Sabtu, 02 Mei 2015

Cahaya Fajar

                Malam masih menggantung, karena pagi belum saatnya. Gelap, sebelum fajar datang pasti selalu gelap. Sunyi, sebelum fajar datang pasti selalu sunyi. Tak apa, ia suka. Di saat itulah ia bisa lebih mengerti dunia sekitarnya. Desau angin, aroma pagi, terbebas dari hiruk pikuk hari.
                Ia adalah seorang pemuda yang sedang mencari pasangan hidupnya, bukan mencari, lebih tepatnya menanti. Dia percaya dengan pemikiran ‘jodoh tak lari kemana’. Namun, ia tak mengerti konsep cinta di jaman sekarang ini. Ia juga tak ingin ‘salah pilih’ atau sejenisnya yang menjadi alasan orang putus nyambung dalam sebuah hubungan. Jika ia rasa tepat, ia akan bawa ke jenjang yang lebih serius. Tapi, siapa yang tahu bahwa itu pilihan tepat? Toh ia tidak mengerti konsep cinta yang pasti pudar. Ia terbelenggu dalam kekhawatiran yang berlebihan.
                Hal itu bukan satu-satunya masalah yang ia hadapi. Imajinasinya mati, pikirannya tak seliar dulu. Fatal sekali bagi sarjana DKV atau bisa disebut illustrator. Ia punya kantor sendiri di sebelah apartemen sendiri, belum terlalu besar. Untuk masalah yang ini, teman-temannya sudah sering menganjurkannya untuk rileks dan pergi rekreasi bebearapa saat. Tapi menurutnya itu bukan ide bagus, ia sudah berekreasi di dunia dini harinya.
                “halo?” ia mengangkat ponselnya yang beberapa detik sebelumnya berdering.
                “Halo, Fajar.” suara yang tak asing.
                “kenapa dini hari?” Fajar penasaran namun sedikit terganggu.
                “Sorry ganggu dini hari lo. Nenek sakit.” Nita, kakak kandung Fajar menjawab.
                “Bukannya udah lama?” Fajar masih kebingungan, urgency kakaknya menelpon dini hari.
                “Iya, baru aja nenek minta lo dateng buat ngerawat beliau.”
                “Kan udah ada mbak Leno yang ngerawat nenek” (sedikit bocoran, Mbak Leno adalah sepupu Fajar dan Nita).
                “Entah, tanya nenek sendiri aja kalo penasaran.” Jawab Nita dengan nada datar.
                Hembusan nafas Fajar menjadi penutup obrolan via suara tersebut. Tak menunggu fajar tiba, Fajar bergegas menuju rumah neneknya. Rumah nenek berada di pedesaan, tapi bukan pedalaman. Jarak dari kota tempat Fajar tinggal dengan desa itu sekitar 3 jam. Desau angin, aroma pagi masih terasa. Jalanan lengang, hanya satu dua tiga mobil yang menemaninya beberapa saat. Fisiknya dapat menikmati indahnya pagi, tapi pikirannya bertanya-tanya.
                Garis merah oranye dan ungu tergambar indah dari frame kaca mobilnya. Sudah setengah perjalanan, kini ia melewati perkebunan. Satu dua kali ia berpapasan dengan petani yang berangkat ke kebun. ia sering melewati jalan itu, tapi kali ini berbeda. Pagi memang waktu yang damai, berlaku di semua tempat di dunia.
                Fajar adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Orang tuanya cerai ketika ia SMP. Kepentingan entertainment, Ibunya musisi, dan ayahnya pejabat. Hubungan klasik orang tv. Tidak ada pertengkaran dahsyat, orang ketiga, ataupun  tindak pidana dalam kasus perceraian orang tuanya. Rasa penasarannya tidak besar, ia cukup muak dan memilih terima saja.
 Fajar sama sekali tidak tertarik dengan dunia itu. Lain halnya dengan Nita, ia memiliki kemampuan untuk mengendalikan massa dan berhadapan dengan orang banyak. Figur seorang bintang sudah ada pada dirinya. Ia menjadi penerus ibunya menjadi musisi. Menikah dengan entertainer juga, sudah dikaruniai satu putri.
                Garis merah oranye ungu sudah berubah menjadi garis oranye kuning putih. Fajar menikmati siraman cahaya pagi, tidak terusik dengan silau. Tanda-tanda kehidupan sudah semakin terlihat. Orang berangkat ke pasar, anak-anak berangkat sekolah, suasana desa dengan segala ciri khasnya. Semua baik-baik saja sampai seseorang mulai berteriak dan memancing orang berdatangan. Kini, Fajar sudah berada tepat di belakang kerumunan tersebut. Jalan yang dilalui kecil, tak ada celah untuk lewat.
                Ternyata sebuah kecelakaan, terlihat gadis kecil berdarah-darah. Menyatu dengan rok merah SD nya.  Dengan sebuah motor yang penyok di beberapa sisi. Kerumunan mulai menepi, Fajar dapat melewati jalan tersebut dengan rasa prihatin. Tak tega sebenarnya, tapi neneknya masih menunggu. Entah benar-benar menunggu atau hanya bualan Nita agar Fajar dapat keluar dari jenuhnya kota.
***

                Sekitar pukul tujuh Fajar sampai di depan rumah neneknya. Terlihat nenek sedang membaca buku ditemani the herbal di sampingnya.  Fajar tak kaget, sesakit apapun nenek, ia tak mau hanya tiduran di atas tempat tidur. Fajar tersenyum disambut senyuman nenek. Lalu ia mencium tangan nenek.
                “Aha, cucu nenek sudah datang.” Ucapan nenek dilanjutkan dengan ciuman di kening.
                “Gimana kabar nek, udah baikan?” Fajar mulai percakapan.
                “Halah, jangan ditanya. Lihat kamu kondisi nenek baikan 75%.” Nenek menangkap kebingungan Fajar.
                “Nenek bukan sutradara FTV kan?” pertanyaan aneh dari Fajar.
                “Tontonanmu le..” ia menyeruput tehnya.
                “Ya kali aja nenek mau ngenalin aku gadis desa, terus lari-lari di kebun, terus bahagia hidup selamanya.”
                Nenek terkekeh. “Jangan neko-neko kalo ngomong, nenek Cuma pengen liat kamu.”
                Beberapa detik kemudian mbak Leno datang dengan secangkir teh hangat. “Nih minum dulu, Jar.” Ia menyodorkan teh hangatnya. “Apa kabar gambar-gambarmu? Terakhir aku lihat di websitemu kok ndak nambah-nambah?”
                Fajar hanya tersenyum karena masih ada teh di mulutnya. Mbak Leno ini semacam fans karya-karya desain Fajar. “Lagi gak ada inspirasi, mbak.” Jawabnya setelah menelan teh.
Waktu kecil, ia sering bermain-main di kebun, mengganggu mbak Leno menyirami bunga-bunga kesayangannya. Ia teringat siraman matahari yang sama ia rasakan pagi ini. Kini Fajar sudah berdiri, seolah-olah ia dikendalikan oleh alam bawah sadarnya. Ia turun dari teras menuju jalan, kemudian terus berjalan ke kiri, ke arah kebun bunga. Jarak kebun bunga cukup jauh dari rumah nenek. Fajar terus berjalan melewati jalan setapak yang menanjak. Rasa lelah terlihat dari keringatnya yang mulai menetes, tapi ia tetap berjalan. Hingga sampailah ia di kebun bunga.
Tapi ia tidak berhenti, ia terus berjalan melewati semak-semak dengan bunga warna-warni. Dan akhirnya ia menemukan rerumputan yang tidak ditutupi semak dan bunga. Rasa lelahnya mulai terasa dan dia merebahkan diri di atas rerumputan, masih disirami sinar matahari.

Putih, hanya putih menyilaukan yang dapat ia tangkap. Menunggu matanya beradaptasi, hingga warna putih memudar. Namun, belum  jelas apa yang ada di pandangannya. Ia terbangun dari bangku kursi yang keras, di hadapannya terdapat banyak kayu, sepertinya ia berada di galeri pengrajin kayu. Orang tua dengan rambut gondrong dan brewok lebat muncul. Kemudian duduk di samping Fajar.
“Dunia terus berputar, dan semakin menua. Kau tak bisa hanya berdiam, dan membiarkan ragamu menua.” Orang tua tak dikenal itu berbicara seperti membaca puisi. Entah mengapa otak Fajar tidak mengijinkannya berbicara. Kemudian orang tua itu berdiri. Dan seperti sudah diskenario, Fajar mengikutinya keluar dari galeri itu.
“Manusia selalu dibatasi, di atas ada langit, di bawah ada bumi. Tapi mereka berusaha melewati batas itu. bermula dari khayalan-khayalan kosong, mimpi-mimpi, hingga penemuan sains teknologi baru. Seperti ada skenario di balik semua ini.” Orang tua itu terus berbicara, Fajar tetap berjalan di sampingnya.
“Mimpi adalah mimpi, tapi mimpi dapat mempengaruhi kehidupan nyata. Mimpi indah bisa membuat kita kecewa, dan mimpi buruk membuat membuat kita lega. Yang harus kita lakukan hanyalah bangun dari mimpi itu”
 Fajar ingin menyangkal itu tapi seperti ia dikuasai dunia itu. Sembari berjalan, orang tua itu berkata bahwa sebuah karya itu tidak bisa dipaksakan. Tidak untuk kepentingan finansial. Butuh kelegaan dalam diri untuk menjadikan sebuah karya sebuah karya menjadi berarti bagi orang lain membuat orang mengingatnya, bahkan jika kau tak ada lagi. intinya, orang tua itu hanya mengatakan kata-kata bijak yang sering muncul di media sosial. Entah itu penting atau tidak, populer atau tidak. Sama sekali Fajar tidak bisa komentar.
Terus berjalan dengan matahari sore yang menembus kanopi pepohonan. Terdapat dua bangku dan satu meja di bawah pepohonan di ujung jalan setapak yang mereka lewati. Mereka menuju tempat itu.
“Kau harus bangun anak muda, Perjalananmu masih panjang.” Kata orang tua tak dikenal itu sambil menuangkan minuman dari teko ke gelas. Menyodorkan ke Fajar. “Bersiap-siaplah untuk kecewa atau lega.” Kata orang itu lagi. Fajar ingin bertanya banyak hal, tapi tanpa ia sadari, tangannya sudah meraih gelas itu. menuangkan isinya ke mulut. Semua tubuhnya menolak perintah otaknya. Sudah ia duga, minuman itu terasa aneh dan belum pernah ia rasakan. ia ingin muntah tapi tidak bisa.
Tiba-tiba semua pepohonan menghilang, orang tua itu juga menghilang menyisakan ruang putih yang semakin lama semakin menyilaukan. Cairan itu masih tersisa di kerongkongannya. Sekuat tenaga ia muntahkan cairan itu. dan semua ruang putih itu kini mulai menampakkan siluet-siluet yang lebih nyata.
Pepohonan, matahari menembus kanopi, sepi, sunyi, ia berada di jok mobilnya dengan   darah di sekitarnya. Kaca depan mobilnya pecah dengan pohon besar di depannya. Ia mengumpulkan kembali serpihan nyawa yang tadi sempat hilang. Ia meludah sekali lagi untuk menghilangkan cairan pahit itu.

Ia ingin menyimpulkan semua yang ia lalui pagi ini, tapi yang ia ingat hanyalah gadis kecil berangkat sekolah dengan rok merahnya.


2 komentar: