tak lama kemudian pulau tak
berpenghuni itu sudah terlihat mata. Membuat lega, atau bahkan menambah
adrenalin.
Satu jam kemudian dilalui dengan hening. Kini
mereka sudah sampai di pesisir, bahkan ada dermaga. Sebuah pulau yang sama
sekali tidak mengerikan. Indah, dibalik semua mitos yang beredar. Angin
berhembus sepoi-sepoi dengan pohon kelapa yang melambai.
Semua tim riset turun dari kapal dan
meninggalkan kapten dan kru kapal untuk menjaga dan memperbaiki kapal untuk
kembali, jika mereka bisa kembali. Nata dan Koko memimpin langkah menuju
pemukiman warga di lereng gunung. Gunung api itupun terlihat anggun dari
pantai. Mereka berjalan dengan damai di atas pulau tersebut.
“Pulau yang indah, coba kita di jaman modern,
pasti sudah selfie sana sini.” Celetuk James, memecah keheningan di antara
keringat yang menetes.
“Ko, memangnya kita sekarang di jaman apa?”
Nata berbisik kepada Koko.
“Pra modern.” Celetuk Koko, tetap fokus dengan
jalan yang curam.
“Prof, sebaiknya kita beristirahat dulu
disini,” Kata Steven.
“Oke, semuanya. Kita istirahat lima menit.
Sebentar lagi gelap maka kita harus bergegas.”
-5 menit kemudian-
“Oke, waktu istirahat sudah habis, ayo kita
lanjutkan”
Mereka kembali berjalan di jalan setapak dengan
kanan kiri berupa hutan. Jalanan curam menanjak. Langit kini terlihat semakin
gelap, sementara perkiraan Koko, malam sekitar tiga jam lagi, tepat perkiraan
mereka sampai di pemukiman. Ternyata gelap mendung, lebih gelap dari awan badai
di Laut tadi. Instruksi dari Koko untuk memakai jas hujan, dan tidak diperlukan
membangun tenda. Beberapa saat kemudian mereka sampai di ujung hutan. Di depan
mereka kini ada jurang yang amat lebar dan dalam sampai tak terlihat mata..
Petir mulai menyambar, tapi masih tanpa hujan. Semakin mendekat ke jurang
semakin panas yang terasa.
“Sepertinya ada Lahar di dasar jurang ini.”
Kita harus hati-hati melewati jembatan yang banyak lubang itu.” Koko masih
memimpin pasukan. “Steven, kau duluan”
“Siap!” Steven berhati-hati melewati jembatan
tua itu. langkah demi langkah ia susuri dengan hati-hati. Berikutnya Stacy. Stacy juga sangat
hati-hati, tapi ia terpeleset pada satu papan. Sekarang ia bergantungan di
jembatan itu. semua orang panic. Steven yang sudah hampir di seberang ingin
membantu Stacy. James dan Aldian dengan cepat ingin menyusul dan menyelamatkan
Stacy. Namun mereka berdua malah membuat jembatan berayun semakin kencang.
Stacy kehilangan satu pegangannya. Aldian berhenti dan membiarkan James
menyusul sendiri agar jembatan tidak berayun dengan kencang lagi. James bersiap meraih tangan Stacy tapi Tali
yang menjadi pegangan Stacy tiba-tiba putus. James berhasil meraih Tali itu
dengan tangan kanannya. tapi tangannya berkeringat, ia mengggunakan tangan
kirinya untuk mempererat pegangan. Namun ia sendiri kehilangan pegangan,
akhirnya mereka berdua jatuh bersama ke dalam jurang.
Semua orang berteriak, putus asa. Nata dan Koko
melihat tatapan rekan-rekannya yang putus asa. Tapi mereka harus menyelesaikan
riset ini. dengan duka dan trauma kedua kalinya, mereka hati-hati menyusuri
jembatan itu. mereka menghela nafas panjang saat semua selamat sampai seberang.
Lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Mereka sampai di bekas pemukiman warga.
Rumahnya unik. beratap seperti kubah dan ada cerobong di atasnya. Sudah
berlumut dan banyak tanaman liar yang tumbuh.
Hujan
Turun, tapi airnya aneh. Seperti gel. Menurut mantan warga setempat, itu
tanda-tanda awal bahwa ada orang yang akan diculik.
“Semuanya, Berlindung di rumah warga!” Koko
berteriak. Semua tim riset berpencar memasuki rumah warga. Menunggu dengan
cemas.
“Aaaaaaa!!!” Emely berteriak sekuat tenaga dari
salah satu rumah. Semua kru bergegas menuju rumah itu. mencari tahu apa yang
terjadi. Di sana, di atas lantai rumah yang kotor dan tidak terawat, tergeletak
jasad Stacy.
“Aaaaaaa!!!” Steven berteriak tak kalah dengan
suara Emely. Ternyata di rumah yang lain ditemukan jasad James.
Semua mengecek rumah warga satu-persatu. Dan di
setiap rumah terdapat jasad. Dua kru kapal yang dimakan makhluk di laut juga
ditemukan. Tidak hanya itu, tapi seluruh kru kapal yang mereka tinggalkan di
pesisir pantai juga ada. Bahkan jasad kapten pun ada. Pulau ini benar-benar
misterius. Semua orang yang masih hidup kini putus asa. Seperti menunggu tiba
saatnya.
Nata hanya terpaku melihat semua yang ada di
hadapannya, sepertinya ia juga tak akan berhasil keluar dari pulau itu. ia
hanya bisa terdiam dan menunggu makhluk itu membunuhnya. Sementara Koko masih
berjuang dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
“NATA… KOKO…” Tiba-tiba suara misterius datang.
Mereka yakin itu bukan suara makhluk yang melakukan semua ini. warga tidak
pernah melapor adanya suara-suara yang memanggil. Dengan suara yang semakin
mendekat, makhluk itupun muncul dari balik gunung api. Ia mengaum sekuat
tenaga, melemparkan semua warga yang telah ia culik. Warga-warga itu
berterbangan. Nata dan Koko menghindari serangan itu. Setelah semua warga
terlemparkan, makhluk itu menuju arah datang suara tadi. Masih dengan auman
mengerikan.
“NATA, KOKO..”
“Ko, bagaimana ini?” Nata mulai panik. Kini
pulau dipenuhi dengan jasad-jasad yang tergeletak.
“Jangan khawatir, aku yakin suara itu akan
menolong kita” Jawab Koko penuh keyakinan.
“ASTAGA..” suara misterius itu sudah sampai ke
pulau. Membuat makhluk jahat semakin mengaum. “KAMAR DE KOK JADI KAYAK GINI?
RAPIKAN, TERUS PERGI MANDI!” seru suara itu lagi. Kini makhluk gunung api sudah
berada di tangan Mother Earth.
Cast:
Profesor Nata :
Nata (7)
Profesor Koko :
Koko (8)
Makhluk besar di laut : Kucing
Makhluk di gunung api : De (2)
Mother Earth :
Ibu
Warga : Sepertiga mainan Nata &
Koko
Kru Kapal :
Sepertiga mainan Nata & Koko
Tim riset :
Sepertiga mainan Nata & Koko
Setting
Rumah warga :
Botol kosong tanpa tutup
Kapal :
Kursi
Laut :
Lantai ruang tamu
Kota :
Meja ruang tamu
Pulau :
Kamar De
Jurang Lahar :
Lantai kamar De
Gunung api :
Gunungan bantal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar